• 7 April 2020

Legenda Durian "Si Gundul"

uploads/news/2019/12/legenda-durian-si-gundul--4846804ad4836aa.jpg
SHARE SOSMED

Kulit buah durian biasanya selalu tumbuh dengan durinya, tapi durian yang satu ini justru gundul.

JAKARTA - Pada awal 2007, warga di Dusun Trenggaluh, Desa Batu Mekar, Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), digegerkan dengan temuan aneh yaitu buah unik tanpa tangkai dan lebih mirip batu besar atau buah dari zaman purba. Awalnya, warga setempat mengira sukun, tapi ada di pohon durian.

“Namun, tangkai sepanjang kira-kira 10 sentimeter mirip benar dengan tangkai durian. Benar saja, saat buah dibelah, terlihat pongge-pongge durian berbentuk besar-besar. Dagingnya kuning. Waktu dicicipi rasanya gulih, legit, dan kering, meski barus setengah matang. Rasanya enak. Sayang, bijinya besar hingga terlihat mengintip dari balik daging yang lembut tanpa serat,” begitulah bunyi keterangan resmi Taman Buah Mekarsari.

Buah tersebut ukurannya sebesar melon dengan bobot 800-900 gram. Selain itu, saat buah matang akan mengeluarkan aroma khas durian. Karena tanpa duri, kulit buah menjadi lebih tipis sehingga mudah dibelah meski hanya menggunakan tangan. Menurut penduduk setempat, tanaman tersebut baru dua kali berbuah. Pada musim pertama tak ada yang berani memakan buahnya karena sosoknya yang aneh dan dianggap beracun.

“Pada musim kedua, anak si pengelola ladang yang memiliki pohon durian gunul, melihat buah habis dimakan monyet liar. Barulah buah dikonsumsi dan punya nama durian baturaja,” lanjut keterangan tersebut.

Baca juga: Manisnya Kelapa Kopyor Kultur Jaringan

Temuan itu pun membuat berbagai pihak berbondong-bondong datang ke kebun tersebut. Pohon itu terlihat tertimpa dadap (randu), persis membelah pohon durian dengan ketinggian 12 meter lebih. Buahnya juga lebat, beberapa ada yang berduri, namun sebagian besar gundul.

Setelah melakukan pengamatan selama empat bulan, tim observasi membuat deskripsi varietas. Pada 22 April 2018, secara resmi Kementerian Pertanian mengeluarkan surat keputusan 440/Kpts/SR.120/4/2008 tentang deskripsi durian “Si Gundul”.

Menurut Staf Ahli Botani di Taman Buah Mekarsari Gregori Garnadi Hambali, penampilan tanpa duri dan tanpa sekat merupakan sifat resesif. Diduga, gen yang mengandung kromosom pengatur sifat duri rusak. Mutasi tersebut bisa terjadi pada biji, tunas yang baru muncul, atau pada saat pembungaan.

“Peluang kejadian mutasi 1:1 juta. Pada kasus tanpa duri, kemungkinan lain itu merupakan persilangan alami antar jenis duri sangat pendek dengan jenis duri sangat pendek. Hal ini menghasilkan durian tanpa duri atau durian gundul,” sebutnya.

Untuk penelitan lebih lanjut, Taman Buah Mekarsari, Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPSBTPH) NTB, dan Dinas Pertanian Lombok Barat memperbanyak bibit tanaman secara vegetatif dengan cara menyambung entres pada 2009-2010.

“Diharapkan 10 tahun ke depan, pohon-pohon keturunannya mulai berbuah. Dari sana, bakal ditemukan variasi-variasi yang lebih bagus atau lebih jelek,” lanjutnya.

Baca juga: Mengenal "Bunga dari Surga"

Saat ini, tanaman durian gundul di Taman Buah Mekarsari hanya tersisa tiga pohon. Bibit yang ditanam merupakan bibit hasil grafting yang cabangnya dibawa dari Lombok, NTB. Tanaman dengan tinggi empat meter dengan percabangan yang jarang ini, sudah ditanam sejak 2011. Hingga saat ini, Taman Buah Mekarsari masih mengupayakan agar tanaman durian gundul dapat berbuah di luar habitat asli durian ini tumbuh, yaitu di bawah kaki Gunung Rinjani. Bibit tanaman tersedia juga karena kurangnya material bahan tanaman untuk diperbanyak secara vegetatif.

Sulit Dikembangbiakkan

Setelah Si Gundul ditemukan, beberapa pihak mencoba untuk membudidayakan tanaman tersebut. Salah satunya Kepala Sub Bagian Tata Usaha Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPSBTPH) Dinas Pertanian Nusa Tenggara Barat, Maisin. Menurut dirinya, untuk mengembangkan tanaman ini sangat sulit dan mengaku jika dari puluhan tanaman pohon durian Si Gundul yang ia tanam, hanya satu yang baru berbuah. Itu pun ia harus menunggu 12 tahun lamanya.

Alhamdulillah, saya lega. Tidak dibilang hoax lagi,” katanya belum lama ini.

Maisin juga terlihat sangat sayang terhadap tanamannya, untuk itu ia tidak memperbolehkan siapa pun untuk memegang buah durian, apalagi memanjat. Maisin, tidak ingin buah durian yang ditanamnya sejak 2007 itu stres dan berakhir gagal panen. Ia ingin melihat kembali daging durian yang terakhir kali ia lihat pada awal Februari 2007. Maisin sendiri merupakan salah satu anggota tim observasi durian tak berduri itu.

Kebetulan pada 2007, Dinas Pertanian NTB dan Dinas Pertanian dan Peternakan Lombok Barat, memperbanyak durian gundul dengan teknik okulasi. Untuk batang bawah dipilih dari jenis durian yang kuat dan lebih tahan penyakit. Saat itu, ada sekitar 50 batang okulasi dan dari PT Unggul Mekarsari (Taman Buah Mekarsari) juga membawa bahan untuk penyambungan. Dinas Pertanian NTB berharap, durian Si Gundul bisa berkembangbiak di tempat lain, termasuk menanam di pekarangan rumah dan kebun warga.

“Beberapa yang disebar dulu itu saya belum dapat laporan ada yang berbuah. Empat tahun lalu ada yang berbunga, tapi gugur semua saat kena hujan,” kata Maisin.

Baca juga: Demi Mencegah Kebakaran Hutan

Setiap tahun, saat musim durian, Maisin memantau pohon yang ditanam di belakang kantornya. Ibarat anak kesayangan, tanaman itu dirawat baik. Sejak Si Gundul diperkenalkan, banyak yang bertanya. Kalau ada kunjungan pejabat dari pusat, selalu menanyakan durian Si Gundul. Tapi, tak semuanya mendapat jawaban memuaskan, mereka tidak pernah melihat buah durian itu, apalagi Maisin juga tidak memiliki banyak dokumentasi.

Ketika pertama kali durian Si Gundul berbunga, Maisin senang luar biasa, ia mengabarkan ke tim observasi. Maisin khawatir, takut bunga itu rontok dan beberapa bunga tampak akan berhasil jadi buah. Hati Maisin berbunga-bunga, buah durian itu benar-benar gundul, memiliki warna kulit kecoklatan dan semuanya gundul. Walau ada duri, tapi hanya sedikit dan bisa dihitung dengan jari.

Sayang, ketika hujuan seluruh buah durian itu rontok, harapan Maisin pupus seketika. Hingga musim durian 2019, Maisin kembali melihat salah satu pohon berbunga. Ketika hujan turun, sebagian bunga rontok dan Maisin makin cemas. Tapi kecemasannya berkurang, ketika sebagian bunga itu jadi buah dan membesar. Jelas ketika itu ia melihat Si Gundul telah lahir kembali.

“Buah yang jadi sekarang ini sekitar 2% dari bunganya,” ujarnya.

Masih Menjadi Misteri

Satu-satunya pohon yang berbuah saat ini memiliki ketinggian sekitar 6,5 meter. Maisin mengamati, kegagalan bunga menjadi buah dikarenakan terlalu jauhnya letak antara jantan dan betina bunga itu dibanding durian varietas lain. Kondisi inilah yang mempersulit penyatuan dan menyebabkan bunga gagal menjadi buah.

Maisin mengaku, ia pernah mencoba pakai perantara lebah. Ketika itu, di sekitar pohon durian Si Gundul, ia pernah memelihara lebah trigona. Harapannya, lebah itu dapat membantu proses penyerbukan. Percobaan itu gagal, tapi ada keinginan untuk mencoba cara lain, namun Maisin tidak ingin mengambil risiko.

“Mungkin nanti para ahli, para pemulia tanaman yang bisa menemukan cara agar penyatuan jantan dan betina ini bisa berhasil,” ujarnya.

Selain posisi jantan dan betina yang jauh, kulit Si Gundul juga tipis dibanding durian lainnya. Ketika buah makin besar, kulitnya juga makin tipis dan menyebabkan Si Gundul mudah pecah. Kondisi ini, katanya, memengaruhi kesehatan buah dan beberapa durian yang sudah jadi mulai rontok.

Durian Si Gundul masih menjadi misteri. Setelah dahulu sempat panen pada pohon indukan pertama, Maisin belum pernah mendengar lagi ada pohon yang berbuah. Beberapa pohon yang dikembangbiakan warga juga belum ada laporan munculnya Si Gundul. Kalaupun ada, pasti akan menjadi viral. Karena itu, ia pun selalu memasang kuping dengan tajam.

Beberapa peneliti juga pernah datang ke kantornya untuk meneliti Si Gundul. Sayangnya, ketika para peneliti itu datang saat musim durian, tak ada satu pun buah yang muncul untuk dijadikan sampel penelitian. Karena itulah, saat ada buah yang rontok, ia selalu menyimpan sebagai contoh.

“Kalau ada peneliti datang bisa meneliti. Harapan kami agar bisa diketahui kenapa durian ini bisa gundul,” tuturnya.

Baca juga: Kala Bunga Naga Bermekaran

Guru Besar Fakultas Pertanian, Universitas Mataram, Muhammad Sarjan, juga mengaku masih penasaran dengan Si Gundul. Bahkan, ia juga menanam hasil okulasi di kebunnya. Jika nantinya pohon itu berbuah, ia ingin sekali menelitinya. Sayangnya, pohon yang ia tanam sejak empat tahun silam tak kunjung berbunga.

Namun, Sarjan tidak dapat menduga penyebab durian itu gundul. Saat penemuan pohon indukan, hanya satu batang yang berbuah gundul. Menurutnya, jika penyebab gundul ditemukan, pemerintah dapat mengambil kebijakan, baik untuk mengembangbiakan atau hanya mempertahankan yang ada saat ini.

“Kalau sifat gundul ini karena genetis, kita akan produksi secara massal secara kultur jaringan. Jika karena penyimpangan akan percuma,” pungkasnya.

Comment

Related News

Jagad Tani App Download

Free Sign & Download, Android App