• 9 Agustus 2020

Petani Kopi Lahat Gagal Panen

uploads/news/2019/11/petani-kopi-lahat-gagal-2359479b7eb1e25.jpg
SHARE SOSMED

Tanaman kopi yang ditanam dengan metode stek gagal panen karena musim kemarau panjang.
LAHAT - Petani kopi yang berada di perbatasan Kota Pagaralam - Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan, harus gigit jari. Pasalnya, tanaman kopi yang mereka tanam dengan metode stek gagal panen. Hal tersebut dikarenakan musim kemarau panjang yang melanda hampir di seluruh wilayah Sumsel.

"Petani yang memakai model stekokulasi tak bisa panen, karena buahnya tidak berisi," kata Syawal, petani kopi asal Kecamatan Muara Payang, Kabupaten Lahat, Selasa (19/11) kemarin.

Baca juga: Tinggalkan Pupuk Kimia Demi Kopi

Ternyata, diakui Syawal, hampir seluruh petani bernasib sama. Bukan hanya karena tidak bisa panen, melainkan harga kopi juga sedang murah.

"Untuk harga jual per kilo-nya Rp18.000, harga itu termasuk rendah," katanya.

Kembali lagi masalah gagal panen, Syawal mengungkapkan, seharusnya dia sudah melakukan panen pada Oktober lalu. Tapi, karena minimnya hujan membuat jadwal panen mundur satu bulan.

"Setelah mau panen, hasil tanaman kopi saat dipetik buahnya tidak berisi atau tidak ada biji kopinya," ungkapnya.

Baca juga: Panggung Kopi Lahat di Lampung

Syawal pun menduga, tidak ada biji kopi di pohon kopi miliknya karena tidak ada pasokan air. Hal itu terjadi lantaran wilayahnya masih dilanda kemarau.

"Kalau pun hujan, baru beberapa hari terjadi. Tapi itu tidak bisa membantu menyuburkan tanaman kopi," katanya.

Padahal, di bulan Oktober pada tahun sebelumnya, dia bersama petani lainnya selalu disibukkan dengan memanen kopi hasil stek di lahan masing-masing.

"Kali ini gagal, kalau pada November ini hujan mulai turun, diperkirakan pada pertengahan tahun nanti bisa panen perdana di tahun 2020," katanya.

Baca juga: Semerbak Kopi Rasa Buah

Di kebun kopi miliknya dengan lahan seluas empat hektare, dampak dari musim kemarau sangat terasa. Banyak tanaman kopi yang lamban tumbuh serta banyak yang mati.

"Beruntung, kebun kopi para petani di sini berada di pegunungan. Jadi, masih bisa bertahan hidup," jelasnya lagi.

Senada dengan Syawal, David juga mengaku gagal panen karena musim kemarau yang terlalu panjang.

"Gagal panen karena kondisi daun kopi tidak segar, banyak terkena sinar matahari," kata dia.

Baca juga: Mengenal Lebih Dekat Kopi Merapi

Bukan itu saja, dampak dari kemarau membuat pohon kopi jadi tidak bagus. Ditambah, penyebab pohon kopi memburuk karena dampak angin kencang yang merobohkan pohon pelindung.

"Karena angin kencang, pohon yang harusnya melindungi tanaman kopi tumbang. Jadi, paparan sinar matahari membuat pohon kopi mati," tutupnya. (SM)

 

Baca juga: Geliat Kopi Napu Di Jawa

Baca juga: Video: Harta Karun dari Papua

Comment

Related News

Jagad Tani App Download

Free Sign & Download, Android App