• 28 September 2021

Satwa Liar, Kunci Keberhasilan Pembangunan

uploads/news/2021/05/satwa-liar-kunci-keberhasilan-44475e6dc23f1b4.jpg
SHARE SOSMED

"Terjaganya satwa-satwa dalam habitatnya menjadi ukuran keberhasilan pembangunan di Indonesia, ini yang kita jaga"

JAKARTA – Saat ini meningkatnya populasi penduduk telah menghasilkan pertempuran antara manusia dan hewan yang tinggal di tanah yang sama. Ribuan satwa semakin terhimpit habitat yang semakin menyempit. Tak hanya itu, jalur migrasi mereka pun tertutup dan persediaan makanan mereka kian terancam. Belum cukup sampai disitu, perburuan liar dan ilegal ikut menambahkan derita yang kian mereka rasakan.

Padahal, menurut Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya, keberadaan satwa liar misalnya seperti orangutan sangat penting sebagai indikator keberhasilan pembangunan di Indonesia.

Baca juga: Kera dan Monyet itu Berbeda

"Terjaganya satwa-satwa dalam habitatnya menjadi ukuran keberhasilan pembangunan di Indonesia, ini yang kita jaga," kata Siti, mengutip dari Antara.

Siti bersama Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Wiratno, mendatangi Kantor Kepolisian Resor Lampung Selatan dalam rangka memberikan apresiasi kepada tim aparat gabungan yang berhasil menggagalkan penyelundupan dua anak orangutan di Bakaheuni pada 26 April lalu.

“Orangutan merupakan salah satu mamalia besar di dunia selain gajah, badak dan harimau yang hidup di Indonesia, ditambah komodo dan anoa. Kita menyebutnya sebagai Flagship Species. Pada dasarnya terdapat 25 spesies prioritas yang kita perhatikan, termasuk bagaimana caranya agar populasinya di alam dapat kita tingkatkan," ungkap Siti.

Baca juga: Hewan-Hewan Paling Bersih di Dunia

Siti menjelaskan, perlu adanya penentuan wilayah untuk rehabilitasi orangutan sebelum dilepas ke habitat aslinya. Terdapat dua pusat rehabilitasi orangutan sumatera yaitu di provinsi Sumatera Utara dan Jambi.

Wiratno menambahkan, orangutan sebenarnya adalah satwa yang dapat merehabilitasi hutan, jangkauan jelajah orangutan adalah seluas lima kilometer persegi (km2). Sepanjang jelajahnya tersebut, orangutan memakan buah-buahan dan biji yang dibuangnya dapat menumbuhkan pohon baru.

"Orangutan itu satwa kebanggaan kita. Kejahatan perdagangan satwa liar sangat memprihatinkan. Kita akan terus menguatkan kerja sama dengan kepolisian dan pihak-pihak lain untuk memberantas kejahatan luar biasa ini," tambah Wiratno.

Baca juga: Kuntul, Burung yang Sebrangi Benua

Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal KSDAE, selama periode Maret-April tahun 2021, telah terdapat setidaknya empat kasus terkait perdagangan dan kepemilikan ilegal satwa orangutan. Dalam kurun waktu dua bulan tersebut, telah dilakukan penyelamatan terhadap enam individu orangutan yang usianya berkisar 1-4 tahun (anakan).

Dengan memahami bahwa satwa liar harus tetap berada pada habitatnya, maka masyarakat tidak akan dengan mudah mencari, menangkap atau membunuh satwa liar. Dengan begitu, masyarakat juga tidak mudah tergiur tawaran sejumlah uang untuk menangkap satwa yang dilindungi.

Baca juga: Gajah, Hewan Perasa yang Cerdas

Related News

Jagad Tani - Petaninya Milenial App Download

Free Sign & Download, Android App