• 28 September 2021

Menguak Fenomena Cabai di Pasar

uploads/news/2020/08/menguak-fenomena-cabai-di-39611aa21401018.jpg
SHARE SOSMED

Jadi jika produksi sama-sama turun, maka bisa dipastikan harga cabai besar lebih tinggi dibandingkan cabai keriting.”

JAKARTA - Cabai sudah menjadi komoditas pokok masyarakat Indonesia.

Jika harganya tidak stabil, maka tidak sedikit masyarakat yang akan mengalami dampaknya.

Seperti bisnis rumah makan, konsumsi rumah tangga, industri saos, dan sebagainya.

Baca juga: Semangat Petani Cabai Pinggir Ciliwung

Dosen Institut Pertanian Bogor (IPB) University dari Fakultas Pertanian, Prof. Dr. Muhammad Syukur, yang terkenal dengan inovasi cabai pelangi, mengatakan, fenomena pergeseran harga cabai merah akibat perubahan kondisi permintaan dan penawaran.

Cabai 60-67% dikonsumsi dalam keadaan segar.

Jadi, harga sangat ditentukan ketersediaan produk di tingkat petani, karena permintaan relatif konstan.

Jika produksi di tingkat petani kurang dari permintaan, maka dipastikan harga akan naik.
Beberapa waktu terakhir ini, di beberapa daerah, harga di tingkat petani di bawah harga keekonomian.

Hal itu karena suplai sedang cukup banyak sedangkan permintaan tetap, ditambah distribusi yang sulit, terutama ke luar pulau Jawa.

Perlu diketahui, 50% produksi cabai berada di Pulau Jawa.

Saat ini, ada fenomena harga cabai yang bergeser.

Menurutnya, dahulu cabai keriting merah dikenal mahal, tapi sekarang cabai merah besar yang lebih mahal.

Ini karena, pada umumnya harga cabai keriting lebih mahal dibandingkan dengan cabai besar karena produktivitasnya lebih rendah.

Namun pada bulan-bulan tertentu, harga cabai besar bisa lebih mahal dibandingkan cabai keriting.

Karena, selain digunakan untuk konsumsi segar, cabai merah besar juga digunakan untuk industri saos.

Jadi jika produksi sama-sama turun, maka bisa dipastikan harga cabai besar lebih tinggi dibandingkan cabai keriting,” jelasnya.

Prof. Syukur menyebut, kunci utama menekan fluktuasi harga cabai yaitu dengan manajemen produksi.

Bagaimana mengatur agar permintaan dan penawaran seimbang di setiap bulan di setiap provinsi.

Baca juga: Tersengat Pedas Cabai Hitam

Permintaan cabai relatif tetap setiap bulannya. Berarti tinggal mengatur produksi baik waktu maupun lokasi. Waktu tanam dan waktu panen harus dihitung dengan cermat, sesuai dengan permintaan, dan tentu sesuai dengan agroklimat,” jelasnya.

Jika musim hujan maka jumlah yang ditanam harus lebih banyak karena biasanya produktivitas akan turun hingga 30%. Selain itu, sebaran lokasi penanaman juga harus diperhatikan. Lokasi penanaman di luar Jawa harus diperluas agar tidak terkonsentrasi di Jawa saja,” pungkasnya.

Related News

Jagad Tani - Petaninya Milenial App Download

Free Sign & Download, Android App