• 28 September 2021

Semangat Petani Cabai Pinggir Ciliwung

SHARE SOSMED

“Kalau dihitung-hitung lagi, ini tidak akan masuk rasio. Jadi petani harus berpikir bagaimana caranya agar bisa mempertahankan ketahanan pangan dari melihat potensi jenis tanaman lain yang akan tren nantinya,”

JAKARTA - Masa pandemi COVID-19 telah meresahkan masyarakat.

Sampai saat ini, perekonomian Indonesia masih mengalami penurunan.

Namun, yang menjadi sorotan yaitu sektor pertanian yang semakin meningkat dibanding sektor lainnya.

Baca juga: Strategi Menyejahterakan Petani Cabai Indonesia

Hal ini tentu menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Indonesia, khususnya para petani yang mampu bertahan untuk meningkatkan ketahanan pangan.

Mulai dari berbagai jenis tanaman, hingga hewan kini mengalami peningkatan produktivitas.

Peningkatan produktivitas tersebut juga yang kini dialami Andi Andiya, petani di bantaran Kali Ciliwung, RT.01/RW.01, Kelurahan Petamburan, Kecamatan Tanah Abang, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta.

Ia berhasil memanfaatkan, sekaligus menyulap lahan yang dikelilingi sampah menjadi kebun cantik dengan beragam jenis tanaman.

Di sini tanamannya banyak variannya, kalau dari hortikultura kan di-rolling jadi tidak cabai-cabai terus. Habis cabai bisa terong, kacang panjang, pepaya. Kalau tanaman hiasnya, ada anggur dibedakan jenisnya saja ada lohansung, bonsai pemula dan lain-lain,” katanya kepada tim Jagadtani.id di kebunnya, belum lama ini.

Salah satu yang ia tanam yaitu cabai rawit.

Jenis tanaman buah ini masih menjadi bumbu dapur favorit yang wajib ada dalam masakan.

Saat tidak menggunakannya, masakan tersebut mungkin akan terasa hambar dan tidak lengkap.

Bahkan hanya dengan menyiapkan sepiring nasi dengan lauk telur ceplok, ditambah sambal pun sudah terasa sedap di lidah.

Cabai rawit (Capsicum frutescens), merupakan tanaman yang berasal dari benua Amerika dan mudah untuk dibudidayakan, serta tahan oleh serangan hama.

Selain terkenal karena pedasnya yang menggugah selera, ia juga memiliki kandungan vitamin C lebih banyak dari jeruk.

Namun, cabai rawit milik Andi sendiri tidak cukup untuk menutup kebutuhan pangan sehari-hari.

Di pasaran harga cabai rawit dijual Rp20.000 per kilogram, yang nantinya jumlah itu masih akan dipotong lagi dan hasilnya akan dibagi dengan kelompok tani yang telah membantu memelihara kebun miliknya.

Kalau dihitung-hitung lagi, ini tidak akan masuk rasio. Jadi petani harus berpikir bagaimana caranya agar bisa mempertahankan ketahanan pangan dari melihat potensi jenis tanaman lain yang akan tren nantinya,” ucapnya.

Seperti manusia, cabai rawit juga akan terserang penyakit jika cuaca turun bergantian tak menentu.

Baca juga: Tersengat Pedas Cabai Hitam

Andi juga menambahkan, cabai yang busuk terjadi karena adanya cuaca panas dan hujan yang bergantian secara terus menerus.

Selain itu, lanjutnya, sebagai petani juga memerlukan adanya strategi dalam meningkatkan produktivitas lahan yang dikelola.

Hal itu dimaksudkan agar tetap bertahan dan terus memberikan hasil yang dapat menyejahterakan lingkungan.

Related News

Jagad Tani - Petaninya Milenial App Download

Free Sign & Download, Android App