• 7 Agustus 2020

Metamorfosis Lalat di Pinggiran Bogor

SHARE SOSMED

Dibalik keberadaan lalat, ternyata larva lalat atau magot bisa digunakan sebagai protein alternatif bahan baku pakan ternak.

BOGOR - Banyak yang menilai lalat merupakan serangga pembawa bibit penyakit. Hal itu disebabkan karena lalat suka hinggap di tempat kotor kemudian menghinggapi makanan. Secara otomatis makanan tersebut telah terkontaminasi oleh kotoran yang dibawa lalat. Selain itu, lalat terdiri dari banyak jenis seperti lalat rumah (Musca domestica), lalat hijau (Calliphora vomitoria), lalat pasir (Spiriverpa Lunulata), lalat buah (Drosophila species), lalat limbah (Psychodidae), lalat daging (Sarcophagidae), lalat kuda (Family tabanidae), hingga lalat hitam atau black soldier fly (BSF) yang bernama latin Hermetia illucens.

Sedangkan lalat sendiri berawal dari telur lalat yang menetas, kemudian tumbuh memasuki tahap larva, berkembang menjadi pupa, selanjutnya pupa berubah menjadi lalat dewasa yang kemudian kawin dan menghasilkan lalat generasi yang baru dengan siklus sama yang akan berulang kembali. Salah satu yang membudidayakan lalat black soldier fly (BSF) dengan memanfaatkan larva atau magot untuk protein alternatif bahan baku pakan ternak yaitu PT. Magalrva Sayana Indonesia (Magalarva) yang berlokasi di Desa Pabuaran, Kecamatan Gunung Sindur, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat.

“Pertama pasti telurnya dulu kita pilih lalu disimpan di dalam gelas yang sudah ditutup, selama sehari didiamkan supaya dia jadi bibit, kita di sini semua alami tidak perlu perawatan khusus,” ujar Abu (48), salah satu karyawan PT. Magalarva kepada JagadTani.id belum lama ini.

Baca juga: Menanam Srikaya dengan Teknik Tabulampot

Setelah melalui tahap akhir menjadi larva, fase selanjutnya yaitu menjadi pupa. Lalat akan mencari tempat berlindung untuk bertapa dan menjalani fase pupa. Tempat tempat yang biasa dipilih olehnya biasanya tempat yang gelap dan terhindar dari sinar matahari langsung.

“Di sini semua tertutup dan kita mencoba selalu lebih higienis seperti di dalam ruangan ini. Karena dia (lalat) sebenarnya enggak bisa kalau terlalu panas,” tambahnya.

Baca juga: Asyiknya Beternak Bebek Petelur

Tubuh larva yang tadinya lembek perlahan pada fase ini akan menjadi keras dan berwarna coklat. Struktur tubuhnya pun berubah seperti kokon. Larva akan menjalani fase pupa selama kurang lebih tujuh hari atau satu minggu. Pada fase pupa inilah tubuh terus mengalami perkembangan dan perubahan bentuk. Pada hari ketiga sampai hari ke enam, pupa akan mulai terbentuk sayap.

“Nah, terakhir setelah jadi pupa ia lalu jadi lalat dewasa atau besar yang biasanya disebut imago,” tutupnya.

Comment

Related News

Jagad Tani App Download

Free Sign & Download, Android App