• 9 Agustus 2020

Manisnya Omzet Madu Sialang

uploads/news/2020/07/manisnya-omzet-madu-sialang-76741d2090dea6d.jpg
SHARE SOSMED

Usaha madu lebih menjanjikan, prospeknya luar biasa.”

MUSI BANYUASIN - Menjadi peternak madu hutan menjadi jalan Danang Satriyadi.

Dirinya juga ingin mengenalkan madu khas Musi Banyuasin yaitu madu hutan sialang di penjuru nusantara.

Bahkan, Danang memilih untuk mengundurkan diri dari perusahaan perkebunan dan fokus mengembangkan bisnis madunya.

Baca juga: Cegah Covid-19 dengan Madu Hijau

"Usaha madu lebih menjanjikan, prospeknya luar biasa," katanya.

Madu sialang sendiri berasal dari pohon sialang yang tumbuh subur di wilayah bayat, Kecamatan Bayung Lencir, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan.

Madu yang dipanen dari pohon sialang yang memiliki ketinggian 40 meter ini, dihasilkan dari lebah madu raksasa (Apis dorsata) yang bersarang di tengah hutan saja.

Saat ini, menurutnya ada 80 pohon sialang yang siap menghasilkan sarang madu.

Namun, baru enam pohon sialang yang produksi saat ini.

"Tahun 2019 saya panen 9.800 kilogram madu, dengan hitungan masa panennya itu sekitar delapan bulan. Kalau dihitung setiap bulannya bisa panen 2.000 kilogram dan meraih omzet sekitar Rp100.000.000," katanya.

Bahkan, pada Juni 2020 dirinya pernah panen sebanyak 1,4 ton madu dalam satu pohon yang memiliki 150 sarang madu.

Panen tersebut merupakan rekor selama ia memulai bisnis madu pada 2018 lalu.

"Satu pohon bisa 150 sarang madu, kadang juga satu pohon itu cuma menghasilkan beberapa kilogram saja," terangnya.

Ia tak sendiri dalam menjalankan bisnis madu, tak jarang pemilik pohon sialang juga diajak bekerja sama untuk beternak madu.

Pohon sialang di Hutan Bayung Lencir Muba ini terdiri dari pohon beringin, raja, dan kedondong.

Usia-usia pohon tersebut juga di atas ratusan tahun.

Saat panen tiba, seorang pemanjat akan mengambil sarang madu yang menempel di pucuk pohon.

Setelah panen, sarang madu diiris dan membutuhkan waktu sampai tiga hari, agar madu keluar untuk ditampung dalam botol yang siap dijual.

"Sarang madu tidak diperas karena akan kotor, jadi didiamkan beberapa hari agar madu menetes sendiri lalu disaring dan dimasukkan ke dalam kemasan botol, sarangnya juga bisa dijual untuk bahan baku lilin, pomade, lipstik," katanya.

Untuk satu botol madu isi 500 gram, ia hargai Rp142.000.

Dirinya mengaku, kendala sejauh ini dalam budidaya madu yaitu faktor banyaknya beruang yang merusak sarang madu.

"Karena pohon di hutan pastinya ada hewan liar seperti beruang, jadi kita harus berbagi dengan beruang saat panen tiba," ungkapnya.

Ia juga bercerita kenapa mau memilih ternak madu.

Menurutnya saat bekerja di perusahaan di Papua pada 2017, ia pernah mengalami penyakit bisul dan diabetes.

Komplikasi penyakit itu pun hampir membuat nyawanya hilang.

Ternyata, obat yang bisa menyembuhkan kedua penyakit itu madu sialang yang dibawa adiknya dari Jambi.

"Setelah rutin diminum dan dioleskan pada bisul akhirnya sembuh, di situ juga terlintas benak saya untuk ikhtiar beternak madu," kenangnya.

Baca juga: Kisah “Profesor Lebah” Lulusan SD

Saat ini, ia bertekad untuk membumikan madu sialang di Sumsel.

Sebab, menurutnya, masyarakat Sumsel masih mengkonsumsi madu asal Malang.

Bahkan, untuk ekspor ke luar negeri ia juga akan meminta bantuan pemerintah membantu terutama dalam bantuan alat pemanasan menghilangkan bakteri, serta alat pengurang kadar air.

"Madu ini memiliki oksidasi tinggi jadi kalau terlalu panas bisa meledak di kemasannya, harga alat itu lumayan mahal," tutupnya.

 

Comment

Related News

Jagad Tani App Download

Free Sign & Download, Android App