• 12 Juli 2020

Mengenal Keunikan Gurita Kelapa

uploads/news/2020/05/mengenal-keunikan-gurita-kelapa-6735563ddbf8370.jpg
SHARE SOSMED

Perilaku kompleks termasuk menggunakan perangkat tertentu, umumnya dilakukan oleh vertebrata atau bertulang belakang dengan inteligensi lebih tinggi seperti manusia, kera, dan beberapa jenis burung.”

JAKARTA - Sahabat Tani pasti pernah mendengar gurita yang bisa memprediksi pertandingan di Piala Eropa 2008 dan Piala Dunia 2010.

Ya, namanya Paul, saat itu ia beberapa kali berhasil menebak hasil pertandingan.

Terlepas dari keajaibannya, gurita memang memiliki tingkat inteligensi yang tinggi, dibanding hewan laut lainnya.

Baca juga: Candiru, Ikan Berbahaya dari Amazon

Kepintarannya ini tercermin dari keunikan tingkah lakunya, seperti gurita kelapa.

Gurita yang biasa dikenal oleh para penyelam sebagai coconut octopus atau bernama latin Amphioctopus marginatus, merupakan salah satu spesies gurita yang sangat unik.

Baik itu dari tingkah lakunya, maupun rumah tempat tinggalnya.

Gurita ini banyak ditemukan di perairan tropis, termasuk di perairan nusantara.

Besar tubuhnya hanya sekitar 8 sentimeter, dengan panjang tentakel sekitar 15 sentimeter.

Kebiasaannya berjalan dengan tentakelnya atau disebut dengan bipedal, bukan berenang seperti kebanyakan spesies gurita lainnya, merupakan salah satu keunikan dari tingkah lakunya.

Selain berjalan, gurita kelapa juga mempunyai keunikan dalam memilih tempat tinggal.

Sesuai namanya, gurita kelapa sering menggunakan batok-batok kelapa yang tenggelam di dalam laut dan cangkang kerang sebagai rumahnya.

Ahli biologi dari Museum Victoria di Melbourne, Australia, Julian Finn, mengaku takjub dengan perilaku gurita Amphioctopus marginatus ini, karena tidak umum dilakukan oleh invertebrata.

“Perilaku kompleks termasuk menggunakan perangkat tertentu, umumnya dilakukan oleh vertebrata atau bertulang belakang dengan inteligensi lebih tinggi seperti manusia, kera, dan beberapa jenis burung,” katanya seperti melansir Mongabay, belum lama ini.

Tidak jarang, gurita kelapa ini kerap ditemukan bersembunyi di dalam pasir dan hanya menyisakan matanya di luar, untuk mengawasi sekelilingnya.

Ini dilakukan, apabila ia tidak menemukan batok kelapa atau cangkang kerang yang biasa digunakan untuk tempat tinggalnya.

Julian mengatakan, hal tersebut ia teliti setelah melakukan penyelaman di Sulawesi Utara dan Bali periode 1998-2008 silam.

Temuan itu juga telah diterbitkan di majalah Current Biology pada 2009.

Para peneliti kelautan berasumsi, gurita ini dulunya memang pernah hidup bercangkang.

Namun, Julian mengatakan, gurita kelapa menggunakan batok kelapa sebagai cara perlindungan yang lebih baik.

Gurita kelapa juga dikenal sebagai gurita yang sangat melindungi teritori atau wilayahnya.

Apabila dia sudah merasa cocok dengan rumah yang ditemukannya, maka ia akan mempertahankannya mati-matian.

Rumah tinggalnya itu digunakan untuk pertahanannya dari para predator atau serangan gurita lainnya.

Selain ukuran dan tingkah lakunya yang unik, gurita kelapa juga mudah dikenali karena siphon-nya berwarna kuning, berbeda dengan gurita kebanyakan yang siphon-nya berwarna putih.

Keberadaannya Terancam

Namun, saat ini keberadaan gurita kelapa terancam akibat tercemarnya laut akibat sampah yang mengendap di dalam lautan.

Seperti yang ditemukan oleh Paul Sigurdsson, yang belum lama ini menyisir Laut Lembeh di Sulawesi Utara.

Melansir Suara, ia mendapati penemuan unik di dasar laut, di kawasan timur Indonesia tersebut.

Saat Paul menyelam di titik kedalaman sekitar 20 meter di dasar laut, ia bersama tim ekspedisinya menemukan seekor gurita kelapa.

Nahas, gurita yang terkenal memiliki insting kuat itu ditemukan berlindung di balik gelas plastik.

Menurut Paul, gurita tersebut tidak dapat membedakan sampah plastik dengan tempat berlindung yang seharusnya, seperti kelapa maupun kerang.

Keberadaan sampah plastik di dasar laut ini sekaligus membuktikan, betapa mengerikannya sampah daratan yang mencemari ekosistem laut.

Sebab, bota laut seperti gurita yang membutuhkan cangkang alami, terancam keberadaannya, akibat terkontaminasi plastik.

Baca juga: Sapu-sapu, Sang Pembersih Kolam

Ketika gurita salah mengira plastik sebagai tempatnya berlindung, ia terancam dimangsa hewan laut lainnya.

Hal ini dikhawatirkan akan membuat rantai makanan di laut bergerak secara tidak sehat.

Karena itu, gurita kelapa serta hewan laut berukuran kecil lainnya juga terancam punah.

Comment

Related News

Jagad Tani App Download

Free Sign & Download, Android App