• 30 Maret 2020

Menetaskan Ayam Cemani dengan Teknologi

SHARE SOSMED

Kenapa saya beralih dari manual ke mesin karena semakin ke sini permintaan semakin banyak. Jadi kalau kita masih secara alami, kita akan keteteran dengan permintaan. Makanya, saya berpikir bagaimana supaya perkembangbiakannya lebih pesat.”

TANGERANG - Semakin berkembangnya teknologi, membuat para peternak ayam berlomba-lomba mencari solusi untuk meningkatkan produktivitas ayam, salah satunya dengan pengelolaan secara modern. Pengelolaan modern yang dimaksud yaitu dengan cara meningkatkan produktivitas dalam menghasilkan produk yang sesuai dengan kebutuhan dan permintaan dari konsumen. Seperti halnya dengan Jumadi, pemilik Idum Farm yang memelihara ayam cemani, ia menciptakan mesin penetas telurnya sendiri pada 2016 silam.

“Kenapa saya beralih dari manual ke mesin karena semakin ke sini permintaan semakin banyak. Jadi kalau kita masih secara alami, kita akan keteteran dengan permintaan. Makanya, saya berpikir bagaimana supaya perkembangbiakannya lebih pesat,” ucap Jumadi saat ditemui di Idum Farm yang berada di Desa Gelam Jaya, Kecamatan Pasar Kemis, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten, kepada tim JagadTani.id belum lama ini.

Baca juga: Peluang Emas Ternak Ayam Kalkun

Jumadi mengungkapkan, ia membuat mesin penetas dengan bahan-bahan yang mudah untuk ditemukan.

“Jadi bahan-bahannya bisa dari triplek, aluminium, intinya di roller ini kan untuk membalikkan telur-telurnya. Kalau manual harus dibalik sendiri. Roller-nya pun enggak mesti aluminium, pakai kayu juga bisa. Kalau dierami sama ayam langsung, telur-telur ini pasti dibalik-balikan,” ujarnya.

Laki-laki berumur 34 tahun ini juga menambahkan, dengan menggunakan mesin penetas buatannya ini, tingkat menetas telur jauh lebih cepat dan tingkat keberhasilan menetasnya telur sekitar 95%. Namun, untuk ayam cemani, suhu panas mesinnya pun juga perlu diperhatikan.

“Kalau untuk (ayam) cemani, suhu netasnya itu di suhu 37,8 derajat celsius. Kalau ketinggian dia enggak netas. Saya sudah beberapa kali uji coba, dan pasnya itu di angka 37,8 derajat celsius. Antara 37,7 kalau enggak 37,8. Waktu itu pernah coba juga suhu di angka 38 itu banyak yang mati juga. Banyak yang enggak menetas. Karena apa? Cemani kan sudah hitam, kalau kepanasan, nanti panasnya itu menyerap ke dalam. Makanya saya temui seperti ini itu idenya enggak cukup sekali. Berkali-kali gagal. Sampai akhirnya ketemu lah di suhu itu,” jelasnya.

Baca juga: Beternak Ayam Besar Kalkun

Jumadi juga mengaku, pembeli ayam di tempatnya pun tak hanya membeli sepasang ayam untuk diternakkan, namun juga lengkap dengan mesin penetas telur hasil buatannya sehingga tak sedikit pembeli yang juga memesan mesin penetas telur buatannya.

“Mesinnya juga banyak yang jadi pesanan. Biasanya kalau ada orang beli ayam, terus bertanya ‘kalau beli mesin penetas di mana?’ Ya Alhamdulillah bisa saya sarankan dan saya kerjakan sendiri. Merakit sendiri. Harganya tergantung ukuran. Kalau ukuran 30 harganya bisa antara Rp1 juta, kalau ukuran 50 harganya kurang lebih bisa sampai Rp1,5 juta. Kalau ukuran 100 itu sekitar Rp1,8 juta,” tutupnya.

Comment

Related News

Jagad Tani App Download

Free Sign & Download, Android App