• 30 Maret 2020

Kebangkitan Cokelat Emas Ransiki

uploads/news/2020/02/kebangkitan-cokelat-emas-ransiki-756931e7be02a2c.jpg
SHARE SOSMED

“Dari cokelat ransiki, yang kami temukan rasa umami. Umami itu bisa terasa di seluruh reseptor lidah. Langsung gurih. Rasanya creamy tanpa ditambahkan susu. Jadi, seakan-akan ada susunya.”

Cokelat ibarat napas kehidupan bagi warga Desa Abreso, Distrik Ransiki, Kabupaten Manokwari Selatan, Provinsi Papua Barat. Namun, napas itu sempat berhenti selama beberapa tahun, sebelum akhirnya kembali bernapas. Cokelat yang diproduksi di Ransiki sebenarnya sudah ada sejak zaman kolonial Belanda. Namun, baru pada era 1980-an, perusahaan bernama PT Cokelat Ransiki menggarap serius lahan yang ada sebagai pusat pelatihan cokelat bagi warga Papua dan Papua Barat.

Namun pada 2006, perusahaan yang menjadi tempat warga bergantung hidup itu dinyatakan pailit. Masyarakat yang tinggal di buffer zone Pegunungan Arfak seakan kehilangan pegangan. Walau masih mengandalkan perkebunan kakao, masyarakat harus berusaha keras untuk menjual komoditas andalan tersebut. Pada 16 November 2017, Pemerintah Kabupaten Manokwari Selatan merintis Kopeasi Petani Cokran Eiber Suth demi membangkitkan kembali kejayaan kakao ransiki. Misi tersebut sesuai dengan arti nama koperasi, yaitu bersatu untuk bangkit (unity to arise).

“Kakao selama ditinggalkan perusahaan sejak 2006, masyarakat petik sendiri dan jual sendiri. Setelah pemekaran, kabupaten terbentuk, pemda baru bentuk koperasi,” kata Tissa Aunila, pemilik Pipiltin Cocoa, produsen lokal yang tertarik memasarkan cokelat ransiki, seperti mengutip Liputan6.com belum lama ini.

Baca juga: Ironi Wangi Minyak Atsiri

Setelah koperasi terbentuk, masa depan Ransiki mulai kembali cerah, bersama Yayasan Inisiatif Dagang Hijau (YDIH), mereka mengusahakan cokelat yang ramah lingkungan. Artinya, tidak ada pestisida buatan mengingat di sekitar kawasan tersebut merupakan buffer zone Pegunungan Arfak. Koperasi biasanya membeli sekitar 45 ton biji kakao dari petani setiap bulannya. Harganya kini sekitar Rp23.000 per kilogram. Oleh koperasi, biji kakao itu kemudian difermentasi dan dijual kepada produsen kakao olahan yang berminat.

Menurut Tissa Aunila, cita rasa cokelat ransiki berbeda dengan cokelat dari Aceh yang lebih asam dan pahit seperti citarasa kopi gayo. Cokelat ransiki memiliki rasa yang unik, hingga membuat penikmat cokelat ketagihan. Walau kandungan cokelat-nya terbilang tinggi, hingga 72%, namun cokelat tersebut tidak terlalu pahit.

“Dari cokelat ransiki, yang kami temukan rasa umami. Umami itu bisa terasa di seluruh reseptor lidah. Langsung gurih. Rasanya creamy tanpa ditambahkan susu. Jadi, seakan-akan ada susunya,” ujarnya.

Di tangan Tissa, cokelat ransiki dijual dalam bentuk cokelat batangan. Tissa menyebut, 10% profit yang didapat akan diserahkan kepada koperasi sebagai modal pengembangan. Untuk itu, kemasan cokelat pun didesain sedemikian rupa dengan memasukkan sentuhan burung vogelkop, burung endemik yang dikenal karena pejantannya memiliki bulu berwarna biru. Warna biru tersebut berguna untuk merayu betina untuk kawin.

“Kita tertarik untuk memasarkan cokelat ransiki karena pemda komitmen untuk menjaga 72% daerah itu tetap sebagai hutan,” sambungnya.

Tissa juga menyebut, pihaknya hanya membuka jalan agar cokelat ransiki lebih banyak peminat. Apalagi, cokelat ransiki masih bisa memenuhi banyak produsen.

“Kami punya requirement harus fully fermented. Tapi banyak produsen cokelat, terutama yang mass produce, enggak terlalu memedulikan fermentasi. Mereka bisa memenuhi pasar itu juga,” sebutnya.

Di sisi lain, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Provinsi Papua Barat, Charlie D. Heatbun menegaskan, usaha perkebunan cokelat ransiki harus dipertahankan. Pasalnya keberadaan mereka bisa menjaga kelestarian hutan di Pegunungan Arfak. Apalagi, tanah subur di Manokwari Selatan membuat kakao ransiki bisa berkembang tanpa dipupuk. Selain itu, kesuburan tanah juga bergantung pada kualitas hutan.

“Kalau hutan rusak, sumber air berkurang. Rasa cokelat jadi tidak enak. Ujung-ujungnya masyarakat yang rugi dan mereka sudah sadar soal ini,” tuturnya.

Ekspor ke Eropa

Bangkitnya kakao ransiki juga ditandai dengan diekspornya biji kakao ke wilayah Eropa pada awal Januari tepatnya Kamis (9/1). Ketika itu Gubernur Papua Barat, Dominggus Mandacan, secara simbolis melepas pengiriman enam ton biji kakao di Pelabuhaan Manokwari. Kakao kualitas premium itu dikirim ke Amsterdam, Belanda melalui Surabaya, Jawa Timur.

Ketua Koperasi Ebier Suth Cokran Ransiki, Yusuf Kawey mengungkapkan, setidaknya sudah 12 tahun mereka tidak memproduksi kembali kakao di Ransiki, Kabupaten Manokwari Selatan. Sebelum vakum cukup lama, produksi kakao yang terkenal dengan nama ‘Cokelat Ransiki’ itu pernah diekspor ke Prancis.

“Kami bekerja sama secara resmi dengan investor. Masa kontrak pertama ini berlangsung selama satu tahun,” katanya seperti mengutip dari ANTARA, belum lama ini.

Baca juga: Menanti Bangkitnya Sang Raja Rempah

Saat ini, lanjut Yusuf, sudah tersedia lahan kakao seluas 225 hektare untuk mencukupi kebutuhan ekspor. Walau demikian, masih terdapat 600 hingga 900 hektare yang seharusnya dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan produksi. Untuk itu, Gubernur Dominggus pun mengutarakan komitmen dari Pemerintah Provinsi Papua Barat untuk meningkatkan produktivitas petani kakao di Manokwari Selatan. Menurutnya, penambahan anggaran melalui anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) perubahan juga sangat memungkinkan untuk dilakukan, jika produktivitas petani di daerah tersebut baik.

“Melalui APBD 2020, pemprov sudah menyiapkan anggaran untuk penanaman kakao seluas 100 hektare. Kita juga mendapat bantuan dari APBN untuk penanaman 100 hektare juga,” pungkasnya.

Permintaan Meningkat

Permintaan ekspor biji kakao pun terus meningkat, hal itu diungkapkan Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan, Provinsi Papua Barat, Jacob Fonataba yang menyebut, jika mereka saat ini baru melakukan pengiriman ke Inggris dan Belanda sebanyak 6 ton per bulan.

“Baru satu pembeli, tapi saat ini sudah ada lagi permintaan dari pembeli lain di Belanda. Maka sekarang produktivitas koperasi dan petani di Ransiki, Manokwari Selatan, sedang kita genjot,” katanya.

Menurutnya, kakao Ransiki memiliki kualitas premium sebagai bahan baku terbaik untuk produk cokelat. Pelaku industri di wilayah Eropa juga sudah mulai mengenal kualitas kakao dari Ransiki tersebut.

“Saya rasa ini adalah peluang, maka kita berharap petani dan koperasi kita siap. Dalam berbisnis kontinuitas produksi dan kualitas harus tetap dijaga,” tuturnya.

Baca juga: Manisnya Edamame Indonesia

Dari sisi ketersediaan lahan, Jacob juga optimis Manokwari Selatan sangat mampu mencukupi permintaan pasar. Pihaknya pun akan terus melakukan pendampingan agar kualitas kakao Ransiki terus terjaga.

“Tanamannya sudah ada dan sudah berbuah, tapi kan sudah lama tidak diurus secara baik, sehingga produksinya tidak maksimal. Perkebunan kakao di sana itu merupakan bekas lahan yang dulu dikelola oleh PT Coklat Ransiki,” jelasnya.

Tahun ini, Pemprov Papua Barat melalui APBD induk juga telah menyiapkan anggaran untuk peremajaan tanaman kakao seluas 100 hektare di Ransiki. Hal serupa juga akan dilakukan Kementerian Pertanian.

“Bapak Gubernur melihat peluang pasar yang cukup besar untuk kakao ransiki. Kalau produksinya konsisten dan terus meningkat, Gubernur tidak ragu-ragu untuk menggelontorkan anggaran lagi pada APBD perubahan,” pungkasnya.

Comment

Related News

Jagad Tani App Download

Free Sign & Download, Android App