• 26 October 2021

Budidaya Kutu Air, Penyelamat Ekonomi

SHARE SOSMED

“Dengan memberikan kutu air pada ikan maka akan terbentuk warna asli ikan tersebut, menaikkan pigmen warna ikan, dan juga bisa digunakan untuk anak ikan yang berumur dua minggu”

Memelihara ikan kini menjadi salah satu kegiatan yang banyak dilakukan sebagai sebuah hobi. Apalagi di masa pandemi Covid-19 yang banyak menghabiskan waktu hanya dari rumah saja. Aktivitas memelihara ikan ini bukan hal baru, melainkan sudah ada sejak zaman dahulu, dimana banyak sekali berbagai macam jenis ikan yang ada dengan seiring berjalannya waktu menjadi primadona bagi masyarakat.

Salah satu hobi yang saat ini banyak digemari masyarakat adalah memelihara ikan hias. Dalam proses pemeliharaan ikan hias, kebutuhan pakan menjadi hal yang sangat penting bagi proses pertumbuhan ikan dan kesehatan ikan tersebut, agar terhindar dari berbagai macam penyakit.

Baca juga: Peluang Besar Budidaya Ikan Gabus

Untuk itu, Hari Ultari, juru masak yang dirumahkan dari tempat pekerjaannya kini beralih profesi sebagai pembudidaya kutu air. Selain karena dampak pandemi yang dialaminya, alasan Hari membudidayakan kutu air karena kutu air menjadi salah satu pakan yang banyak dicari oleh para penghobi ikan hias.

“Efek Covid-19 yang sekarang dirumahin jadinya harus muter otak lagi untuk cari penghasilan, nah diliat kutu air lagi dibutuhin banget nih sama orang-orang yang suka ikan cupang, dari situ saya beraniin buat mulai budidaya kutu air sedikit sedikit” ucap Hari saat diwawancarai Jagadtani.Id.

Baca juga: Melejit Kerang Hijau ke Dubai

Lebih lanjut, pria asal Palmerah ini mengatakan, kutu air merupakan salah satu bentuk pakan yang memiliki nilai nutrisi tinggi bagi ikan, sehingga dengan memberikan kutu air pada ikan maka akan terbentuk warna asli ikan tersebut. Selain itu, pakan kutu air dapat menaikkan pigmen warna ikan dan bisa digunakan untuk anak ikan yang berumur dua minggu. 

Untuk membudidayakan kutu air juga tidak sulit. Kata Hari, modal yang dibutuhkan pun cukup tejangkau. Dengan bermodal lima gelas kutu air dicampur dengan kotoran hewan (kohe) yaitu kotoran burung puyuh, sahabat tani sudah bisa mendapatkan hasil panen dalam lima hari.

“Biasanya menebar bibit kutu air atau kutir itu enam gelas untuk satu empang ukuran 4x5. Lalu dicampurkan kotoran burung atau biasa disebut kohe sebanyak empat karung untuk makanan kutir itu sendiri. Sekali nebar bibit udah dikasih sekalian untuk pakannya selama lima hari, dan dalam lima hari juga kita udah bisa panen bisa sampai 50 sampai 70 gelas,” tutupnya.

Baca juga: Perbedaan Lele Bioflok dengan Konvensional

Related News