• 31 July 2021

Semangat Petani Kopi Cianjur

SHARE SOSMED

“Kopi tidak bisa berdiri hanya menjadi tanaman kopi saja, karena kopi butuh tanaman naungan..”

Cianjur – Saat mendengar kata kopi, sahabat tani akan identik dengan kenikmatan aromanya, penyajian yang elegant dan ramah lingkungan. Mulai dari kalangan anak remaja sampai lansia yang masih menjadi penikmat kopi.

Dilihat dari segi berbisnis, kopi juga memiliki nilai ekonomis yang menguntungkan. Selain diminum, kopi juga berguna untuk tubuh manusia dengan kandungan antioksidan, vitamin, kalium dan sebagainya. Jenisnya pun beragam mulai dari Arabica, Robusta, Liberika dan sebagainya. Untuk varian yang mendunia ialah kopi Arabika.

Baca juga: Surga Kopi Arabika di Cianjur

Menilik perkopian di Indonesia yang semakin mendunia, pemerintah pun berupaya mendorong petani kopi di seluruh Indonesia. Terlebih, kopi hasil tanaman Idonesia termasuk ke dalam pemasok kopi terbaik di seluruh dunia.

Ahmad Solihin sebagai salah satu petani kopi di daerah Cianjur. Meski usianya yang tua namun jiwa petani mudanya masih dimiliki hingga sekarang. “Kopi tidak bisa berdiri hanya menjadi tanaman kopi saja, karena kopi butuh tanaman naungan, jadi saya disini berupaya juga tanaman naungannya bisa produktif,” terang Solihin kepada Jagadtani.id, saat ditemui di kebunnya yang berlokasi di desa Bangun Jaya, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.

Baca juga: Kopi Papua Dari Pegunungan

Pria yang akrab disapa Abah ini menjelaskan berbagai jenis tanaman naungan yang menjadi pendukung tanaman kopi miliknya seperti sirsak, jambu, pisang, alpukat dan jeruk. Dari banyaknya jenis tanaman yang ia tanam, sebagai petani ini menjadi keuntungan tersendiri.

Saya selaku petani, ketika panen bukan hanya sekedar mendapatkan buah kopi tetapi juga dapat hasil dari buah-buahan yang menaungi tanaman kopi itu sendiri,” jelasnya.

Baca juga: Kopi Baru Untuk Pecinta Vespa

Solihin menjelaskan bahwa panennya tanaman kopi miliknya berpengaruh dengan usia pohon itu sendiri. “Kalau teoritis konon katanya 3 tahun kurang lebih baru bisa panen, tapi alhamdulillah punya saya 2 tahun, 3 bulan sudah bisa panen,” tuturnya.

Ia menegaskan bahwa “disini saya mencoba menanam berbagai macam buah-buahan seperti pepaya, saya tau pepaya di dataran tinggi itu nggak akan manis, tapi tetap saya tanam. Kemudian jambu klutuk, lalu pisang muli. Kalau kopi sudah jelas,” ucapnya.

Abah menambahkan di perkebunan miliknya juga ada kopi luwak yang habitat aslinya dari luwak dan menghasilkan luwak alami bukan luwak akar. Ia menjelaskan bahwa “kebun ini saya berhipotesa dibuat sebagai habitatnya luwak sehingga kalau malam, kebun ini banyak luwak. Memakan jambu, pepaya dan juga kopi. Adanya kotoran luwak yang dipanen menghasilkan luwak liar yang rasanya saya kira jauh dibandingkan luwak lainnya,” tutupnya.

Baca juga: Perbedaan Kopi Arabica dan Robusta

Comment

Related News

Jagad Tani - Petaninya Milenial App Download

Free Sign & Download, Android App