• 28 September 2021

Asyiknya Panen Raya Timun Suri

SHARE SOSMED
"Sejatinya, timun suri atau mentimun suri adalah tanaman semusim, bukan merupakan tanaman musiman karena dapat ditanam kapan saja, tidak hanya menjelang bulan Ramadhan"
 
Bogor - Keberadaan timun suri identik dengan bulan Ramadan. Bagaimana tidak, buah berbentuk lonjong ada yang berwarna kuning, putih ataupun hijau selalu dijumpai saat bulan Ramadan. 
 
Daging buahnya yang tinggi akan kandungan air dan kaya ragam nutrisi tersebut biasa dijadikan bahan sajian dalam minuman segar untuk berbuka puasa. Sejatinya, timun suri atau mentimun suri adalah tanaman semusim, bukan merupakan tanaman musiman karena dapat ditanam kapan saja, tidak hanya menjelang bulan Ramadhan. 
 
 
"Kenapa timun suri adanya di bulan puasa? Karena bulan biasa kurang diminati. Jadi sudah tradisi saya tanam menjelang bulan puasa. Kalau di luar itu, tanam kangkung dan bayam," kata Inang, petani timun suri kepada jagadtani.id.  Dua bulan menjelang Ramadan, ia sudah bersiap untuk membudidayakan timun suri di enam petakan lahan dengan total luas 5.000 meter persegi yang berada di Desa Kemang, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
 
Budidaya buah yang termasuk suku labu-labuan (Cucurbitaceae) itu, Inang lakukan mulai dari mengolah tanah termasuk mengatur jarak tanam, penanaman benih dan pemeliharaan serta pemetikan buah. Menurutnya, timun suri butuh waktu dua bulan dari sejak benih ditanam hingga panen tiba. Panen sendiri dapat dilakukan hingga 20 kali pemetikan buah dengan interval tiga hari sekali.  
 
"Panen (timun suri) bisa 20 kali lebih, kalau tanamannya subur sampai lebaran pun buah masih ada, hanya setelah 25 hari perbedaannya dari buah makin lama, kecil. Kalau puncak panennya di hari ke-15," imbuhnya. Inang yang akrab dipanggil Acay mengaku tidak kesulitan untuk memasarkan hasil panennya. Saat masa panen seperti sekarang ini, para pembeli rata-rata datang langsung ke ladang. Mereka berasal dari sejumlah wilayah di Jabodetabek. 
 
 
"Untuk di petani saat ini per kilogram Rp 4.000. Harganya turun dari awal puasa itu bisa sampai Rp8.000 per kilogram. Memang harga timun suri akan turun ke sananya apalagi kalau cuaca hujan, peminatnya kurang," terang Acay. Acay mengatakan, permintaan pasar untuk buah timun suri di masa pandemi Covid-19 dirasa cukup merosot. Hal itu ia lihat dari penjualan setiap kali panen yang dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. 
 
"Jujur saja permintaan sekarang lebih menurun. Iya, dari lima kwintal sekarang bisa dua kwintal," ucapnya. Karena itu, Acay yang juga menjabat sebagai Ketua RT04 RW08 ini berusaha menekan biaya pengeluaran dari pembelian pupuk organik dari biasa menggunakan kotoran ternak ayam petelur diganti dengan ayam potong. 
 
"Untuk modal seluruhnya dihitung sekitar Rp 5 juta, ada. Alhamdulillah, kemarin baru dua kali panen sudah Rp 3,5 juta," pungkas pria berusia 40 tahun itu.
 

Related News

Jagad Tani - Petaninya Milenial App Download

Free Sign & Download, Android App