• 20 September 2021

Kucing Busok, Leopard dari Madura

uploads/news/2021/03/kucing-busok-leopard-dari-9766131ea0f62ae.jpg
SHARE SOSMED

Melihat warna bulunya yang halus dan mengkilap seperti perak di ujung bulu, sekilas mirip dengan kucing ras Eropa ternama seperti kucing biru rusia (russian blue) dan kucing bulu pendek inggris (british short hair).

JAKARTA - Kecamatan Raas merupakan nama kecamatan yang berada di pulau karang yang berada di sebelah timur Pulau Madura, Provinsi Jawa Timur.

Di pulau yang masuk ke dalam Kabupaten Sumenep ini memiliki kucing lokal yang unik.

Melansir Indonesia.go.id, secara morfologi, bentuk wajah dan posturnya sepintas mirip leopard dan kucing hutan dan lebih besar dari kucing kampung.

Bentuk mukanya agak persegi di bagian atas dan agak lancip di bagian dagunya.

Hidungnya berukuran sedang dan sedikit melengkung ke bawah di atas kulit hidung, mirip seperti hidung singa.

Baca juga: Viral! Cacat Heterokromik Pembawa Berkah

Bentuk telinganya tajam dan agak mencuat ke atas.

Warna bulunya abu-abu kebiruan polos dan oleh masyarakat setempat dinamai sebagai kucing busok.

Para pecinta kucing nasional mengenalnya sebagai “kucing raas”, “kucing madura”, atau “kucing busok”.

Melihat warna bulunya yang halus dan mengkilap seperti perak di ujung bulu, sekilas mirip dengan kucing ras Eropa ternama seperti kucing biru rusia (russian blue) dan kucing bulu pendek inggris (british short hair).

Tekstur bulu kucing busok juga lebih tebal dari kucing kampung pada umumnya.

Tinggi variasi genetika

Peneliti biologi dari Institut Pertanian Bogor (IPB) University, Ronny Rachman Noor pernah melakukan penelitian fenotipe dan genotipe terhadap kucing busok ini pada 2009 di Pulau Madura.

Menurutnya, seperti dikutip dari laporan penelitiannya yang dimuat pada jurnal Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat IPB University, kucing busok merupakan bagian dari ras kucing Asia yang ditandai dengan bentuk ekor yang bengkok di ujungnya (kinky tail). 

Dalam penelitiannya, Ronny juga menemukan fakta, kucing busok tak hanya berwarna abu-abu saja.

Ada juga, yang berbulu coklat susu di sebagian besar tubuhnya.

Warna coklat lebih pekat juga terdapat pada ujung telinga, ujung hidung, ujung kaki dan ujung ekor, mirip seperti kucing birma.

Masyarakat Madura sering menamai jenis busok ini sebagai “kucing kecubung”.

Guru Besar Pemuliaan dan Genetika dari Fakultas Peternakan IPB University ini menemukan fakta, kucing busok memiliki variasi genetika yang masih tinggi dan tergolong langka.

Pasalnya, kucing ini tidak ditemukan di luar Pulau Madura.

Sehingga, ia meyakini, kucing ini merupakan ras asli Indonesia seperti halnya anjing kintamani dan anjing bernyanyi dari Papua.

Ia menyebut, kucing busok mirip dengan jenis kucing korat dari Thailand.

Ditinjau dari ilmu genetika, busok dan kecubung tergolong warna resesif yang jarang muncul.

Warna kecubung ini diakibatkan oleh gen C dan B yang berpasangan dalam keadaan homozigot.

Kucing berwarna kecubung ini biasanya memiliki warna mata biru.

Sedangkan warna busok muncul akibat adanya gen D yang merupakan dilusi bersifat resesif.

Jika gen ini dalam keadaan homozigot, maka mampu mendilusi warna hitam menjadi abu kebiruan.

Ronny menduga tingkat perkawinan keluarga (inbreeding) sangat dominan dalam ras kucing busok, sehingga hanya terdapat dua warna, yaitu abu kebiruan dan kecubung alias cokelat kehitaman.

Artinya, terjadi banyak gen letal dan resesif yang memiliki sifat mematikan jika berada dalam kondisi homozigot.

Gen letal ikut menyumbang kematian yang cukup tinggi pada kucing busok karena adanya kawin keluarga.

Hal ini pula yang membuat ia kesulitan untuk menemukan kucing-kucing busok dalam aktivitas penelitiannya.

Semula, kucing busok ini pernah menjadi cenderamata untuk dihadiahkan kepada para tamu istimewa yang berkunjung ke Pulau Garam pada era 1990-an.

Seiring semakin langkanya keberadaan kucing tersebut di habitat aslinya, Pemerintah Kabupaten Sumenep pun melarang hal tersebut.

Masyarakat Pulau Raas juga melarang warga pendatang untuk membawa pergi kucing busok keluar pulau.

Jika hal itu tetap dilakukan, maka si kucing wajib dikebiri atau disteril terlebih dulu demi menjaga kemurnian ras kucing tersebut.

Upaya untuk menjaga keberadaan kucing ini di habitat aslinya ikut didukung oleh mitos-mitos yang berkembang di masyarakat Pulau Raas, di antaranya, kucing busok dapat mendatangkan nasib baik dan rezeki bagi pemeliharanya.

Di samping itu, kucing busok juga dipercaya masyarakat setempat memiliki kemampuan mistis dan bagi siapa saja yang membawanya keluar dari Pulau Raas akan mendatangkan kesialan.

Upaya diakui dunia

Kontes kucing internasional bertajuk "Indonesia Breed and Raas Cat Show" pernah digelar di Kota Sumenep sebagai rangkaian Visit Sumenep 2018 pada 14 April 2018.

Bupati Sumenep kala itu, Busyro Karim mengatakan, kontes itu sengaja digelar sebagai komitmen pihaknya untuk menjaga kelestarian satwa langka Indonesia terutama kucing busok yang menjadi kebanggaan masyarakat Sumenep dan Pulau Raas.

Pemkab Sumenep saat itu menggandeng komunitas pecinta kucing ras, Cat Fancy Indonesia (CFI) yang menghadirkan juri kontes Lesley Morgan dari Australia dan Awaluddin Djafar dari Malaysia.

Kontes diikuti 100 peserta, di mana 30 diantaranya menghadirkan kucing busok yang masih asli dari Pulau Raas.

Selang beberapa bulan kemudian, tepatnya November 2018, CFI bersama Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengadakan ekspedisi ke habitat kucing busok di Pulau Raas. 

Ekspedisi ini berhasil mengumpulkan 40 sampel kucing untuk observasi fenotipe dan genotipe, sekaligus uji asam deoksiribonukleat (DNA).

Salah satu peneliti zoologi LIPI yang ikut dalam ekspedisi tersebut, Yuli Sulistya Fitriana menjelaskan, sampel DNA diambil dengan metode usap (swab).

Baca juga: Maine Coon, Si Kucing Raksasa

Selain untuk menguji sel epitelnya, menurut peneliti lulusan Fakultas MIPA Universitas Gadjah Mada (UGM) yang bekerja pada Pusat Penelitian Biologi LIPI ini, metode usap  dinilai lebih aman bagi kucing busok karena tidak menimbulkan stres dibandingkan dengan mengambil contoh darahnya.

Agar bisa diakui sebagai ras kucing dunia seperti halnya anjing kintamani sebagai anjing ras dunia, diperlukan sejumlah tahapan.

Setidaknya ada dua tahapan perlu dilalui untuk jadi satu ras baru diakui dunia.

Pertama, membuktikan kemurnian gen sampai tiga generasi.

Kedua, Indonesia harus melakukan presentasi dalam forum internasional di hadapan World Cat Congress (WCC), organisasi berisi gabungan federasi dan asosiasi pelestari ras kucing dunia yang berdiri pada 1994.

Related News

Jagad Tani - Petaninya Milenial App Download

Free Sign & Download, Android App