• 19 September 2021

Tak Semua Susu Sapi Baik?

uploads/news/2021/03/tak-semua-susu-sapi-64700ce444dfa4b.jpg
SHARE SOSMED

Awalnya, semua sapi merupakan tipe A2. Istilah A2 mengacu pada karakteristik beta-kasein dalam susu. Beta-kasein ialah jenis protein yang penting yang terdapat dalam semua susu mamalia.

JAKARTA - Selama berabad-abad, susu sapi sudah banyak dikonsumsi manusia karena dianggap kaya manfaat.

Segelas susu mengandung 37% laktosa, 27% protein, 30% lemak, dan sisanya yaitu mikronutrisi.

Setidaknya ada beberapa jenis protein di dalam susu sapi seperti kasein, beta-kasein, dan height protein.

Dokter Spesialis Gizi Klinik dari Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Indonesia (UI) dan Rumah Sakit Umum Pusat Nasional dr. Cipto Mangunkusumo, dr. Fiastuti Witjaksono mengatakan, untuk beta-kasein, dalam protein susu sapi setidaknya terkandung 39% beta-kasein.

Baca juga: Sapi Sehat, Susu Segar

Setidaknya ada dua jenis beta-kasein yang dikenal luas, yaitu beta-kasein A1 dan beta-kasein A2.

Namun nyatanya tidak semua jenis susu baik bagi kesehatan.

Beta-kasein pada sapi di Eropa berbeda dengan mamalia lain karena adanya sejarah mutasi.

Ahli dari Lincoln University, Selandia Baru, Prof. Keith Bernard Woodford mengatakan, penyebab mutasi tersebut belum jelas hingga sekarang.

Beta-kasein pada mamalia di Asia dan Afrika semuanya merupakan A2.

Sedang, A1 hanya ditemukan di Eropa.

Meski demikian, dipastikan mutasi tersebut lantas menyebabkan terciptanya protein A1 beta-kasein.

"Awalnya, semua sapi merupakan tipe A2. Istilah A2 mengacu pada karakteristik beta-kasein dalam susu. Beta-kasein ialah jenis protein yang penting yang terdapat dalam semua susu mamalia. Adanya mutasi genetika sapi membuat munculnya sapi A1 yang menghasilkan susu sapi yang mengandung beta- kasein A1 dan susu sapi A2 yang mengandung beta-kasein A2," kata Woodford seperti melansir ANTARA, Selasa (16/3).

Senada dengan Prof. Woodford, dr. Fiastuti mengatakan, beta-kasein A1 dan beta-kasein A2 dicerna secara berbeda oleh tubuh manusia.

Apabila beta-kasein dicerna dan diabsorbsi, ada bagian fragmen beta-kasein yang akan mempengaruhi aktivitas biologis seseorang.

"Beta-kasein A1 melepaskan fragmen yang disebut sebagai beta- casomorphin-7 (BCM-7). Fragmen BCM-7 inilah yang menyebabkan timbulnya masalah kesehatan pada tubuh, diantaranya masalah pencernaan," kata dr. Fiastuti.

Menurutnya, susu sapi dengan kandungan A1 disebut akan lebih sulit dicerna ketimbang susu sapi A2.

Hal inilah yang menyebabkan gejala malabsorbsi seperti perut kembung, bunyi pada perut, hingga rasa ingin buang air besar.

Karena sulit dicerna, konsumsi susu sapi A1 dapat menyebabkan gangguan pada tubuh terutama di bagian pencernaan baik jangka pendek maupun jangka panjang.

Oleh sebab itu, susu yang dianjurkan yaitu susu dari jenis sapi A2, karena dianggap lebih mudah dicerna.

Dirinya memaparkan, berdasarkan penelitian di China, susu yang mengandung beta-kasein A2 memiliki efek gastrointestinal lebih ringan, termasuk pada orang yang mengalami intoleransi laktosa.

Dia mengatakan, sejauh ini susu yang dihasilkan sapi di Indonesia mengandung beta-kasein A1, karena ada kawin silang hingga terjadi pencampuran genetik antara sapi lokal dengan sapi yang diimpor dari negara barat.

Beberapa produk susu yang memiliki kandungan beta-kasein A2 di antaranya yaitu susu UHT, yogurt, dan susu bubuk.

Mengingat beta-kasein A2 merupakan sebuah keistimewaan, biasanya produsen susu akan menuliskannya di kemasan.

Oleh sebab itu, sebaiknya saat Sahabat Tani membeli susu, kenali lebih jeli label kemasan.

Efek jangka panjang

Beta-casomorphin-7 (BCM-7) yang terkandung dalam susu sapi A1 dapat mengakibatkan efek jangka panjang bagi kesehatan.

Organ tubuh manusia memiliki reseptor mu-opioid (μ- opioid).

Apabila BCM-7 masuk ke dalam sistem peredaran darah, BCM-7 kemudian mengalir ke organ tubuh yang memiliki reseptor mu-opioid dan menempel pada reseptor ini.

Menurut dr. Fiastuti, ika terakumulasi dalam jangka panjang, memiliki efek negatif untuk kesehatan.

Organ yang dapat terpengaruh termasuk jantung, paru-paru, pankreas, ginjal, dan otak.

"Oleh karena itu, BCM-7 merupakan salah satu faktor pemicu resiko penyakit jantung, diabetes tipe 1, berbagai kondisi pernapasan hingga berpengaruh pada kesehatan psikologis dan mental," kata Profesor Woodford.

Namun, hal itu juga dipengaruhi oleh genetika individu masing-masing.

BCM-7 menyebabkan inflamasi (peradangan), baik di saluran pencernaan maupun di organ dalam.

Hal tersebut juga mengarah pada kondisi autoimun dimana tubuh menyerang dirinya sendiri.

Selain itu, BCM-7 juga dapat menyebabkan peradangan di dalam sistem pencernaan manusia.

Senyawa ini juga memperlambat jalannya makanan, sehingga meningkatkan kemungkinan fermentasi laktosa (gula susu) yang menyebabkan kembung, sakit perut, mual dan rasa tidak nyaman pada perut atau biasa dikenal dengan intoleransi laktosa.

"Solusi untuk mengurangi resiko terhadap permasalahan kesehatan ini adalah dengan mengurangi konsumsi susu sapi biasa (A1) 100%. Saat tubuh mengkonsumsi susu sapi A2 dan mencerna beta-kasein A2 tidak akan terbentuk senyawa BCM-7 sehingga tidak akan menimbulkan efek pada kesehatan manusia, seperti rasa tidak nyaman pada perut ataupun risiko penyakit serius lainnya," ujar prof. Woodford.

Selain itu, susu sapi A2 juga memiliki kebaikan untuk kekebalan tubuh manusia, karena konsentrat protein yang diproduksi secara alami terbukti meningkatkan glutathione intraseluler yang merupakan pilihan untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh.

Baca juga: Cara Menjaga Kualitas Sapi Perah

Pada manusia, air susu ibu (ASI) juga hanya mengandung 100% beta-kasein A2 tanpa ada kandungan beta-kasein A1, sehingga tidak menimbulkan masalah pada bayi dan meningkatkan imunitas tubuh bayi.

"Ilmu pengetahuan baru selalu menjadi perdebatan, oleh karena itu awalnya susu sapi A2 merupakan sesuatu yang kontroversial. Penemuan ini membuat industri susu menjadi khawatir dan mereka berupaya untuk menyangkal hal ini. Namun, seiring waktu berjalan, industri susu mulai mengakui kebenaran temuan ini dan kini beberapa perusahaan susu global sudah mulai memproduksi produk susu sapi A2," pungkas Profesor Woodford.

Bagaimanapun perlu diingat, sebetulnya susu hanyalah asupan pendamping di samping makanan utamanya.

Related News

Jagad Tani - Petaninya Milenial App Download

Free Sign & Download, Android App