• 20 September 2021

Menguak Misteri Banyaknya Paus Terdampar

uploads/news/2021/03/menguak-misteri-banyaknya-paus-897855e639a0da5.jpg
SHARE SOSMED

Salah satu ancaman terhadap mamalia laut di Indonesia adalah banyaknya mamalia laut yang terdampar di wilayah perairan Indonesia dari waktu ke waktu.”

JAKARTA - Kejadian paus pilot yang terdampar secara massal di Pulau Madura beberapa waktu lalu, menyedot perhatian Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut (Ditjen PRL), Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Mereka pun mendalami penyebab kejadian tersebut, untuk mengantisipasi agar kejadian serupa tidak terjadi lagi di kemudian hari.

Selain itu, sebelumnya Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono juga mengarahkan jajarannya untuk memastikan kelestarian biota laut dan keberlangsungan populasinya untuk kesejahteraan bangsa dan generasi yang akan datang.

Pasalnya, mamalia laut merupakan biota laut yang terancam punah dan statusnya telah dilindungi penuh secara nasional dan internasional.

Baca juga: Pertolongan Pertama Jika Paus Terdampar

Dirjen PRL, Tb. Haeru Rahayu, menjelaskan perairan Indonesia merupakan salah satu jalur migrasi mamalia laut seperti paus, lumba-lumba, duyung di dunia.

Dari 90 jenis mamalia laut yang ada di dunia, 35 jenisnya ada di Indonesia.

Salah satu ancaman terhadap mamalia laut di Indonesia adalah banyaknya mamalia laut yang terdampar di wilayah perairan Indonesia dari waktu ke waktu,” ujar pria yang akrab disapa Tebe ini beberapa waktu lalu.

Menurut data Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut (Dit. KKHL) KKP mencatat, pada 2015 terjadi peristiwa terdamparnya 103 ekor mamalia laut.

Kemudian di 2016 tercatat sebanyak 255 ekor, di 2017 ditemukan sebanyak 143 ekor, pada 2018 sebanyak 154 ekor, pada 2019 sebanyak 142 ekor, dan pada 2020 sebanyak 107 ekor.

Sedangkan di 2021 hingga Februari, tercatat 66 individu mamalia laut yang terdampar, termasuk kasus terdamparnya 52 ekor paus pilot di Desa Patereman, Kecamatan Modung, Kabupaten Bangkalan, Pulau Madura.

Tebe juga menjelaskan, kecepatan dan ketepatan dalam penanganan setiap kejadian terdampar hidup menjadi hal yang sangat penting dan berdampak besar terhadap keselamatan biota laut tersebut.

Meski demikian, Tebe berpesan kepada para relawan di lapangan agar tetap mengutamakan keselamatan para responder saat melakukan upaya penanganan di lapangan.

Mengetahui penyebab kejadian mamalia laut terdampar sangat penting untuk penanganan ke depan. Karenanya, saya mengajak para pakar dari Unair, IPB, WSI, RASI, dan Flying Vet untuk mendiskusikan fenomena ini,” jelasnya.

Sementara itu, Direktur KKHL, Andi Rusandi menerangkan, untuk menjawab persoalan terdamparnya mamalia laut, KKP bersama para mitra telah mengembangkan jejaring penanganan dan bimbingan teknis penyelamatan mamalia laut terdampar baik yang dilakukan di pusat maupun di unit pelayanan teknis (UPT).

Tugas penyelamatan mamalia laut terdampar ini bukan hanya tugas pemerintah tapi juga membutuhkan dukungan, komitmen dan partisipasi aktif dari berbagai pihak, termasuk masyarakat pesisir sebagai garda terdepan penyelamatan,” terangnya.

Dalam forum yang sama, ahli biologi dari Yayasan Konservasi RASI, Danielle Kreb mengatakan, untuk mengungkapkan keberadaan mamalia laut sangat penting bagi keseimbangan ekosistem laut.

Menurutnya, mamalia laut memberikan sumbangan ekologis yang sangat penting bagi ekosistem di bumi dan manusia yang memanfaatkan atau berasosiasi dengan biota tersebut.

Dari segi ekologi, kotoran paus sperma merupakan carbon sink bagi samudera. Gangguan terhadap populasi mamalia laut dan predator utama lainnya menyebabkan pergeseran dominasi predator utama yang pada akhirnya menyebabkan terganggunya rantai makanan. Sehatnya mamalia laut juga mencerminkan sehatnya lautan,” ungkap Danielle.

Sementara itu, peneliti dari Whale Stranding Indonesia (WSI), Putu Lisa Mustika mengatakan, secara umum ada 11 penyebab kejadian mamalia laut terdampar, yaitu akibat terjebak di air surut, penyakit, predasi, kebisingan, aktivitas perikanan, tertabrak kapal, pencemaran laut, gempa dasar laut, cuaca ekstrim, blooming alga, dan badai matahari.

Untuk kejadian paus pilot terdampar massal di Madura, penyebabnya perlu dipastikan melalui nekropsi. Namun berdasarkan data kejadian terdampar di Indonesia, paus pilot paling banyak mengalami kejadian terdampar massal dan tiga kejadiannya terjadi di Jawa Timur,” ungkap Icha.

Dosen dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK), Institut Pertanian Bogor (IPB) University, Adriani Sunudin menambahkan, Selat Madura merupakan habitat berlindung yang ideal bagi mamalia laut.

Berdasarkan data oseanografi, pada saat kejadian kondisi perairan cenderung sejuk akibat pengaruh hujan ekstrim di seluruh Jawa, Sumatera, Kalimantan dengan kondisi salinitas rendah.

Baca juga: Penanganan Saat Paus Pilot Terdampar

Jika kita lihat pergerakan arusnya, arus permukaan di utara pulau Madura sangat luar biasa kencang menuju ke kearah timur sesuai musim, di selatan Jawa juga luar biasa. Tapi di Selat Madura sangat tenang,” imbuh Adriani.

Berdasarkan pendekatan patologi, peneliti dari Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga (UNAIR), Bilqisthi Putra menuturkan, ada penyebab kematian mamalia laut saat terdampar, yaitu emasiasi, dehidrasi, sunburn, dan stres pernapasan.

Sebab-sebab ini bisa menjadi multiple.

Untuk memastikan penyebab pastinya paus pilot terdampar, perlu ada gelar perkara dari masing-masing sisi keilmuan/pakar,” pungkas Bilqisthi.

Related News

Jagad Tani - Petaninya Milenial App Download

Free Sign & Download, Android App