• 20 September 2021

Penanganan Saat Paus Pilot Terdampar

uploads/news/2021/02/penanganan-saat-paus-pilot-97964e2de93e0aa.jpg
SHARE SOSMED

Ketika ada masyarakat yang melihat aktivitas tidak biasa dari mamalia laut, harus mulai dicermati.

JAKARTA - Peristiwa terdamparnya puluhan ekor paus pilot maupun mamalia laut lainnya di pesisir pantai Indonesia bukan hanya 1-2 kasus saja

Data dari World Wide Fund for Nature (WWF), dalam periode 2015-2019 terdapat 304 kasus mamalia laut terdampar di pantai Indonesia.

Beberapa hari sebelum terjadinya paus terdampar, masyarakat pesisir sebenarnya sudah mengetahui adanya aktivitas yang tidak biasa dari mamalia laut tersebut.

Misalnya peristiwa 40 ekor paus pilot yang terdampar di Selat Madura.

Baca juga: Fenomena Terdamparnya Ratusan Paus Pilot

Ada laporan masyarakat yang melihat rombongan paus pilot berada di perairan selatan Madura, tepat satu hari sebelum terdampar.

Serupa dengan kejadian terdamparnya paus pilot pada Juni 2016.

"Ketika ada masyarakat yang melihat aktivitas tidak biasa dari mamalia laut, harus mulai dicermati. Apakah butuh istirahat saat ruaya atau serangan predator, seharusnya ada kewaspadaan mengenai peluang terdampar," tutur dosen hidrobiologi laut, Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan (ITK), Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Institut Pertanian Bogor (IPB) University, Adriani Sunuddin, SPi, MSi, dalam keterangannya belum lama ini.

Sayangnya, kesaksian masyarakat tersebut tidak menjadi kesadaran bersama untuk bisa dilakukan pencegahan.

"Penyebarluasan informasi dari masyarakat tersebut sebenarnya bisa diteruskan ke Dinas Kelautan dan Perikanan di daerah, atau UPT Kementerian Kelautan dan Perikanan yang sebenarnya sudah memiliki tim tanggap," katanya.

Wanita yang akrab dipanggil Nani ini menyebutkan, sebagai negara maritim, Indonesia sudah memiliki pedoman untuk mengatasi dan menangani peristiwa terdamparnya mamalia laut.

"Tim respon cepat sudah tersedia namun pada dasarnya kita masih butuh ada peningkatan kapasitas penyebarluasan informasi untuk konservasi mamalia laut," tuturnya.

Pelatihan tanggap darurat evakuasi dan penanganan terdamparnya mamalia laut pun sudah dilakukan oleh para ahli.

Namun, partisipatif masyarakat pesisir sangat diharapkan.

"Idealnya, pada saat penanganan mamalia laut terdampar, yang dibutuhkan adalah clearing area dari kegiatan manusia untuk menekan stres mamalia laut," jelasnya.

Karakteristik individu dari kelompok paus kemudian dilakukan oleh para ahli untuk menentukan pimpinan kelompok dan menjadi penanganan utama.

"Kemudian kita deteksi mana individu paus yang bisa dilepasliarkan, mana yang butuh untuk direhabilitasi untuk penanganan medis," tuturnya.

Penanganan paus terdampar yang mati dengan dikubur menurutnya sudah tepat, karena jika bangkai dibiarkan dan membusuk akan mengeluarkan bakteri dan parasit yang justru lebih membahayakan.

Namun untuk menguburkan tidak mudah, karena beratnya per ekornya yang mencapai 2 ton.

Karena itu, untuk mencegah kejadian serupa, memerlukan partisipasi semua pihak, terutama generasi Milenial yang sanggup mencerna dengan baik informasi yang sahih dan menyebarluaskannya kepada masyarakat melalui berbagai kegiatan sadar lingkungan pesisir.

Upaya ini, menurutnya, harus cepat dan tanggap dilakukan segera oleh semua pihak karena meskipun paus pilot belum termasuk terancam punah.

Tetapi, dengan peristiwa terdampar yang cukup sering, pada akhirnya akan mengurangi populasi jenis paus ini.

Diakui Nani, paus pilot sempat mengalami status konservasi menjadi least concern, yaitu tidak dianggap butuh intervensi langkah konservasi khusus, karena mampu beruaya dalam kelompok besar dan informasi populasinya belum diketahui lengkap untuk wilayah yang sudah diketahui sebarannya.

"Tetapi jika mengkaji kembali dari jumlah terdampar, risiko terdampar dari populasi paus pilot ini dan dikroscek dengan perairan mana yang berisiko terdampar. Bisa jadi status itu berubah karena ancaman terhadap kepunahan tidak hanya terkait predasi tetapi juga faktor aktivitas perikanan berlebih (menjadi bycatch dari beberapa jenis alat tangkap tertentu)," jelasnya.

Untuk diketahui, paus pilot terdiri dari dua jenis yaitu, paus pilot sirip pendek dan paus pilot sirip panjang.

Baca juga: Larangan Konsumsi Daging Hiu Paus

Dilihat dari sebarannya, paus pilot sirip panjang ada yang berasosiasi dengan perairan Kutub Utara maupun Selatan.

Sedangkan sebaran paus pilot sirip pendek, ada di wilayah tropis utara dan selatan sampai ke batas subtropis.

Dilihat dari sebaran geografis, ia hidup berkelompok dan ukuran tubuh yang besar.

Maka paling bisa disimpulkan, paus pilot memiliki daya ruaya tinggi dan biasa melintasi perairan dari satu samudera ke samudera lain.

Related News

Jagad Tani - Petaninya Milenial App Download

Free Sign & Download, Android App