• 19 September 2021

Buce, Si Kece dari Kalimantan

uploads/news/2021/02/buce-si-kece-dari-9922492f473d839.jpg
SHARE SOSMED

Tanaman ini harus diimpor langsung dari Indonesia. Selain itu pertumbuhannya cenderung lambat. Ini sebenarnya jadi peluang.”

JAKARTA - Sahabat Tani ada yang kenal dengan tanaman air, Bucephalandra atau yang biasa disebut Buce.

Mungkin tanaman ini terdengar asing bagi sebagian orang.

Namun, tanaman yang tumbuh di pedalaman hutan ini amat familiar di Kalimantan.

Ya, buce merupakan salah satu tanaman air bernilai ekonomis tinggi.

Baca juga: Bahaya dan Manfaat Tanaman Kecubung

Bahkan, di Amerika Serikat saja para aquascaper harus merogoh koceknya sebesar USD 70 atau sekitar Rp 978.000 untuk satu rumpun kecil Bucephalandra.

Tanaman ini harus diimpor langsung dari Indonesia. Selain itu pertumbuhannya cenderung lambat. Ini sebenarnya jadi peluang,” ujar Direktur Perbenihan, Direktorat Hortikultura, Kementerian Pertanian (Kementan), Sukarman, belum lama ini dalam keterangannya.

Dirinya mengungkapkan, awalnya Buce hanya didapatkan di alam Borneo.

Tingginya permintaan pasar terhadap tanaman ini, membuat pelaku usaha membudidayakannya di luar habitat aslinya.

Kini, budidaya Buce sudah dilakukan di Bogor, Cirebon, Madiun dan termasuk di wilayah Kalimantan sendiri.

Potensi pengembangan masih terbuka luas. Sebagaimana arahan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, tanaman seperti Buce harus terus didorong untuk pasar ekspor,” tambah Sukarman

Sukarman menjelaskan, merujuk data unit Pelayanan Rekomendasi di Direktorat Jenderal Hortikultura, hampir setiap hari ada usulan permohonan ekspor tanaman tersebut.

Mulai dari AS, Peru, Vietnam, Hongkong, Jepang, dan Korea.

Saat ini terdapat 16 pelaku usaha yang aktif mengajukan permohonan untuk mendapatkan surat ijin pengeluaran/ekspor untuk benih Bucephalandra,” kata Sukarman.

Sukarman memaparkan, dari hasil wawancara dengan beberapa penggiat tanaman ini, harga saat ini di kalimantan berkisar Rp 500.000-800.000 per kilogram, namun untuk jual di luar kalimantan berkisar Rp 500.000-1.000.000 per kilogram, tergantung jenisnya.

Sedangkan untuk Bucephalandra yang memiliki nilai jual di dalam negeri berkisar Rp 2.500-10.000 per pieces, tergantung jenisnya.

Untuk nilai ekspor per potong sekitar USD 0,5-0,72, sedangkan per rimpang USD 1,20-1,50.

“Jadi jika dihitung nilai ekspor di tahun 2020 hingga bulan mei saja sudah mencapai 2.649.277 pieces yang bernilai sekitar USD 1.324.638-1.907.479,” ungkap Sukarman.

Bucephalandra sendiri merupakan salah satu jenis tanaman semi aquatic yang sedang jadi primadona pecinta aquascape di AS dan utamanya Jepang.

Daunnya yang hijau segar, ungu dengan bunga putih yang elok.

Tanaman ini mudah perawatan namun lambat pertumbuhannya.

Bentuk daun dan warna yang elegan, membuat tanaman ini menjadi target perburuan para aquascaper seantero dunia.

Karena faktor eksotik dan endemik dari Kalimantan, membuat tanaman ini menjadi magnet para kolektor Aquatic plant di seluruh dunia.

Kendati tengah berada di tengah pandemi COVID-19, ekspor tanaman hias tetap mengalir.

Baca juga: Manfaat Membangun Daun Bangun-bangun

Dari data Surat Izin Pengeluaran Benih yang dikeluarkan Direktorat Jenderal Hortikultura pada 2020, hingga pertengahan April terdapat izin pengeluaran sebanyak 300 ribu pieces.

Permohonan ekspor terhadap jenis jenis tanaman hias lainnya di antaranya Bucephalandra, Anubias, Krokot, Ammania, Aponogeton, Carolina, Bacopa, Cabomba, Blyxa, Keladi, Cryptocoryne, Ceratophyllum, Echinodorus, Cyperus, Egeria, Eriocaulon, Glossostigma, Eleocharis dan masih banyak jenis tanaman hias lainnya.

Mungkin belum familiar dikenal ternyata memiliki peluang pasar ekspor menjanjikan. Hanya dalam kurun satu Minggu yakni di akhir April, tercatat izin ekspor yang telah dikeluarkan untuk jenis jenis tanaman tersebut termasuk Bucephalandra mencapai 9.000.000 tanaman,” bebernya.

Potensi tanaman hias lokal sangat menjanjikan. Angka permohonan ekspor benih terus-menerus meningkat. Bisnis ini punya peluang besar dan tentunya dapat menaikkan neraca perdagangan dalam negeri,” tutupnya.

Related News

Jagad Tani - Petaninya Milenial App Download

Free Sign & Download, Android App