• 19 September 2021

Berkebun dengan Vertikultur Babe 

SHARE SOSMED

Iya, mudah-mudahan karya saya bisa ditiru sama-sama teman-teman di Bogor dalam mendukung gerakan Bogor Berkebun yang dicanangkan oleh Pak Wali Kota Bogor tanggal 4 Desember kemarin.”

BOGOR - Mumuh Munadji, warga Kelurahan Cilendek Barat, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat, berhasil mengembangkan inovasi di bidang pertanian.

Inovasi tersebut berupa teknik bercocok tanam yang diberi nama “Vertikultur Babe.” 

Mumuh mengatakan, inovasi ini merupakan pengembangan dari teknik hidroponik dutch bucket system (DBS).

Baca juga: Bertumpu pada Gerakan Bogor Berkebun 

Pada teknik ini, sirkulasi air nutrisi dari tandon nutrisi juga dialirkan ke media tanam, namun secara menetes. 

Di teknik ini, ia tidak menggunakan tanah untuk media tanam sebagaimana umumnya, tapi memakai cocopeat atau serbuk sabut kelapa.

Sementara di lapisan bawah cocopeat tersimpan hidroton dan zeolit atau batu apung. 

"Di bawah ada hidroton sama zeolit. Itu fungsinya, untuk menyaring kalau ada cocopeat yang ikut terbawa air nutrisi ke tandon nutrisi," kata pensiunan PT. Telkom ini kepada Jagadtani.id belum lama ini.

Ia melanjutkan, Vertikultur Babe yang dibuatnya cukup mudah dan sederhana, serta dapat memanfaatkan barang bekas untuk menghemat biaya.

Salah satu yang ia gunakan sebagai wadah berasal dari kaleng plastik bekas cat tembok. 

Kaleng plastik itu, ia sulap menjadi wadah media tanam yang disusun secara vertikal.

Itulah sebabnya, ia beri nama Vertikultur Babe (barang bekas). 

Setiap wadah memiliki empat lubang dengan ukuran panjang 7 sentimeter di setiap lubangnya.

Sedangkan jarak antar masing-masing lubang sekitar 10 sentimeter. 

"Kenapa satu wadah tempat lubang? Karena kalau terlalu rapat, nanti perkembangan akar agak terganggu. Bisa saja dibuat delapan lubang, tapi terlalu berdesakan dan perkembangan akar jadi terhambat," jelas Mumuh.

Teknik bercocok tanam ini, menurutnya, bisa dikatakan sejalan dengan konsep urban farming yang memanfaatkan lahan terbatas secara optimal.

Selain membudidayakan berbagai jenis sayuran, dirinya juga membudidayakan buah-buahan. 

"Ini bisa untuk sayuran dan buah bisa. Yang saya ditanami sayuran seperti, selada, bayam merah, samhong, dan caisim. Untuk buah, bisa cabai, tomat juga bisa. Saya juga sudah coba anggur," kata Mumuh. 

Ia menyebutkan, dari sisi modul, teknik ini memang memiliki kelebihan dan kekurangan yang tak jauh berbeda dengan teknik lainnya.

Hanya saja, sambungnya, dengan teknik ini air nutrisi untuk pasokan tanaman terbilang aman ketika terjadi pemadaman listrik. 

"Di sini air nutrisi itu tertampung di cocopeat, seandainya listrik mati. Jadi, aman untuk tanaman. Menurut saya, teknik apa pun yang dipakai, itu perhatian dari kita sebagai yang menanam. Tanpa perhatian, saya kira susah tanaman bisa tumbuh, seperti tadi saya bersihkan hama di samhong," imbuhnya.

Adapun hal perawatan yang perlu diperhatikan, lanjutnya lagi, pastikan selang mengalirkan air nutrisi ke media tanam.

Sebab, lumut bisa menyumbat selang, sehingga aliran air nutrisi ke media tanam menjadi tidak lancar. 

"Selang yang tersumbat oleh lumut bisa dibersihkan bisa pakai lidi. Lalu pada tandon wadah nutrisi harus diperiksa ketersediaannya. Tidak kalah penting, bagi orang hidroponik mengukur PPM (Part Per Million) sesuai standar," jelasnya.

Anggota Komunitas Hidroponik Bogor Raya (KoHiBoRa) itu mengatakan, peralatan yang dibutuhkan membuat Vertikultur Babe cukup mudah ditemukan.

Di antaranya, wadah untuk media tanam, ember untuk tandon, serta selang dan pipa untuk pendistribusian air nutrisi dan pompa air. 

"Untuk wadah dari kaleng plastik dan ember, banyak sekali bisa memanfaatkan barang bekas. Ini (vertikultur Babe) sudah diaplikasikan seminggu lalu dan ini yang pas setelah beberapa kali percobaan," katanya.

Baca juga: Manfaat Sekam untuk Pestisida 

Ia mengaku, sangat terbuka bagi siapapun yang berminat mencoba mengaplikasikan teknik bercocok tanam yang dikembangkannya.

Selain itu, wadah untuk bercocok tanam juga bisa lebih ditingkatkan lagi, sehingga banyak lubang tanam, tapi tentunya ditunjang dengan kapasitas pompa air. 

"Iya, mudah-mudahan karya saya bisa ditiru sama-sama teman-teman di Bogor dalam mendukung gerakan Bogor Berkebun yang dicanangkan oleh Pak Wali Kota Bogor tanggal 4 Desember kemarin," pungkasnya. 

Related News

Jagad Tani - Petaninya Milenial App Download

Free Sign & Download, Android App