• 19 September 2021

Mengenal Sang Petani Hutan Sejati

uploads/news/2020/11/mengenal-sang-petani-hutan-461801847eb8d3c.jpg
SHARE SOSMED

Mulai hilangnya hutan sebagai habitat utama, minimnya upaya konservasi, dan maraknya perburuan, yang menjadi perpaduan mengerikan bagi masa depan rangkong gading.

BOGOR - Adakah Sahabat Tani yang mengenal rangkong gading atau enggang gading?

Ya, rangkong gading merupakan salah satu burung endemik asli Indonesia.

Ia biasa menghuni hutan tropis yang lebat, dengan pohon-pohon besar dan tinggi, pada hutan dataran rendah dan hutan bawah pegunungan sampai pada ketinggian 1.500 meter di atas permukaan laut.

Baca juga: Jalak Bali Bangkit Kembali

Meski pun ia tersebar luas di Semenanjung Malaya, Thailand, Vietnam, dan populasi kecil di Myanmar, tetapi habitat terbesar rangkong gading berada di pulau Sumatera dan Kalimantan.

Rangkong gading sendiri hanya bersarang pada pohon besar yang memiliki lubang alami dengan bonggol khas di depannya.

Bonggol tersebut digunakan sebagai landasan untuk bertengger, memberi makan induk dan anak yang ada di dalam sarang.

Model sarang yang unik ini tidak ditemukan pada jenis-jenis rangkong yang lain.

Rangkong gading, merupakan burung yang sangat besar, dengan bulu ekor bagian tengah memanjang.

Dari ujung paruh sampai ujung ekor, panjangnya sekitar 180 sentimeter, dengan bentang sayapnya 90 sentimeter, dan berat tubuh 3 kilogram.

“Secara fisik, panjang total 180 sentimeter, beratnya 3 kilogram, karena ada ekornya yang panjang, sedangkan rata-rata tinggi orang Indonesia hanya 168 sentimeter. Jadi kalau disandingkan, jauh kalah tinggi dengan rangkong gading,” jelas spesialis ekologi sekaligus pendiri Rangkong Indonesia, Yokyok Hadiprakarsa, kepada Jagadtani.id belum lama ini di kantornya yang ada di Jalan Sempur No. 35, Kelurahan Sempur, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat.

Ia memiliki ciri khas, yaitu kulit leher tanpa bulu berwarna merah pada jantan dan putih kebiruan pada betina.

Kemudian memiliki paruh simetris dan meruncing pada bagian ujungnya.

Selain bertubuh tinggi, Yoki juga menyebut, rangkong gading memiliki suara yang melengking dan nyaring.

Cula atau balung (casque) di bagian atas paruhnya padat berisi, dengan mencapai 13% dari berat tubuhnya.

Dalam situs Rangkong Indonesia, berdasarkan pengamatan di lapangan, cula tersebut digunakan dalam perkelahian yang kerap terjadi di dekat pohon beringin yang sedang berbuah.

Selain, ia juga memiliki suara yang terdengar seperti orang tertawa terpingkal-pingkal dan dapat didengar dari jarak 3 kilometer.

Suaranya dia itu paling khas, bahkan 3 kilometer saja bisa kedengaran, jadi mudah ditemukan. Setiap saya dan tim melakukan penelitian, hampir 80% cara kita mengetahui rangkong gading itu ada, ya dari suaranya,” jelas pria yang kerap disapa Yoki ini.

Meski pun memiliki paruh besar, tetapi rangkong bukan merupakan pemakan daging.

Menurut Yoki, semua jenis rangkong merupakan pemakan buah.

Namun, buah beringin merupakan buah yang paling penting untuk rangkong gading.

Berdasarkan penelitian saya waktu S1 makanan rangkong gading 99% adalah buah beringin. Tapi kalau di hutan itu buah terpenting, karena ternyata buah beringin sepanjang tahun itu berbuah. Tidak ada musimnya,” tambah pria asli Bogor tersebut.

Spesies ini bisa dikatakan petani hutan sejati, hal itu dikarenakan ketika ia memakan buah, biji pada buah tersebut ia muntahan ke hutan dan sudah terbukti 70% biji tersebut akan tumbuh menjadi pohon.

Sayangnya, saat ini keberadaan rangkong gading terancam punah.

Mulai hilangnya hutan sebagai habitat utama, minimnya upaya konservasi, dan maraknya perburuan, yang menjadi perpaduan mengerikan bagi masa depan rangkong gading.

Alhasil, pada akhir 2015, IUCN menaikkan status rangkong gading dari Near Threatened menjadi Critically Endangered, satu tahap lagi menuju kepunahan.

Sementara itu, Konversi Perdagangan Jenis Terancam Punah (CITES), mencatat butung ini dalam daftar Appendix I atau terancam dari segala bentuk perdagangan.

Apa lagi, sejak zaman Dinasti Ming abad ke-17, para bangsawan Cina telah mengincar cula atau balung rangkong gading untuk dijadikan bentuk hiasan dan menjadi burung paling diburu di dunia.

Hal itu karena, ornamen ukuran rumit dari balung dan paruh rangkong gading, kini sangat dicari di pasar gelap internasional.

Karenanya, Yoki dan tim Rangkong Indonesia saat ini mulai bergerak untuk mengatasi hal tersebut.

Sudah bisa dikatakan krisis rangkong gading saat ini mulai ditangani bersama-sama, baik itu dalam skala nasional maupun internasional.

Baca juga: Pelepasliaran Burung Cenderawasih di TNW

Kita juga membantu pemerintah untuk menyusun pengelolaan rangkong gading 10 tahun ke depan, agar penanganannya terarah. Saat ini, sudah resmi mulai menjalankan konservasi rangkong gading dan rangkong lainnya di Indonesia,” ujarnya.

Selain itu, pihaknya juga terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat.

Karena ternyata masyarakat kita nih tidak tahu tentang rangkong gading, mulai dari populasi, tempat tinggal, bahkan bentuknya pun belum banyak yang tahu. Oleh karenanya, kita coba melakukan penelitian. Nah di tahun kemarin, kita baru selesai melakukan survei populasi dan juga persepsi masyarakat untuk mengetahui jumlah rangkong gading di Kalimantan, ada berapa dan tinggal dianalisa datanya,” tutupnya. 

Related News

Jagad Tani - Petaninya Milenial App Download

Free Sign & Download, Android App