• 7 November 2026

Harga Beras Naik, Bapanas Genjot Penyaluran SPHP

uploads/news/2026/11/harga-beras-naik-bapanas-84961c9eb1cb8c0.jpg

Jagad Tani - Percepatan penyaluran beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) serta bantuan pangan beras di 38 provinsi diambil, menyusul kenaikan harga beras premium dan medium di Zona 2 dan Zona 3.

Hal itu disampaikan Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas)  Hermawan dalam rapat koordinasi bersama pemerintah daerah dan Satgas Pangan Polri se-Indonesia di Jakarta, dikutip Sabtu (7/11).

Baca juga: Revitalisasi Tambak Pantura Bekasi Masuki Tahap Verifikasi

"Harga beras premium dan medium di Zona 2 dan Zona 3 semuanya naik, sedangkan di Zona 1 cenderung aman. Karena itu, saya meminta rekan-rekan di daerah untuk mengantisipasinya," ujar Hermawan. 

Menurutnya, stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog diproyeksikan masih dapat berada di atas 3 juta ton hingga akhir 2026.

"Stok Bulog sampai akhir tahun kemungkinan besar bisa 3,8 juta ton, bahkan 4 juta ton. Beras itu sekarang terus mengalir, baik untuk SPHP maupun bantuan pangan. Karena itu, segera percepat penyaluran SPHP dan bantuan pangan yang sudah ditugaskan ke Bulog," lanjutnya.

Dilanjutkan bahwa penyaluran yang cepat akan menekan harga di pasar. Ketika beras SPHP dan bantuan pangan sampai ke masyarakat, kebutuhan rumah tangga untuk satu hingga dua minggu ke depan sudah terpenuhi, sehingga permintaan di pasar berkurang.

"Karena belanja berkurang, otomatis harga pasti turun berkat masifnya beras SPHP dan bantuan pangan. Jadi tolong pemerintah daerah mengecek dan memastikan penyalurannya segera sampai ke masyarakat dan ke pasar-pasar," tegasnya.

Untuk menahan fluktuasi harga beras, penugasan tambahan untuk program SPHP beras yang pertama disalurkan sebesar 828 ribu ton, dan sejak Maret telah 100 persen direalisasikan Bulog sampai minggu keempat September.

Sementara penugasan tambahan SPHP beras yang baru dari Bapanas sudah diterbitkan pada akhir September dan tengah Oktober dengan total sebesar 200 ribu ton. Hingga 5 November realisasinya telah menyentuh 155,3 ribu ton (77,6%).

Selanjutnya, pelaksanaan program bantuan pangan beras periode Oktober-Desember ditargetkan kepada Bulog agar dapat mulai salur pada bulan November ini. Sebelumnya pemerintah telah memutuskan program bantuan pangan beras kembali salur untuk triwulan terakhir pada tahun ini.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan beras tidak memberi andil signifikan terhadap inflasi komponen harga bergejolak (volatile food) pada Oktober 2026. Inflasi pangan bulanan melandai ke 0,77%, dari 1,46% pada September.

Inflasi beras bulanan Oktober tercatat hanya 0,08 persen, ini turun dari 0,80 persen pada September yang merupakan angka tertinggi sepanjang 2026. Sebelumnya, inflasi beras tertinggi terjadi pada Maret (0,65%) saat puncak Ramadan dan Idulfitri.

Hasil pantauan harga beras oleh Bapanas, mencatatkan rerata harga beras premium dan medium secara nasional per 5 masing-masing berada di Rp 16.214 per kilogram (kg) dan Rp 13.715 per kg. Rerata harga beras tersebut berasal dari nilai tengah harga dari tiga zonasi.

Untuk rerata harga beras premium secara nasional memang mengalami fluktuasi 0,09 persen dibandingkan sebulan sebelumnya. Sementara rerata harga beras medium secara nasional mengalami penurunan sebesar 0,08 persen dalam sebulan terakhir.

Berdasarkan angka tetap BPS Kerangka Sampel Area amatan September, produksi beras Januari sampai Agustus 2026 mencapai 25,28 juta ton. Angka ini sedikit lebih tinggi 0,07% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 25,26 juta ton.

Related News