• 5 November 2026

Lemak-Minyak Hewani/Nabati Penyumbang Surplus Nonmigas Indonesia

uploads/news/2026/11/-lemak-minyak-hewani-nabati-penyumbang-surplus-38352894b3e3412.jpg

Jagad Tani - Lemak dan minyak hewani atau nabati (HS 15) masuk sebagai tiga komoditas utama penyumbang surplus nonmigas Indonesia pada September 2026, yakni sebesar USD 4,41 miliar. 

Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan, selain lemak dan minyak hewani atau nabati (HS 15) tiga komoditas utama penyumbang surplus nonmigas yakni bahan bakar mineral (HS 27) USD 2,58 miliar, serta besi dan baja (HS 72) USD 1,85 miliar. 

Baca juga: Satgas Pangan Harus Perketat Pengawasan Penyaluran Beras SPHP

“Tiga komoditas penyumbang surplus nonmigas terbesar pada September 2026 adalah lemak dan minyak hewani atau nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja. Sementara itu, negara penyumbang surplus terbesar adalah AS, India, dan Filipina,” ujar Busan dalam keterangannya Selasa (3/11).

Adapun dari sisi negara yang menjadi mitra dagang, Amerika Serikat (AS) masih menjadi penyumbang surplus nonmigas terbesar dengan nilai USD 2,15 miliar, diikuti India USD 1,66 miliar dan Filipina USD 0,77 miliar. 

Hal ini membuat neraca perdagangan Indonesia kembali mencatatkan surplus dengan nilai USD 3,36 miliar. Untuk sektor nonmigas sendiri membukukan surplus sebesar USD 5,67 miliar meski tergerus defisit migas sebesar USD 2,31 miliar. 

Melalui tambahan kinerja September 2026, maka total surplus perdagangan kumulatif periode Januari–September 2026 mencapai USD 10,61 miliar. Surplus perdagangan tersebut terdiri atas surplus nonmigas sebesar USD 34,21 miliar dan defisit migas USD 23,60 miliar.

“Keberhasilan mempertahankan surplus neraca perdagangan sebesar USD 10,61 miliar hingga September 2026 mencerminkan kokohnya ketahanan eksternal Indonesia di tengah dinamika global,” lanjut Busan.

Ditambahkan Busan, surplus nonmigas Januari–September 2026 ditopang tiga komoditas utama, yaitu lemak dan minyak hewani atau nabati (HS 15) sebesar USD 29,31 miliar, bahan bakar mineral (HS 27) USD 21,42 miliar serta besi dan baja (HS 72) USD 13,95 miliar.

Sementara itu, tiga negara mitra dagang yang berkontribusi terhadap surplus perdagangan nonmigas pada periode Januari–September 2026 adalah AS dengan USD 17,37 miliar, India dengan USD 10,81 miliar, dan Filipina USD 6,25 miliar.

Capaian kumulatif ini menunjukkan jika Indonesia konsisten dalam mempertahankan pasar tradisional dan tetap mendorong diversifikasi pasar ke negara-negara tujuan ekspor nontradisional seperti Banglades, Pakistan, dan Mesir yang tercatat masuk dalam 10 teratas mitra dagang penyumbang surplus.

"Capaian ini tidak lepas dari performa kuat sektor nonmigas kita, yang diperkuat daya saing komoditas nasional serta kerja sama strategis yang erat dengan mitra-mitra dagang utama Indonesia," ungkapnya.

Pada September 2026, kinerja ekspor Indonesia mencapai USD 27,59 miliar atau tumbuh 3,68% jika dibandingkan Agustus 2026 (MtM) dan naik 11,87% dibandingkan September 2025 (YoY).

“Kinerja ekspor nasional pada September 2026 yang tumbuh 3,68% dibanding bulan sebelumnya menjadi USD 27,59 miliar mencerminkan resiliensi Indonesia di tengah dinamika global,” ucap Busan.

Ia juga memaparkan, pada Januari–September 2026, total ekspor Indonesia sebesar USD 221,23 miliar tumbuh 5,58% dibandingkan periode yang sama tahun 2025 (CtC). Kinerja ini ditopang ekspor nonmigas yang tumbuh 6,30% dari USD 199,69 miliar ke USD 212,27 miliar, sementara ekspor migas terkontraksi 9,11% (CtC) dari USD 9,86 miliar ke USD 8,96 miliar.

"Penguatan ini ditopang secara konsisten oleh sektor industri pengolahan yang sejalan dengan program hilirisasi untuk meningkatkan ekspor produk bernilai tambah," tuturnya.

Sektor industri pengolahan juga menjadi penopang utama ekspor Januari–September 2026 dengan nilai ekspor USD 182,83 miliar, berkontribusi sebesar 82,64% terhadap total ekspor, dan tumbuh sebesar 8,93% (CtC). Untuk ekspor sektor pertanian turun sebesar 18,42%, diikuti sektor migas yang turun 9,11% serta sektor pertambangan dan lainnya yang turun 5,46% (CtC). 

Berdasarkan negara tujuan utama ekspor nonmigas selama Januari–September 2026, Tiongkok di posisi pertama dengan nilai USD 54,17 miliar dan pangsa ekspor sebesar 25,52%, disusul AS USD 25,39 miliar dan pangsa 11,96%, serta India sebesar USD 15,00 miliar dengan pangsa 7,07%.

Adapun negara tujuan ekspor nonmigas Indonesia dengan pertumbuhan terbesar meliputi Hong Kong dengan kenaikan 43,69%, Mesir dengan 26,90%, dan Tailan 20,50% (CtC).

Sementara itu, kinerja impor Indonesia pada September 2026 mencatatkan nilai USD 24,23 miliar, naik 5,09% dibandingkan Agustus 2026 (MtM) dan tumbuh 18,41% dibandingkan September 2025 (YoY). Kenaikan impor bulanan ini didominasi oleh pertumbuhan impor barang modal sebesar 12,14%, disusul barang konsumsi yang naik 6,40% serta bahan baku dan penolong yang naik 3,12% (MtM).

Secara kumulatif Januari–September 2026, total impor Indonesia mencapai USD 210,63 miliar, meningkat 19,67% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (CtC) dengan USD 176,01 miliar. Dari sisi komoditasnya, garam, belerang, batu, dan semen (HS 25) tumbuh 127,03% serta bijih logam, terak, dan abu (HS 26) naik 51,67% (CtC).

Berdasarkan negara asalnya, impor nonmigas Indonesia pada Januari—September 2026 didominasi oleh Tiongkok, Jepang, dan Australia dengan kontribusi gabungan mencapai 52,94% dengan nilai impor sebesar USD 94,27 miliar. Kemudian, negara asal impor nonmigas dengan pertumbuhan terbesar, seperti, Prancis yang naik 122,95%, Rusia 54,78% dan Argentina 52,09% (CtC).

“Hal ini membuktikan bahwa impor yang terjadi sifatnya produktif dan merupakan penyebab utama bagi ekspansi sektor pengolahan dalam negeri,” tukas Busan.

Related News