• 5 November 2026

Elaborasi Pertanian-Peternakan Wargi Saluyu Bangun Ekonomi Warga

uploads/news/2026/11/elaborasi-pertanian-peternakan-wargi-saluyu-653960859f506ff.jpeg

Jagad Tani - Memadukan antara sektor peternakan dan pertanian, dapat membangun usaha produktif yang tidak hanya menghidupi anggota kelompok, tetapi juga memberi manfaat bagi masyarakat sekitar, seperti yang dilakukan Kelompok Wargi Saluyu.

Bukan hanya beternak domba dan sapi untuk dipelihara dan dijual, kelompok yang berlokasi di Desa Pasirlangu, Kabupaten Bandung Barat ini bahkan berhasil mengolah kotoran ternak menjadi pupuk organik bernilai ekonomi.

Baca juga: Satgas Pangan Harus Perketat Pengawasan Penyaluran Beras SPHP

Menurut Jajang Rohendi, Ketua Kelompok Wargi Saluyu, semuanya bermula pada tahun 2020, ketika pandemi Covid-19 membuat banyak warga kehilangan pekerjaan, yang tergerak untuk mengajak masyarakat di lingkungannya untuk membangun usaha bersama.

“Kebetulan, di lingkungan kami sudah banyak yang beternak domba. Kemudian kami bermusyawarah untuk membentuk kelompok agar bisa belajar bersama dan mengembangkan usaha peternakan,” ujarnya dalam siaran pers, Kamis (29/10).

Dengan membentuk kelompok, para peternak dinilai dapat membangun usaha bersama agar dapat berkembang, sebab anggotanya bisa saling bertukar pengalaman, memperluas komunikasi, dan memperoleh berbagai akses yang dibutuhkan dalam menjalankan usaha.

Saat ini, Wargi Saluyu memiliki 20 anggota yang bergerak di bidang peternakan, pertanian, dan pengolahan limbah ternak. Pada sektor peternakan, kelompok ini mengelola sekitar 150 ekor domba dan 10 ekor sapi.

Adapun untuk sektor pertanian, para anggota membudidayakan berbagai komoditas, mulai dari paprika, seledri, kol, brokoli, tomat, dan selada, yang bisa menjadi modal bagi kelompok untuk mengoptimalkan potensi sumber daya lokal.

Dalam menjalankan usaha peternakan, ada berbagai aspek pemeliharaan yang dinilai perlu diperhatikan, mulai dari ketersediaan pakan, kesehatan ternak, hingga kebersihan kandang.

Jajang melanjutkan, bahwa untuk memenuhi kebutuhan hijauan, mereka menanam rumput odot, disertai pemberian konsentrat dan bahan pakan tambahan sesuai kebutuhan ternak.

Selain itu, ada banyak tantangan yang dihadapi, Musim kemarau, misalnya, kerap menyulitkan peternak dalam memenuhi kebutuhan pakan karena rumput mulai mengering dan bahan pakan tambahan lebih sulit diperoleh.

“Kalau musim kemarau, tantangan terbesar kami adalah pakan. Rumput mulai kering dan bahan pakan tambahan juga lebih sulit didapatkan. Karena itu, ketersediaan pakan menjadi hal yang harus benar-benar diperhatikan dalam pemeliharaan domba,” jelasnya.

Di tengah tantangan tersebut, upaya yang dilakukan yakni dengan mengolah kotoran ternak menjadi pupuk organik. Sebab kotoran domba, bagi kelompoknya merupakan sumber daya yang bisa diolah kembali menjadi produk bermanfaat dan menghasilkan pendapatan.

Setidaknya sekitar 140 kilogram pupuk organik mampu diproduksi setiap hari atau setara empat karung. Pupuk dijual dengan harga Rp30.000 per karung dan dipasarkan kepada masyarakat sekitar yang sebagian besar berprofesi sebagai petani.

“Selain menjual hasil peternakan domba, kami mengolah kotorannya menjadi pupuk organik. Pupuk ini dipasarkan di sekitar lingkungan kami karena banyak masyarakat yang bekerja sebagai petani,” terang Jajang.

Hasil penjualannya turut membantu memenuhi kebutuhan operasional peternakan, termasuk pembelian konsentrat dan bahan pakan tambahan, sehingga menciptakan hubungan yang saling menguntungkan antara peternakan dan pertanian.

Petani memperoleh pupuk organik untuk membantu menyuburkan tanaman, sementara peternak dapat memanfaatkan hasil samping pertanian yang sesuai sebagai sumber pakan. 

Namun, kekompakan, kepercayaan, dan keterbukaan antaranggota justru menjadi fondasi penting agar kelompok dapat bertahan dan terus berkembang. Terlebih, kerja sama dengan berbagai pihak membutuhkan komunikasi serta pengelolaan kelompok yang baik.

“Yang paling utama adalah saling percaya, jujur, transparan, dan menjaga komunikasi. Kalau ada bantuan atau dukungan dari pihak lain, semuanya harus terbuka. Dengan begitu, anggota bisa terus bekerja sama dan kelompok dapat berkembang,” tuturnya.

Melalui pengalamannya yang sudah menekuni peternakan sejak awal 2000-an, Jajang berkeyakinan jika sektor ini dapat menjadi sumber penghidupan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, termasuk membiayai pendidikan anak.

“Saya sendiri merasakan bahwa peternakan bisa membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga dan menyekolahkan anak. Sekarang peluang pemasaran juga semakin luas. Yang penting, kita mau menekuni, belajar, dan terus mengembangkan usaha,” terang Jajang.

Jajang juga berharap agar Wargi Saluyu dapat terus berkembang, baik dari sisi populasi ternak, kapasitas kandang, maupun usaha pertanian dan pengolahan limbah. Serta ingin peternakan domba kelompoknya bisa bermanfaat lebih luas bagi masyarakat di Kecamatan Cisarua dan Kabupaten Bandung Barat.

Related News