Stok Beras Jatim Siap Antisipasi Gejolak Harga Nataru
Jagad Tani - Menjelang Natal 2026 dan Tahun Baru 2027 (Nataru), dukungan stok beras dari Perum Bulog ke Jawa Timur mencapai 1,13 juta ton. Diperkirakan stoknya mampu bertahan hingga 14 bulan, untuk menjaga ketersediaan pasokan serta antisipasi potensi gejolak harga selama Nataru.
Deputi Bidang Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas), Andriko Noto Susanto, menegaskan agar seluruh pemangku kepentingan terkait memastikan stabilitas harga pangan tetap terkendali selama Nataru. Momentum ini diharapkan dapat diikuti lewat penurunan harga pangan, bukan justru kenaikan.
Baca juga: Indonesia Berpotensi Kembangkan Garam Premium Bernilai Tinggi
“Prinsipnya Presiden pengin Nataru, Natal dan Tahun Baru itu tidak boleh ada kenaikan harga pangan. Justru yang diharapkan sebenarnya penurunan harga pangan,” ujar Andriko dalam Rapat Koordinasi bersama Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Timur, Perum Bulog, serta Ditreskrimsus Polda Jawa Timur di Surabaya, Kamis (29/10/2026).
Menurutnya, stabilitas harga harus berjalan seiring dengan tersedianya pasokan dan kelancaran distribusi. Beras sebagai komoditas pangan pokok masyarakat tidak boleh jadi objek yang merugikan konsumen. Sehingga pengawasan terhadap pergerakan harga dan distribusi perlu diperkuat agar tidak ada pihak yang memanfaatkan momentum peningkatan permintaan untuk mempermainkan harga.
“Jadi harus pastikan stabil harganya, stabil pasokannya. Tidak boleh orang mempermainkan harga beras karena menyangkut hajat hidup orang banyak,” terang Andriko.
Sementara itu, Wakil Pemimpin Wilayah Perum Bulog Jawa Timur, Bardian Yulisita, mengatakan bahwa stok beras 1,13 juta ton tersebut dinilai kuat dalam menghadapi momentum Nataru dan setelahnya.
“Jadi kalau dari beras sendiri, dari 1,1 juta ton memang dengan kebutuhan penyaluran rata-rata bulanan yang 82.000, ketahanan stok kita untuk beras khususnya beras PSO itu di 14 bulan. Jadi memang masih cukup aman,” ungkap Bardian.
Berdasarkan laporan manajerial Perum Bulog per 29 Oktober 2026, stok beras nasional tercatat sebanyak 4.585.074 ton, terdiri atas Cadangan Beras Pemerintah (CBP) sebesar 4.560.508 ton dan stok komersial 24.565 ton. Ketersediaan ini jadi salah satu modal untuk menjaga kesinambungan pasokan dan mendukung berbagai intervensi stabilisasi pangan.
Melalui data realisasi tambahan penugasan Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) periode Oktober–Desember 2026 per 29 Oktober 2026, penyaluran di Jawa Timur telah mencapai 21.423,48 ton atau 63,09% dari target 33.957,81 ton.
Penyaluran dilakukan melalui berbagai saluran distribusi, antara lain pengecer di pasar, Rumah Pangan Kita (RPK), dan kegiatan Gerakan Pangan Murah (GPM). Berbagai saluran ini diharapkan dapat memperluas jangkauan distribusi sekaligus memastikan beras SPHP tersedia lebih dekat dengan masyarakat.
Adapun Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Timur, Heru Suseno, menyampaikan dukungan Bulog diperlukan untuk membantu pemerintah daerah menjaga stabilitas harga pangan menjelang Nataru. Ketersediaan stok dan penyaluran SPHP menjadi bagian dari dukungan tersebut.
“Bulog itu kalau misalnya harus mengadakan itu kan punya potensi besar. Stok berasnya lumayan, SPHP-nya cukup banyak, sehingga kita sama-samalah bergerak bareng-bareng supaya di Nataru ini tidak terjadi gejolak harga, khususnya untuk kenaikan,” tutur Heru.
Di sisi lain, intervensi juga diintensifkan melalui pelaksanaan GPM (Gerakan Pangan Murah). Untuk periode Oktober–Desember 2026, Jawa Timur merencanakan GPM di 175 titik, terdiri atas 25 titik yang dikoordinasikan pemerintah provinsi dan 150 titik melalui Disperindag. Hingga evaluasi berlangsung, pemerintah provinsi telah merealisasikan 5 titik, sementara Disperindag telah melaksanakan 42 titik.

