• 28 October 2026

Komisi IV Dorong Pemulihan Ekonomi Petani-Nelayan Korban Karhutla

uploads/news/2026/10/komisi-iv-dorong-pemulihan-805180808b1eef2.jpg

Jagad Tani -  Selama lima bulan terakhir, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dinilai anggota Komisi IV DPR RI, Rokhmin Dahuri, mengancam kehidupan petani, nelayan, peternak, dan masyarakat yang bergantung pada sektor pangan.

Menurutnya, karhutla tidak hanya menimbulkan kerusakan lingkungan, tetapi juga kerugian ekonomi, gangguan kesehatan, serta risiko penurunan produksi pangan akibat kekeringan dan kenaikan suhu.

Baca juga: Mantan Juragan Peternakan Wyoming Konser di GBK

“Saya ingin mengucapkan rasa empati dan prihatin kepada seluruh rakyat Indonesia, khususnya petani, nelayan, peternak, dan stakeholder lain di bidang pangan yang sudah lima bulan terakhir ini terkena dampak,” ungkapnya melalui siaran pers Parlementaria, Rabu (28/10).

Melalui survei Center of Economic and Law Studies (CELIOS) diperkirakan kerugian ekonomi akibat karhutla mencapai lebih dari Rp130 triliun, dan turut dirasakan oleh masyarakat yang menggantungkan penghidupan pada sektor pertanian, perikanan, dan peternakan.

“Dampak karhutla ini luar biasa, bukan hanya aspek ekonomi yang menurut survei CELIOS mencapai lebih dari Rp130 triliun, tetapi juga dampak kesehatan, kemudian dampak terhadap saudara-saudara kita, petani, nelayan,” jelasnya.

Dilanjutkan Rokhmin, turunnya hujan di Kalimantan diharapkan dapat membantu meredakan kebakaran. Namun, penanganan karhutla dinilai perlu disertai dengan upaya pemulihan dan perlindungan ekonomi bagi masyarakat terdampak.

Selain itu, ujarnya, potensi penurunan produksi beras terjadi akibat kekeringan, sehingga perlu memperkuat koordinasi antar lembaga terkait, untuk memperkuat stok pangan, demi kebutuhan nasional. 

“Produksi beras memang tahun ini dibandingkan dengan tahun lalu kelihatan akan menurun, tapi mudah-mudahan stok beras yang ada di Bulog dan stok pangan lainnya akan masih mencukupi kebutuhan nasional,” paparnya. 

Bukan hanya beras, ketersediaan komoditas pangan lain, seperti jagung, cabai, telur, dan daging ayam dianggap perlu dijaga, dan distribusi pangan pun harus dipastikan berjalan efektif, terutama ke wilayah yang mengalami gangguan produksi.

Adapun tunjuk sektor pertanian, Rokhmin menilai ketersediaan air bagi lahan yang terdampak kekeringan itu diperlukan, seperti pemanenan air hujan, pemanfaatan sumber air sungai, dan penyediaan irigasi pompa, harus dioptimalkan agar petani bisa menjalankan kegiatan aktivitasnya.

“Kalau memang ada daerah-daerah lahan pertanian yang masih kekurangan air, harusnya pemerintah dalam hal ini Kementerian Pertanian sudah melakukan pemanenan air hujan,” sambungnya.

Dalam jangka panjang, ia menilai karhutla bukan semata-mata disebabkan fenomena alam seperti El Niño, tetapi juga aktivitas manusia dan tata kelola lahan, misal pembukaan lahan untuk perkebunan, pertambangan, dan permukiman di kawasan hutan lindung, hutan konservasi, serta ekosistem gambut.

“Kesimpulannya, karhutla di Tanah Air Tercinta ini bukan semata-mata karena fenomena alam yaitu El Niño, tetapi karena ulah manusia,” tegasnya.

Related News