• 28 October 2026

Perum Bulog Jadi Off-Taker Serap Jagung Petani

uploads/news/2026/10/perum-bulog-jadi-off-taker-20134c29668c184.jpg

Jagad Tani - Serapan jagung petani dioptimalkan peranannya oleh Perum Bulog sebagai pembeli siaga (off-taker), sebab jagung pipilan kering berkadar air 18–20% dapat diserap sesuai ketentuan pengadaan dan diolah untuk memenuhi standar kualitas Cadangan Jagung Pemerintah (CJP).

Hal ini dinilai oleh Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman sebagai bagian dari pembenahan rantai pasok jagung guna memenuhi kebutuhan pakan serta menjaga hasil panen petani agar bisa terserap.

Baca juga: Apotek Hidup Tersembunyi di Hutan Mangrove Aceh

“Pak Dirut Bulog, sampaikan seluruh Indonesia jangan sampai dia (pimpinan wilayah) tidak paham, 14% (kadar airnya) ditolak, 20% (ambil). Tolong yang 100 ini titik-titik strategis atur. Jadi yang (kadar airnya) 20% diterima,” ujar Amran di Jakarta, Selasa (27/10).

Ketentuan tersebut, diungkapkan Amran, sejalan dengan Instruksi Presiden Nomor 3 Tahun 2026 tentang Pengadaan dan Pengelolaan Jagung Dalam Negeri serta Penyaluran Cadangan Jagung Pemerintah Tahun 2026–2029.

Pada 2026 target pengadaan jagung dalam negeri ditetapkan minimal 1 juta ton dengan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) Rp5.500 per kilogram untuk jagung pipilan kering berkadar air 18–20% di tingkat petani.

Sementara itu, Keputusan Kepala Bapanas Nomor 216 Tahun 2025 menetapkan HPP Rp6.400 per kilogram untuk jagung pipilan kering berkadar air maksimal 14% dengan aflatoksin maksimal 50 part per billion (ppb) di gudang Bulog.

Dengan kata lain, jelasnya, jagung berkadar air 18–20% dapat diserap berdasarkan ketentuan yang berlaku, sedangkan standar kadar air maksimal 14% diterapkan untuk pengadaan di gudang Bulog.

Dilanjutkan bahwa, kepastian penyerapan jadi bagian dari sistem terintegrasi yang dibangun untuk menghubungkan petani jagung dengan peternak unggas. Melalui koperasi, produksi jagung direncanakan berdasarkan kebutuhan pakan. 

“Makanya kita closed system, perbaiki dulu. Mudah-mudahan satu tahun, dua tahun tidak ada lagi terjadi keluhan. Jadi kami mengatur dari hulu ke hilir,” ungkap Amran.

Sementara kelebihan hasil panen disalurkan lewat mekanisme penyerapan yang disiapkan. Adapun kebutuhan jagung pakan diperkirakan mencapai 1,8 juta ton.

Untuk memenuhi kebutuhan tersebut serta menyediakan cadangan pasokan, penanaman jagung di lahan seluas 300 ribu hektare dirancang dengan asumsi produktivitas tujuh ton per hektare, dan produksinya diproyeksi mencapai 2,1 juta ton.

“Dari hulu, antara peternak dengan petani jagung, ini satu kesatuan. Ini sistem baru yang kita bangun, closed system. Dia menyatu dalam satu koperasi, kemudian kita hitung lagi kebutuhannya berapa,” terangnya.

Demi menjaga keseimbangan antara produksi dan kebutuhan pakan, Perum Bulog disiapkan menyerap kelebihan pasokan ketika kebutuhan peternak di suatu wilayah telah terpenuhi melalui mekanisme Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) jagung pakan.

“Nah, caranya adalah, kalau peternakannya sudah cukup, ada jagung berlebih, ini tidak boleh masuk pihak lain, di wilayah ini, 300 ribu hektare. Kalau berlebih, Bulog menjadi off-taker. Katakan berlebih, 300 ribu ton-an, ini menjadi off-taker, Bulog yang mengambil,” tandasnya.

Sejalan dengan penguatan serapan dan distribusi,  program SPHP jagung pakan. Hingga 27 Oktober 2026, realisasi SPHP jagung pakan mencapai 216,8 ribu ton dan telah menjangkau 11.646 peternak unggas melalui 151 koperasi dan asosiasi yang tersebar di 29 provinsi.

Pada saat yang sama, di tahun 2026 alokasi SPHP jagung pakan mencapai 391,9 ribu ton setelah penambahan 150 ribu ton dari alokasi awal sebesar 241,9 ribu ton. Alokasi tersebut meningkat hampir delapan kali lipat dibandingkan dengan alokasi 2025 yang sebesar 51,2 ribu ton.

Related News