• 26 October 2026

Pemuda Sumut Ikuti Bimtek Kewirausahaan Kreatif Kehutanan

uploads/news/2026/10/pemuda-sumut-ikuti-bimtek-42621505852e5e7.jpeg

Jagad Tani - Melalui Pusat Pengembangan Generasi Pelestari Hutan (Pusgenri) yang ada di bawah naungan Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM (BP2SDM), Bimbingan Teknis (Bimtek) Kewirausahaan Kreatif Kehutanan digelar.

Berlangsung selama tiga hari, sejak 21 hingga 23 Oktober 2026, kegiatan bertajuk "Budidaya dan Digitalisasi Pemasaran Produk Lebah Trigona (Trigona spp.) Generasi Pelestari Hutan" ini digelar di Wana Wiyatadyakarya KTH Melati dan Balai Desa Sigumuru, Padangsidimpuan, Sumatra Utara.

Baca juga: Budikdamber Fapersi, Solusi Budidaya Ikan Lahan Sempit

Adapun peserta yang terlibat berjumlah 65 orang, dari generasi muda berusia 18 hingga 35 tahun yang berasal dari Kabupaten Tapanuli Selatan, Kabupaten Mandailing Natal, dan Kota Padangsidimpuan.

Menurut Kepala Bidang Kewirausahaan Kreatif Kehutanan dari Pusat Pengembangan Generasi Pelestari Hutan (Pusgenri), Marwoto, menegaskan bahwa hutan adalah lumbung kesejahteraan yang menanti kreativitas generasi muda.

"Hutan bukan sekadar hamparan pohon yang harus kita jaga agar tetap hijau dan lestari. Lebih dari itu, hutan adalah sumber kehidupan, penyedia jasa lingkungan, sekaligus lumbung kesejahteraan," ujar Marwoto dalam sambutan pembukaannya, Rabu (21/10).

Dilanjutkan bahwa salah satu komoditas unggulan  Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) yang bernilai ekonomis tinggi dan ramah lingkungan adalah lebah madu tanpa sengat atau lebah Trigona.

Bahkan wilayah Tapanuli Selatan, Mandailing Natal, dan Padangsidimpuan dinilai memiliki vegetasi rimbun dan iklim yang sangat ideal sebagai habitat lebah Trigona.

Untuk budidaya lebah Trigona, Marwoto mengganggap, sangat ramah lingkungan karena tidak membutuhkan lahan luas dan tidak merusak pohon. Produk turunan seperti madu klanceng, propolis, hingga bee pollen memiliki nilai ekonomi tinggi di pasar.

"Menekuni budidaya lebah Trigona berarti kita sedang menanam investasi kelestarian lingkungan, sekaligus menciptakan lapangan kerja hijau," jelas Marwoto.

Namun, penguasaan teknik budidaya saja tidak cukup, sehingga Bimtek ini juga mengintegrasikan materi Digitalisasi Pemasaran. Para peserta dibekali kemampuan storytelling, pembangunan merek (branding), strategi menembus pasar e-commerce dan media sosial oleh para praktisi seperti Founder Kampung Digital dan Guru Optimasi Pemasaran Online.

Produk lokal diharapkan mampu dikemas dengan estetika tinggi dan menjangkau pasar global. Selama 24 Jam Pelajaran (JP), peserta tidak hanya menerima materi teori, tetapi juga praktik langsung di lapangan bersama para penyuluh dan praktisi budidaya dari Nabonggal Bee Farm dan Fitorajo Bee Farm.

Di akhir pelatihan peserta diwajibkan menyusun Rencana Aksi (blueprint) usaha yang siap dieksekusi sekembalinya ke daerah asal. Hal ini bertujuan untuk memastikan terciptanya sentra-sentra wirausaha kehutanan baru yang tangguh di tingkat lokal.

Related News