Jalur Laut Jadi Kunci Stabilitas Harga Cabai
Jagad Tani - Pengiriman pasokan cabai perlu dijaga kelancaran distribusinya terutama pengiriman lewat jalur laut, agar harganya tetap terjaga, menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru).
Hal itu disampaikan oleh Sekretaris Utama Badan Pangan Nasional (Bapanas) Ito Hediarto di sela kegiatan Gerakan Pangan Murah (GPM) dalam rangka Hari Pangan Sedunia (HPS) 2026 di Makassar, Sulawesi Selatan.
Baca juga: Pendapatan Nelayan Barru Meningkat Lewat Apartemen Ikan
“Pengiriman cabai ke daerah yang harus melewati laut kerap tersendat di jalan. Kondisi itu dapat menurunkan pasokan di daerah tujuan dan akhirnya mendorong harga naik," ungkap Ito melalui keterangan tertulisnya Kamis (22/10).
Guna menjaga harga, perkembangannya dipantau lewat rapat inflasi yang digelar setiap Senin. Sebab cabai dan beras dinilai sebagai dua komoditas yang sering kali naik menjelang akhir tahun.
Untuk mengatasi persoalan distribusi, disediakan fasilitasi distribusi pangan (FDP), yang membantu memobilisasi pasokan dari daerah surplus ke daerah yang membutuhkan, sehingga beban biaya distribusi berkurang dan cabai bisa sampai ke konsumen dengan harga lebih terjangkau.
Berdasarkan Data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dipaparkan dalam rapat koordinasi pengendalian inflasi, Senin (19/10), setidaknya hampir 90% kabupaten/kota masih mengalami kenaikan harga cabai.
Adapun realisasi anggaran FDP saat ini sekitar 69,5%, dan masih ada sekitar 30,5% anggaran yang tersedia untuk daerah yang mengalami kenaikan harga ekstrem. Distribusi cabai juga muncul di telekonferensi GPM nasional yang menghubungkan Jakarta dengan sejumlah daerah.
Untuk ketersediaan beras bagi masyarakat selama Nataru. Ito menilai pihaknya telah berkoordinasi dengan Perum Bulog agar beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) dan bantuan pangan tersedia setiap bulan.
Sementara itu, Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani menjelaskan, pihaknya telah diperintahkan untuk menyalurkan bantuan pangan pada periode Oktober hingga Desember 2026 sesuai surat Bapanas. Tinggal menunggu data penerima dari Kementerian Sosial.
Stok beras di Perum Bulog per 21 Oktober 2026 mencapai 4,56 juta ton beras, dan pihak Bulog juga ditugaskan untuk menyalurkan 1,03 juta ton beras SPHP di seluruh Indonesia sepanjang 2026, serta 391.000 ton jagung SPHP bagi peternak.

