Apotek Hidup Tersembunyi di Hutan Mangrove Aceh
Jagad Tani - Pemanfaatan tumbuhan dari hutan mangrove sebagai sumber tanaman obat bagi masyarakat Tadu Raya, Kabupaten Nagan Raya, Aceh, selama ini sudah dilakukan untuk membantu mengatasi berbagai keluhan kesehatan.
Peneliti dari Pusat Riset Teknologi Hidrodinamika dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Alin Fithor, menyampaikan bahwa dalam penelitian terbaru, ditemukan sembilan jenis tumbuhan mangrove yang berpotensi sebagai tanaman obat.
Baca juga: Ritual Tatorbhangan Bisa Bangunkan Potensi Pertanian Desa
Sembilan jenis tumbuhan itu, terdiri dari tujuh mangrove sejati dan dua tumbuhan yang berasosiasi dengan ekosistem mangrove. Untuk tumbuhan yang terasosiasi oleh ekosistem mangrove yaitu Acanthus ilicifolius dan Nypa fruticans.
“Tumbuhan jenis mangrove sejati yaitu Avicennia marina, Bruguiera gymnorrhiza, Rhizophora apiculata, Rhizophora mucronata, Rhizophora stylosa, Sonneratia alba, dan Sonneratia caseolaris,” jelas Alin dalam keterangannya, Kamis (22/10).
Dilanjutkan bahwa, pemanfaatan tumbuhan dari hutan mangrove untuk membantu menjaga kesehatan telah lama dilakukan oleh masyarakat lokal, terutama pada bagian daun dan buahnya.
Adapun pemanfaatan tanaman tersebut, digunakan untuk mengobati berbagai keluhan kesehatan, mulai dari memar, luka bakar, cacar air, demam, diare, gatal-gatal, luka pada kulit, sakit perut, sariawan, hingga sakit gigi.
“Salah satu tanaman yang dimanfaatkan masyarakat adalah Rhizophora apiculata atau bakau. Masyarakat menggunakan bagian daun dan buahnya untuk membantu mengatasi sariawan, sakit gigi, dan luka,” ungkapnya.
Untuk Rhizophora mucronata, lanjut Alin, biasanya oleh masyarakat dimanfaatkan untuk mengobati diare, sakit perut, dan luka pada kulit. Melalui penelitiannya, juga terungkap sejumlah kandungan senyawa bioaktif di tanaman mangrove.
Tercatat, di dalamnya ada senyawa seperti alkaloid, fenolik, steroid, terpenoid, flavonoid, dan saponin. Senyawa tersebut memiliki potensi dalam aktivitas antibakteri, antikanker, antidiabetes, antijamur, antiinflamasi, antitumor, dan antivirus.
“Meskipun demikian, kami membedakan tanaman obat tradisional dengan tanaman yang telah terbukti secara ilmiah memiliki khasiat medis. Oleh karena itu, potensi tanaman mangrove sebagai bahan obat masih membutuhkan penelitian,” jelasnya.
Penelitian yang dipublikasikan di Biodiversitas Journal of Biological Diversity Volume 27 Nomor 3 pada Maret 2026 berjudul "Species Composition and Medicinal Uses of Mangrove Plants in Southwest Aceh, Indonesia" ini diteliti oleh Alin Fithor, Wintah, Moh. Husein Sastranegara, dan Kiswanto.
Melalui penelitian tersebut, hutan mangrove di Tadu Raya dinilai punya nilai ekologis dan nilai budaya bagi masyarakat. Sebab selain mendukung ekosistem pesisir, juga tersimpan pengetahuan lokal mengenai pemanfaatannya sebagai tanaman obat yang dapat terus dikaji melalui penelitian ilmiah.
“Penelitian ini menyediakan dokumentasi dasar yang dapat mendukung pengelolaan mangrove, edukasi masyarakat, serta penelitian selanjutnya untuk memvalidasi efektivitas farmakologis dan memperkuat pemanfaatan mangrove secara berkelanjutan,” tukas Alin.

