Jelang Panen Raya di Wanam, Konektivitas Digencarkan
Jagad Tani - Pemenuhan kebutuhan air di Kampung Wanam, Kabupaten Merauke, Papua Selatan, sebagai Kawasan Swasembada Pangan, Energi, dan Air Nasional (KSPEAN) menjelang panen raya padi di bulan November terus dilakukan.
Kesiapan sumber air dinilai Menteri Pekerjaan Umum (PU), Dody Hanggodo menjadi salah satu variabel penting menjelang panen. Salah satu alternatifnya adalah memanfaatkan air rawa dengan estimasi ketersediaan volume air sekitar 160.000 meter kubik.
Baca juga: Ekosistem Ikan Danau Mawang Terancam Ledakan Alga
“Sekitar Oktober-November akan ada panen raya padi di Wanam sekitar 180 hektare, (produksi) bisa sekitar 130-140 ton,” ujar Dody dalam siaran pers-nya (29/9) lalu.
Di Lokasi panen raya perdana tersebut, luas pengolahan tanah mencapai 220 hektare dengan luas penanaman hingga 127 hektare. Pada lokasi tanam bagian selatan seluas 107 hektare, kebutuhan air tercatat 48.384 meter kubik dengan ketersediaan 52.410 meter kubik.
Sementara di bagian utara seluas 20 hektare, kebutuhan air mencapai 34.560 meter kubik dengan ketersediaan 805 meter kubik sehingga masih terdapat defisit yang perlu dipenuhi melalui sumber air alternatif.
Pengembangan KSPEAN Wanam merupakan amanat Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 14 Tahun 2025 mencakup lahan seluas 10.000 hektare. Hingga 25 September 2026, realisasi pembangunan infrastruktur Sumber Daya Air (SDA) mencapai sekitar 125,6 kilometer dari total target 179,1 kilometer.
Memiliki karakteristik hidrotopografi yang berbeda, mulai dari lahan kering, semi-basah, hingga rawa. Membuat kawasan lahan tersebut, membutuhkan sistem pengelolaan air yang disesuaikan dengan karakteristik masing-masing kawasan.
Sementara Direktur Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan (Kemenhub), Muhammad Masyhud, mengatakan pihaknya tengah menyiapkan anggaran Pelabuhan Wanam yang menjadi bagian dari alokasi anggaran Ditjen Perhubungan Laut 2027.
Pembangunan pelabuhan tersebut mengacu pada Perpres Nomor 12 Tahun 2025 dan Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 2025, bahkan anggaran Rp 50 miliar pada 2027 disiapkan untuk mendukungguna menopang pengembangan kawasan swasembada pangan nasional.
"Dukungan pelabuhan Wanam berdasarkan pada Perpres 12 Tahun 2025, serta secara khusus mengikuti Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 2025 tentang percepatan pembangunan kawasan swasembada pangan, energi, dan air nasional," ujar Masyhud saat rapat bersama Komisi V DPR RI di Gedung Parlemen, Kamis (3/9/2026).
Adapun anggaran Rp50 miliar dinilai akan digunakan untuk menyelesaikan area darat Pelabuhan Wanam. Pelabuhan Wanam jadi salah satu kegiatan dalam program infrastruktur konektivitas Ditjen Perhubungan Laut.
Pada tahun 2027, program tersebut mendapat alokasi Rp 7 triliun dari total pagu Ditjen Perhubungan Laut sebesar Rp 9,82 triliun. Secara keseluruhan, Ditjen Perhubungan Laut mengalokasikan Rp 8,49 triliun atau 86,48% dari total pagu untuk kegiatan wajib.
Selain Pelabuhan Wanam, anggaran 2027 juga diarahkan untuk berbagai proyek konektivitas dan keselamatan transportasi laut, seperti layanan angkutan perintis, angkutan barang dan ternak, pembangunan serta rehabilitasi pelabuhan, hingga pemeliharaan sarana navigasi.
Bahkan pada Senin (19/10/2026) Yayasan Merah Pusaka Stratejik Indonesia (MPSI) turut memperkuat kompetensi masyarakat adat Kampung Wanam, Distrik Ilwayab, di bidang pertanian melalui praktik lapangan dan pelatihan.
"Peningkatan kompetensi masyarakat adat dalam bidang pertanian menjadi kebutuhan penting di tengah berkembangnya aktivitas pembangunan dan investasi di wilayah tersebut," ujar Anggota Tim Pemberdayaan Masyarakat MPSI Dadan Ramlan dikutip dari Antara Selasa (20/10).
Penguatan keterampilan budidaya, pendampingan teknis, serta akses terhadap sarana produksi dan pemasaran, dinilai Dadan perlu, agar masyarakat bisa mengoptimalkan potensi wilayahnya jadi sumber kesejahteraan yang berkelanjutan.
Melalui proses pembelajaran dan diskusi, masyarakat diharapkan bisa memahami pertanian tidak hanya soal kemampuan menanam, tetapi juga meliputi perencanaan produksi, pemilihan komoditas, pemeliharaan tanaman, pengelolaan hasil panen, hingga pemasaran.
"Proses tersebut menjadi bekal bagi masyarakat untuk membangun kerja sama dan membentuk enam kelompok tani perempuan yang diharapkan mampu mengembangkan usaha pertanian secara kolektif," jelasnya.
Adapun Kepala Kampung Wanam, Kosmas Serilius Kaize menjelaskan soal pentingnya pengembangan pertanian sebagai salah satu sumber pendapatan masyarakat khususnya perempuan adat.
Peningkatan keterampilan, menurut Kosmas, perlu jadi perhatian supaya potensi yang tersedia di Kampung Wanam bisa dimanfaatkan secara produktif dan memberikan manfaat bagi keluarga.
"Pertanian perlu dikembangkan agar masyarakat memiliki sumber penghidupan dan pendapatan tambahan. Karena itu, keterampilan masyarakat harus terus ditingkatkan supaya potensi yang ada di Kampung Wanam dapat dimanfaatkan," tukasnya.

