Tembus Rp127.604/Kg, Cabai Rawit Sulut Kini Disuplai Jatim
Jagad Tani - Fluktuasi harga cabai rawit merah yang terjadi di daerah bukan sentra produksi seperti Manado, Sulawesi Utara, akhirnya dikirimkan hasil panenan dari Champion Cabai Probolinggo, Jawa Timur, melalui Program Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP).
Ada sebanyak 3 ton atau dalam kemasan 100 koli dikirimkan melalui angkutan udara, dan nantinya pasokan cabai rawit merah bersubsidi tersebut dilepas melalui program Gerakan Pangan Murah (GPM) untuk menyasar masyarakat yang ada di Manado, Minahasa Utara, dan Tomohon.
Baca juga: Grobogan Bakal Dilakukan Pengembangan Kedelai Seluas 5000 Hektare
"Bulan kemarin inflasi yang paling terbesar, nomor satu itu adalah cabai rawit. Kemudian cabai merah. Jadi cabai-cabaian ini seluruhnya, inflasinya sangat tinggi, harus segera kita redam," ujar Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas) Hermawan, Sabtu (17/10).
Komoditas cabai ini dinilai Hermawan memang mengalami inflasi yang cukup tinggi di bulan September, sehingga pihaknya membantu memberi subsidi untuk pengiriman ke daerah yang bukan sentra produksi, sebab harga cabai harus ditekan agar inflasi bisa lebih terkendali.
Berdasarkan pantauan harga Bapanas, untuk wilayah Sulawesi Utara mengalami fluktuasi harga cabai rawit merah tingkat konsumen yang cukup tinggi. Per 16 Oktober, rerata harga cabai rawit merahnya menyentuh harga Rp127.604/kg.
Juka dibandingkan dengan kondisi rerata harga cabai rawit merah di Jawa Timur, perbedaan harganya cukup jauh, sebab per 16 Oktober, rerata harga cabai rawit merah Jawa Timur berada di harga Rp58.720 per kg.
Melalui laporan data Badan Pusat Statistik (BPS) komoditas cabai jadi pendorong utama pada inflasi umum di September tahun 2026. Cabai rawit memiliki andil paling tinggi dengan 0,08% dan cabai merah menyumbang andil 0,06% terhadap inflasi umum secara bulanan.
Provinsi Jawa Timur sendiri termasuk daerah sentra produsen cabai rawit merah. Kemudian Kabupaten Probolinggo sendiri diproyeksikan dapat menghasilkan cabai rawit merah selama Oktober 2026 ini mencapai 3,95 ribu ton dengan luas panen sekitar 770 hektare.
Menurut Direktur Sayuran dan Tanaman Obat (STO) Kementerian Pertanian (Kementan), Sudi Mardianto, sebaran Champion Cabai dapat menjadi solusi pemerataan pasokan dari sentra produksi disalurkan ke daerah yang sedang mengalami fluktuasi harga cabai rawit merah.
"Posisi kabupaten-kabupaten yang keberadaan Champion Cabai, ini adalah salah satu solusi untuk bagaimana kita dapat mengendalikan kondisi harga cabai di beberapa provinsi yang mengalami lonjakan cukup tinggi," ungkapnya saat rapat pengendalian inflasi di Kementerian Dalam Negeri, Jakarta (12/10).
Dilanjutkan bahwa produksi komoditas cabai secara nasional selama Oktober ini berada di level yang mencukupi untuk menunjang kebutuhan konsumsi nasional. Surplus ini yang perlu didistribusikan secara merata.
"Jadi untuk cabai, posisi produksi pada bulan Oktober untuk cabai rawit sekitar 133 ribu ton. Kemudian untuk cabai besarnya sekitar 115 ribu ton dan posisi produksi ini apabila dibandingkan dengan tingkat konsumsinya yang berkisar 70 ribu ton, itu sebetulnya kita secara agregat masih mengalami surplus" ucap Sudi.
Upaya produksi cabai nasional pun diperkuat menjelang akhir tahun dan Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Ramadan di awal tahun depan, demi menjaga kestabilan harga cabai saat permintaan konsumsi cenderung naik pada momentum akhir tahun dan HBKN.
"Selama 2 bulan terakhir, kami upayakan agar di hari Natal dan Tahun Baru khususnya dan menjelang Ramadan di tahun 2027, gejolak harga cabai tidak terlalu tinggi. Ini di 2 bulan yang pertama di September-Oktober itu untuk cabai rawit ada sekitar 1.023 hektare tanaman baru. Kemudian untuk cabai besar ada 1.070 hektare," pungkasnya.

