• 17 October 2026

Strategi Menghadapi Cuaca Tak Menentu di Perkebunan

uploads/news/2026/10/strategi-menghadapi-cuaca-tak-635470a0e9d8308.jpg

Jagad Tani - Memasuki bulan Oktober 2026, di tengah kondisi cuaca yang tak menentu, upaya antisipasi potensi penurunan produktivitas harus disusun dengan mempertimbangkan prakiraan curah hujan, karakteristik komoditas, kondisi dan fase pertumbuhan tanaman.

Pada wilayah dengan curah hujan rendah, upaya bisa dilakukan dengan menjaga ketersediaan air dan kelembapan tanah. Sedangkan, wilayah bercurah hujan tinggi perlu mengantisipasi genangan, gangguan akses panen, erosi, serta peningkatan risiko organisme pengganggu tumbuhan (OPT).

Baca juga: Kambing dan Domba Indonesia Diminati Pasar Malaysia

Menurut Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Jenderal Perkebunan, Heru Tri Widarto, kesiapsiagaan dan penanganan yang sesuai kondisi lapangan menjadi kunci untuk mengurangi risiko dampak cuaca terhadap sektor perkebunan.

“Mitigasi perlu dilakukan sejak dini dan disesuaikan dengan kondisi masing-masing wilayah serta kebutuhan komoditas. Kami mendorong petani dan seluruh pemangku kepentingan untuk meningkatkan kewaspadaan, melakukan pemantauan rutin, serta menerapkan langkah adaptasi agar produktivitas perkebunan tetap terjaga,” ujar Heru dalam keterangan resmi dikutip Sabtu (17/10). 

Dilanjutkan bahwa pada wilayah yang bercurah hujan rendah, mitigasi dilakukan melalui penggunaan mulsa dan bahan organik, pemeliharaan penutup tanah, konservasi tanah dan air, serta pemanfaatan rorak atau sarana penampungan air.

Adapun untuk penyediaan air, dinilai perlu diprioritaskan bagi tanaman muda yang rentan mengalami cekaman kekeringan. Langkah ini relevan bagi komoditas seperti kelapa sawit, karet, kopi, kakao, kelapa, dan lada.

Khusus tanaman tebu, pengelolaan air perlu disesuaikan pada fase pertumbuhannya. Tanaman yang masih aktif tumbuh bisa memperoleh pengairan tambahan secara efisien, sedangkan pada fase pemasakan, pemberian air berlebih perlu dihindari dan jadwal tebang disesuaikan kondisi tanaman.

Sementara di wilayah bercurah hujan tinggi, upaya mitigasi mencakup perbaikan dan pemeliharaan drainase, pencegahan genangan, pemangkasan tajuk untuk menjaga sirkulasi udara, serta sanitasi kebun dan pemantauan penyakit tanaman.

Untuk komoditas tanaman karet, kegiatan penyadapan perlu disesuaikan dengan kondisi hujan, sedangkan pada kopi dan kakao, penanganan diarahkan untuk menekan risiko penyakit daun dan buah.

Pada kesempatan yang berbeda, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman, menegaskan pentingnya langkah antisipatif untuk menjaga keberlanjutan produksi pertanian, termasuk subsektor perkebunan.

“Pendampingan kepada petani, penguatan koordinasi, dan penerapan langkah penanganan sesuai kondisi di lapangan harus terus dilakukan agar produktivitas tetap terjaga dan kesejahteraan petani semakin meningkat,” jelasnya.

Melalui mitigasi yang tepat sasaran, lewat koordinasi serta pemantauan perkembangan cuaca dan kondisi tanaman secara berkala selama Oktober 2026, risiko kerugian akibat kondisi cuaca diharapkan bisa ditekan sehingga keberlanjutan usaha perkebunan dan ketersediaan bahan baku tetap terjaga.

Related News