• 15 October 2026

BHS-0 Jadi Sumber Pengairan Petani Musim Kemarau

uploads/news/2026/10/bhs-0-jadi-sumber-pengairan-1749803fce843a1.jpg

Jagad Tani -  Rampung dibangun pada akhir 2025, Bendung Sungai Hulu (BSH-0) di wilayah utara Kabupaten Bekasi mampu menyuplai kebutuhan irigasi untuk 7.252 hektare lahan pertanian, dan menjadi sumber pengairan petani saat memasuki musim kemarau.

Bendungan tersebut mengatur distribusi air menuju Kali Cikarang Bekasi Laut (CBL) dan Kali Srengseng Hilir, sepanjang 38 kilometer, dan melintasi tujuh kecamatan, yakni Karangbahagia, Sukatani, Tambelang, Sukawangi, Sukakarya, Cabangbungin, hingga Muaragembong. Wilayah hilirnya berasa di Desa Pantai Harapan Jaya.

Baca juga: Grobogan Bakal Dilakukan Pengembangan Kedelai Seluas 5000 Hektare

Menurut Kepala Bidang Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) di Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga dan Bina Konstruksi Kabupaten Bekasi, Agung Mulya, pada 2026 sebanyak delapan pintu air Bendung BSH-0 difungsikan untuk mengendalikan dan membagi aliran air menuju jaringan irigasi.

“Tujuan utama pembangunan Bendung BSH-0 adalah mengatasi kebutuhan air pada musim kemarau untuk kawasan pertanian seluas 7.252 hektare. Sektor pertanian menjadi salah satu perhatian pemerintah daerah dalam mendukung program swasembada pangan,” ujar Agung, Kamis (15/10).

Dilanjutkan, Bendung BSH-0 berada di wilayah Desa Kalijaya, Kecamatan Cikarang Barat, dan Desa Sukajaya, Kecamatan Cibitung. Kapasitas tampung airnya hampir 200 meter kubik, dengan delapan pintu air untuk mengendalikan aliran menuju Kali CBL dan dua pintu pengatur aliran menuju Kali Srengseng.

“Pada musim kemarau seperti sekarang, Bendung BSH-0 mampu menjawab harapan petani di wilayah utara. Pasokan air dapat menjangkau area persawahan sehingga kebutuhan irigasi terpenuhi dan diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan petani,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kecamatan Sukakarya, Mulyana mengatakan, manfaat bendungan ini dapat dirasakan oleh petani di Kecamatan Sukakarya, untuk pasokan air pada musim kemarau sehingga petani bisa melakukan penanaman serempak. 

Sebelum bendungan dibangun, lanjut Mulyana, petani kerap bergotong royong memasang cerucuk bambu dan batu kali untuk membendung aliran Kali Cikarang agar air bisa dialihkan menuju Kali Srengseng Hilir, yang dilakukan secara swadaya demi mempertahankan pasokan air ke lahan persawahan.

“Sekarang, meskipun musim kemarau, pasokan air tetap lancar dan masuk ke area persawahan. Petani bisa tanam serempak karena debit air sudah dapat diatur sehingga kebutuhan irigasi terpenuhi,” kata Mulyana.

Selain itu, sebelum ada bendungan, dinilai sejumlah wilayah pertanian, termasuk Kampung Gamprit dan Gempol Payung, kerap mengalami kekurangan air ketika musim kemarau tiba, dan berdampak terhadap pola tanam. 

“Alhamdulillah, sekarang air sudah masuk ke sawah. Tanam bisa dilakukan secara bersamaan, tanaman padi tumbuh hijau, dan gangguan hama yang kami rasakan juga tidak banyak. Ini sangat membantu petani,” ujarnya.

Mulyana menjelaskan, luas lahan pertanian di Kecamatan Sukakarya mencapai hampir 3.767 hektare. Dengan pasokan air yang lebih terjamin, petani di wilayah tersebut berpeluang melaksanakan hingga tiga kali musim tanam dalam setahun.

“Air yang cukup membuat petani lebih tenang menjalani musim tanam. Kami berterima kasih karena kebutuhan air sawah kini lebih terpenuhi. Bahkan, petani menggelar selamatan musim tanam sebagai bentuk rasa syukur atas kelancaran pasokan air,” pungkasnya.

Related News