• 13 October 2026

Anomali Harga Daging-Telur Ayam, Mafianya Harus Ditindak

uploads/news/2026/10/anomali-harga-daging-telur-ayam--15917bfc307f3f7.jpeg

Jagad Tani - Di tengah keluhan peternak ayam akibat rendahnya harga jual, masyarakat pun juga harus membayar lebih mahal untuk mendapatkan komoditas ayam dan telur ayam. Anomali ini, pada akhirnya justru terjadi di tingkat produsen dan konsumen.

Pada akhirnya, Andi Amran Sulaiman selaku Menteri Pertanian (Mentan) meminta agar dugaan permainan harga di rantai distribusi atau middleman ditindaklanjuti bersama aparat penegak hukum.

Baca juga: Ikan Nelayan Rempang Masuk ke Pasar Batam

Menurutnya, kondisi tersebut perlu mendapatkan perhatian karena peternak dan konsumen sama-sama menghadapi persoalan harga, meskipun berada pada sisi yang berbeda.

“Ada yang menarik, inflasi telur ayam, inflasi ayam, inflasi beras, itu yang paling menonjol. Tiga ini menonjol, tapi lucu. Di harga di produsen, di bawah HPP yang ditentukan pemerintah. Jadi, karena harga rendah, peternaknya demo. Tapi dalam waktu bersamaan, konsumen juga berteriak,” ujar Amran, Senin (12/10). 

Dilanjutkan bahwa harga ayam dan telur di tingkat produsen berada di kisaran Rp20.000–Rp21.000, sedangkan di tingkat konsumen dapat mencapai Rp40.000–Rp45.000.

Perbedaan harga tersebut dianggap perlu ditelusuri, karena peternak yang bekerja keras memenuhi kebutuhan pangan justru menghadapi persoalan harga jual, sementara masyarakat harus membayar lebih mahal.

“Harganya Rp20.000, Rp21.000. Tetapi di konsumen bisa Rp40.000, Rp45.000. Middleman ini, ada yang memainkan harga. Kami sudah menyurat ke Pak Kapolri. Kami sudah sepakat, beliau, kalau kolaborasi, kita harus perangi,” jelasnya.

Lebih lanjut, Amran mengatakan dugaan permainan harga tidak boleh dibiarkan terus berlangsung. Penanganan persoalan tersebut butuh koordinasi lintas lembaga, agar dugaan praktik yang merugikan peternak dan konsumen bisa ditelusuri serta ditindak sesuai ketentuan.

Kerja keras peternak dalam menjaga produksi pangan nasional untuk kebutuhan ayam dan telur bahkan sudah mampu terpenuhi, hingga bisa melakukan ekspor. Tapi kondisi harga di dalam negeri justru dinilai tidak sejalan dengan situasi produksi.

“Ini peternak berjibaku, siang malam tidak tidur, kerja berproduksi. Kita surplus, kita ekspor. Tapi harga dalam negeri naik melampau,” terang Amran.

Sebelumnya, pada Jumat (9/10/2026), percepatan penyaluran jagung program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) serta penguatan penyerapan telur produksi dalam negeri dilakukan untuk mendukung peternak ayam petelur rakyat.

Percepatan penyaluran jagung dilakukan melalui program SPHP dan memperkuat penyerapan telur produksi dalam negeri. Hingga 12 Oktober 2026, realisasi penyaluran jagung SPHP telah mencapai 192.732.350 ton atau 79,91% dari pagu 241.199 ton.

Pemenuhan stok jagung hingga mencapai 250.000 ton pada akhir 2026 dilakukan untuk mendukung keberlanjutan pasokan bagi peternak, sehingga ekosistem usaha peternakan bisa memperoleh kepastian usaha, dan kebutuhan masyarakat atas ayam dan telur tetap terpenuhi.

“Ini tidak akan selesai kalau mafianya masih bercokol di tengah-tengah kita. Ini nggak bisa,” tegas Amran.

Related News