• 12 October 2026

Rahasia Agar Tetap Panen Saat Musim Kemarau

uploads/news/2026/10/rahasia-agar-tetap-panen-410694384e9d1a8.jpeg

Jagad Tani - Musim kemarau menjadi tantangan tersendiri bagi para petani terutama dalam menjaga lahan agar bisa terus produktif, dikarenakan pada saat menanam, tidak semua jenis tanaman bisa cocok, serta harus menerapkan sistem perairan yang sesuai.

Hal tersebut disebabkan pada musim kemarau, kondisi cuacanya sedikit berbeda dari biasanya, mulai dari curah hujan yang berkurang, suhu udara meningkat, dan ketersediaan air yang terbatas jika dibandingkan musim penghujan.

Baca juga: Dampak Mengerikan Karhutla, Satwa Endemik Kalimantan Bisa Punah

Setidaknya ada beberapa jenis tanaman yang bisa dibudidayakn oleh para petani pada saat musim kemarau, tentunya harus disertai dengan pemilihan strategi perawatan yang tepat, perairan yang efisien pula.

Mulai dari tanaman pangan dan umbi-umbian seperti jagung, sorgum, singkong, ubi jalar, kacang-kacangan, hingga padi gogo, menjadi tananaman yang punya perakaran yang dalam untuk menyerap air di lapisan bawah tanah.

Selain itu, jenis tanaman di atas juga memiliki keunggulan lainnya, mulai dari jarak tanam dan rentang masa panen yang relatif singkat, serta mampu menyimpan cadangan air dan energi di dalam jaringan umbinya. 

Khusus untuk jenis tanaman sayuran petani bisa mencoba menanam kangkung darat, bayam, terong, cabai, okra, serta daun kelor.  Tanaman tersebut bisa tumbuh genjah dan panen cepat 25–35 hari.

Tentunya sebelum terimbas kekeringan parah pada saat memasuki musim kemarau, jenis-jenis tanaman sayuran ini cocok untuk di tanam pada musim kemarau panjang, karena memiliki akar tunggang yang kokoh serta tahan terik matahari. 

Untuk tanaman buah dan sukulen, seperti semangka, melon, lidah buaya, dan kaktus, jadi tanaman yang tahan terhadap musim kemarau. Cuaca kering juga menekan risiko serangan penyakit jamur buah, dan memiliki jaringan sukulen menyimpan cadangan air secara mandiri. 

Dengan adanya kombinasi keunggulan fisiologis tanaman di atas, mulai dari perakaran yang dalam, siklus panen singkat, dan kemampuan menyimpan air menjadi kunci utama menjaga produktivitas lahan dan ketahanan pangan di musim kemarau.

Hasil panen pun bisa semakin optimal jika didukung oleh penggunaan teknik konservasi air. Melansir tulisan dari laman Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (Badan PPSDMP) berjudul “Info Teknologi: Teknologi Hemat Air: Solusi untuk Pertanian Tangguh Iklim” ada beberapa cara agar hasil panen lebih optimal di musim kemarau.

Adapun caranya yakni bisa dilakukan dengan menggunakan teknologi panen air (embung), teknologi irigasi hemat air (bisa menggunakan teknik irigasi tetes, irigasi semprot dan irigasi curah, hingga penggunaan mulsa). 

Penerapan mulsa pada tanaman, biasanya mulsa bekerja dengan menutupi permukaan tanah untuk menekan laju penguapan (evaporasi), menstabilkan suhu tanah di daerah perakaran, serta terbukti mampu menghemat penggunaan air irigasi hingga 41%.

Sementara itu, untuk penerapan teknik irigasi tetes, cara kerjanya yakni menyalurkan air dan nutrisi cair melalui selang berlubang (emiter) langsung ke zona perakaran (rhizosphere), sehingga bisa meminimalisir kehilangan air sekaligus menghemat biaya tenaga kerja.

Melalui sinergisitas antara daya tahan alami tanaman dengan manajemen air yang tepat, petani dapat menjaga kelembapan tanah supaya tetap stabil, sehingga produktivitas pertanian tetap tinggi, dan risiko gagal panen di musim kemarau dapat diminimalisir.

 

Related News