Budidaya Melon Iklim Tropis, Smart Farm Dikembangkan
Jagad Tani - Menjaga budidaya melon tetap produktif ketika suhu lingkungan meningkat, sementara air dan nutrisi tanaman harus digunakan secara efisien ternyata bisa dijawab melalui teknologi smart farm.
Teknologi ini bahkan telah dikembangkan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berkolaborasi dengan Korea Invention Promotion Association (KIPA) yang berlangsung selama tiga tahun, 2024-2026.
Baca juga: Cegah Spesies Invasif, Eceng Gondok Sungai Kuala Alam Dibersihkan
Fokusnya tidak hanya tertuju pada pengembangan teknologi pertanian, tetapi juga menempatkan strategi kekayaan intelektual (KI) sebagai fondasi agar hasil riset memiliki nilai ekonomi dan peluang komersialisasi di pasar global.
Menurut Kepala Organisasi Riset Energi dan Manufaktur (OREM) BRIN, Cuk Supriyadi Ali Nandar, pengelolaan KI perlu diarahkan pada penciptaan inovasi yang memiliki kekuatan teknologi sekaligus prospek pasar.
“Tujuan kami bukan hanya meningkatkan jumlah paten, tetapi juga membangun paten berkualitas tinggi dengan teknologi yang kuat, potensi pasar yang kuat, dan jalur yang jelas menuju komersialisasi,” ujarnya dilansir dari BRIN, sabtu (10/10).
Dilanjutkan bahwa BRIN membutuhkan ekosistem inovasi berkelanjutan yang terintegrasi dengan seluruh tahapan hilirisasi, mulai dari penelitian, pengelolaan kekayaan intelektual, evaluasi teknologi, kemitraan industri, hingga komersialisasi dan penguasaan pasar global.
Sementara itu, Jun Bae dari UNIS Patent and Law Firm menilai pentingnya patent landscaping demi mengidentifikasi peluang pasar global, menentukan model lisensi teknologi yang aman, dan menghitung nilai ekonomi inovasi sebelum diadopsi sektor swasta.
Juhyung Lee dari KIPA, menjelaskan invensi ini terintegrasi pada tiga komponen utama, yakni formulasi larutan nutrisi untuk budidaya melon pada periode bersuhu tinggi, sistem resirkulasi multioptimasi untuk efisiensi penggunaan kembali air dan nutrisi, serta metode pengendalian terpadu untuk pemantauan otomatis lingkungan mikro rumah kaca.
"Kombinasi tersebut, dirancang untuk mendukung pengelolaan budidaya yang lebih terkontrol, khususnya dalam menghadapi tantangan suhu tinggi dan pengelolaan sumber daya air. Bagi pertanian Indonesia, pengembangan teknologi semacam ini membuka peluang untuk memperkuat penerapan pertanian cerdas yang adaptif terhadap kondisi iklim tropis," ujarnya.
Juhyung juga menjelaskan, sebelum aplikasi paten didaftarkan, tim KIPA bersama mitra hukum UNIS Patent and Law Firm melakukan analisis terhadap lanskap kekayaan intelektual global. Pendekatan ini membantu mengidentifikasi perkembangan teknologi yang sudah ada sekaligus menemukan peluang bagi pengembangan invensi baru.
Pada 2024, tim menganalisis 1.085 dokumen paten terkait pasokan nutrisi tanaman dan irigasi. Analisis tersebut kemudian diperluas pada 2025 dengan menelaah 1.438 dokumen paten.
"Penelusuran ini, turut menjadi dasar untuk mengeksplorasi konsep inovasi, antara lain sistem pendinginan area akar (root-zone cooling) dan pengukuran pertumbuhan berbasis kecerdasan buatan atau AI growth measurement," kata Juhyung.
Melalui kolaborasi internasional yang dipadukan dengan riset, strategi kekayaan intelektual, dan orientasi pasar, inovasi tersebut didorong agar tidak berhenti sebagai pengetahuan di laboratorium, tapi memiliki peluang untuk dimanfaatkan industri dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Melalui patent landscaping, peneliti dan mitra dapat memetakan perkembangan teknologi, mengenali celah inovasi, serta mempertimbangkan strategi perlindungan dan pemanfaatan hasil riset sebelum memasuki tahap komersialisasi,” pungkasnya.

