• 8 October 2026

Singkong Dikembangkan Sebagai Pemadam Kebakaran Lahan Gambut

uploads/news/2026/10/singkong-dikembangkan-sebagai-pemadam-127270de1c6101a.jpg

Jagad Tani - Formulasi retardan api merupakan kombinasi bahan kimia atau material khusus untuk memperlambat, menghambat, atau menghentikan penyebaran nyala api. Melalui singkong dan amonium polifosfat (APP), pati (starch) singkong dikembangkan untuk mendukung penanganan kebakaran pada lahan gambut. 

Pendekatan Singkong-APP ini dikembangkan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dengan mempertimbangkan karakteristik kebakaran gambut yang dapat merambat di bawah permukaan dan kembali menyala di permukaan.

Baca juga: Putri Malu: Gulma di Indonesia, Jadi Berlian di Eropa-AS

Menurut Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Kimia Molekuler BRIN, Julinton Sianturi, pendekatan tersebut berangkat dari upaya memahami mekanisme kebakaran gambut hingga tingkat molekuler. Tantangannya tidak hanya memadamkan api di permukaan, tetapi juga menghentikan panas dan bara yang masih tersimpan di bagian bawah.

“Kebakaran pada lahan gambut dapat merambat di bawah permukaan dan menyisakan panas. Ketika terdapat celah masuk oksigen, pembakaran dapat kembali muncul di permukaan. Kondisi tersebut menjadi salah satu aspek yang diperhatikan dalam pengembangan pendekatan pemadaman,” ungkap Julinton dalam keterangannya, Selasa (6/10).

Singkong-APP memanfaatkan pati (starch) singkong. Pati kemudian dikombinasikan dengan APP, dan formulasi ini menggunakan APG (alkyl polyglucoside) untuk membantu menurunkan viskositas agar bisa diaplikasikan ke penyemprot dan bisa menembus bagian bawah media yang terbakar.

Ketika terkena panas, APP terdekomposisi akan menghasilkan asam fosfat dan amonia. Asam fosfat kemudian berinteraksi dengan pati dari singkong, membentuk Pati-APP yang pada pemanasan selanjutnya menghasilkan lapisan char. Lapisan ini berfungsi menghambat perpindahan panas, menghalangi akses ke bahan yang terbakar, dan memutus akses oksigen.

Pendekatan ini kemudian dibandingkan dengan penggunaan air dalam pengujian awal. Jika air terutama bekerja melalui pendinginan, Singkong-APP mengombinasikan pendinginan, pembasahan, retensi cairan, dan pembentukan char untuk membantu menekan pembakaran residual.

Pengujian dilakukan menggunakan media simulasi yang dirancang menyerupai kondisi bahan yang terbakar pada kebakaran gambut, terdiri atas daun kering, ranting, sekam padi, dan serbuk gergaji. Tahapannya meliputi pembentukan bara (smouldering), penyemprotan pada permukaan, penetrasi ke bagian bawah, pemadaman pembakaran residual, hingga pemantauan pascapemadaman. 

Dalam pengujian tersebut, Singkong-APP membutuhkan 65 liter cairan, sedangkan air sebagai kontrol membutuhkan 120 liter. Waktu aplikasi Singkong-APP tercatat 15 menit, dibandingkan 23 menit 35 detik pada penggunaan air.

Perbedaan juga terlihat setelah tahap II atau penetrasi bagian bawah. Suhu yang terukur pada media Singkong-APP tercatat 46 °C, sedangkan pada penggunaan air mencapai 117,5 °C. Setelah 60 menit, tidak teramati titik api pada pengujian Singkong-APP, sedangkan pada penggunaan air masih ditemukan enam titik api.

Untuk pengamatan lanjutan, menunjukkan tidak teramati asap atau nyala setelah 60 menit pada material Singkong-APP yang diperiksa. Sementara itu, pada media dengan air, pembakaran masih teramati dalam pengamatan lanjutan.

Hasil tersebut dinilai sebagai dasar pengembangan lanjutan dari Singkong-APP. Namun, pengujian yang dilakukan masih dalam tahap awal pada media simulasi sehingga diperlukan pengembangan dan pengujian pada skala yang lebih besar.

“Permasalahan berikutnya adalah bagaimana melakukan produksi secara pilot untuk menjawab kebutuhan nasional, terutama untuk pembakaran di lahan yang lebih besar,” jelas Julinton.

Dilanjutkan Julinton, tantangan pengembangan yaitu penyediaan APP. Material tersebut belum tersedia di Indonesia sehingga tim melakukan sintesis. Proses sintesis melibatkan asam fosfat dan urea serta menghasilkan amonia yang bersifat beracun.

Oleh karena itu, diperlukan pengembangan reaktor yang memadai dengan memperhatikan aspek keselamatan peneliti. Pengembangan selanjutnya diarahkan pada scale-up dan pengujian lebih lanjut untuk melihat penerapan Singkong-APP pada lahan dengan skala yang lebih besar. 

Related News