• 5 October 2026

Daerah yang Harga Ayam-nya Berfluktuasi Bakal Disediakan Subsidi Angkutan

uploads/news/2026/10/daerah-yang-harga-ayam-nya-2601113d2fa800b.jpeg

Jagad Tani - Guna mengantisipasi adanya fluktuasi harga daging ayam ras, Badan Pangan Nasional (Bapanas) tengah menyiapkan solusi berupa subsidi biaya angkut dari daerah produsen. Hal itu diungkapkan Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, Hermawan.

Menurutnya, salah satu kendala yang kerap dihadapi dalam upaya stabilisasi harga pangan pokok strategis yakni adanya biaya angkut distribusi dari luar daerah, apalagi jika daerah tersebut bukan daerah sentra produsen.

Baca juga: Kemarau Akibatkan Budi Daya Perikanan Menurun

"Angkutan distribusi, kita bisa subsidi dari Bapanas, supaya penyerapan produksi dari tempat produsen yang lebih, bisa menyebar ke seluruh daerah. Bapanas memastikan bahwa mana daerah yang kurang (pasokan) akan disuplai dari daerah-daerah yang produsen," ucapnya.

Berdasarkan pantauan harga Bapanas, per 2 Oktober rerata harga nasional berada di Rp40.961 per kg, terjadi penurunan sebesar 0,62% dari seminggu sebelumnya yang Rp41.218 per kg dan menurun 0,82% dari sebulan sebelumnya yang Rp41.300 per kg.

Adapun untuk komoditas daging ayam ras, sempat jatuh pada April 2026 yang mencatatkan deflasi hingga 6,20%. Bulan selanjutnya pada Mei 2026 kembali deflasi di angka 3,83%, dampaknya mempengaruhi peternak unggas dalam negeri.

Melalui data BPS, indeks harga yang diterima petani unggas mulai menurun setelah Maret 2026 sempat bertengger di 138,19. Namun April 2026 turun ke 132,22. Mei 2026 kembali turun ke 130,57. Juni dan Juli 2026 turun ke 127,23 dan 127,02. Agustus dan September 2026 kembali menguat di 132,43 dan 134,99.

"Untuk daerah-daerah yang produksinya kecil, kemudian mengalami kenaikan harga, kita imbau supaya pemerintah daerah meminta kepada kami untuk subsidi masalah distribusinya. Mereka terkendala biasanya (karena) distribusinya mahal," ujar Hermawan.

Dari segi ketersediaan, proyeksi stok daging ayam ras hingga akhir tahun 2026 mencapai 1 juta ton. Stok awal tahun 2026 rada di 200 ribu ton, ditambah estimasi produksi dalam negeri setahun, diperkirakan 4,7 juta ton, sedangkan kebutuhan konsumsi nasional 3,9 juta ton. 

Surplus daging ayam ras ini dinilai harus dijaga secara proporsional agar keseimbangan harga dari hulu sampai hilir bisa dijaga kewajarannya. Intervensi di hilir seperti subsidi biaya angkut juga diiringi melalui intervensi di hulu yang menyasar ke peternak unggas.

Menurut  Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, salah satunya pelaksanaan melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) jagung pakan. Langkah ini dilakukan untuk mengawal ketersediaan jagung pakan bagi peternak. 

Amran juga menginstruksikan Perum Bulog untuk melayani peternak unggas yang membutuhkan jagung pakan dengan harga lebih ekonomis. Alokasi SPHP jagung pakan pun rencananya akan ditambah 150 ribu ton.

“Menambah dan memperpanjang SPHP. Nah itu Bulog, tanggung jawab saya, Bulog, perpanjang sepanjang-panjangnya. Selama peternak butuh, kasih. Titik. Mudah, jangan ada basa-basi. SPHP Bulog kita lanjutkan," tutur Amran. 

Untuk program SPHP jagung pakan tahun 2026 tahap pertama telah dimulai sejak awal Mei lalu. Total kuota salur ditetapkan sebanyak 213,2 ribu ton yang terdiri dari kebutuhan jagung pakan bagi kelompok peternak skala usaha mikro, kecil, dan menengah. 

Adapun realisasi salur SPHP jagung pakan per 2 Oktober mencapai 71,36% dari total target tahap pertama dan kedua yang 241,2 ribu ton. Secara kuantitas sebanyak 172,1 ribu ton telah diakses peternak di 29 provinsi, dengan jumlah peternak tertinggi di Jawa Timur dengan 3.690 peternak dan Jawa Tengah 2.017 peternak.

Related News