Jagad Tani - Berdasarkan pantauan Sistem Informasi Deteksi Dini Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi) Kementerian Kehutanan hingga Sabtu (3/10) pukul 21.10 WIB, terdeteksi sebanyak 666 hotspot high confidence secara nasional melalui satelit NASA Terra/Aqua, NASA SNPP, dan NASA NOAA-20.
Jumlah tersebut turun 605 titik jika dibandingkan dengan Jumat (2/10) yang tercatat sekitar 1.271 hotspot. Adapun di enam provinsi prioritas pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla), sebaran hotspot high confidence di Sumatera Selatan ada sekitar 254 titik, meningkat dari 83 titik.
Baca juga: Jawa Timur Role Model Kebijakan Penyelamat Pangan
Selain itu, di Kalimantan Tengah terdapat 96 titik, turun dari 355 titik; Riau 32 titik, dari sebelumnya nihil; Kalimantan Barat 26 titik, turun dari 246 titik; Kalimantan Selatan 18 titik, turun dari 42 titik; dan Jambi 3 titik, dari sebelumnya nihil. Secara keseluruhan, enam provinsi prioritas mencatat 429 hotspot high confidence, turun dari 726 titik sehari sebelumnya.
Sumatera Selatan menjadi wilayah dengan hotspot tertinggi dari enam provinsi prioritas, adapun penurunan signifikan terjadi di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat.
Melansir dari laman Kementerian Kehutanan, hotspot ini merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi melalui satelit, sehingga tidak dapat langsung disamakan dengan jumlah kejadian kebakaran maupun luas areal yang terbakar. Oleh karena itu, setiap indikasi tetap harus diverifikasi melalui groundcheck untuk memastikan kondisi aktual serta menentukan respons yang diperlukan di lapangan.
Pengendalian karhutla terus dilakukan secara terpadu oleh Manggala Agni Kementerian Kehutanan bersama BNPB, TNI, Polri, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, relawan, dunia usaha, dan para pihak terkait. Pemerintah menyiagakan 61 unit armada udara, terdiri atas 17 unit untuk patroli dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) serta 44 unit untuk operasi water bombing.
Tentunya perhatian khusus tetap diberikan pada kebakaran di lahan gambut,sebab bara bisa bertahan dan menjalar di bawah permukaan meskipun api di atas tanah sudah tidak terlihat, sehingga pembasahan dan pendinginan harus dilakukan hingga lokasi benar-benar aman.
Selain perkembangan hotspot, kondisi udara berbasis konsentrasi PM2,5 juga dipantau sebagai bagian dari perlindungan kesehatan masyarakat. Secara umum, sebagian besar wilayah Indonesia masih menunjukkan kondisi udara pada kategori baik hingga sedang.
Namun, terdapat sejumlah kantong wilayah dengan kondisi tidak sehat hingga sangat tidak sehat, antara lain pada sebagian Sumatera, Kalimantan, Jawa, serta Papua. Pada beberapa lokasi juga masih terlihat kategori berbahaya.
Kondisi udara ini bisa berubah mengikuti perkembangan kebakaran, konsentrasi partikulat, arah dan kecepatan angin, serta dinamika atmosfer lainnya. Masyarakat di wilayah terdampak diminta terus mengikuti informasi kondisi udara dan arahan pemerintah daerah.
Apabila kualitas udara memburuk, kurangi aktivitas di luar ruangan dan gunakan masker apabila harus beraktivitas di luar. Perhatian khusus perlu diberikan kepada anak-anak, ibu hamil, lanjut usia, serta masyarakat dengan gangguan pernapasan atau penyakit kronis.
Karhutla juga dapat mengganggu habitat, sumber pakan, dan jalur pergerakan satwa liar. Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) dan unit terkait terus melakukan pemantauan dan penanganan terhadap satwa yang terdampak.
Penanganan ini dapat meliputi evakuasi dan penyelamatan, pemeriksaan serta perawatan medis, rehabilitasi, translokasi, hingga pelepasliaran kembali apabila kondisi satwa dan habitatnya telah memungkinkan.
Masyarakat yang menemukan satwa liar terluka, terjebak, terdampak kebakaran, atau masuk ke kawasan permukiman diminta tidak melakukan penanganan maupun evakuasi secara mandiri, dan diharapkan untuk segera melaporkan kepada BKSDA atau petugas kehutanan terdekat.
Masyarakat dan pelaku usaha diimbau untuk tidak membuka dan membersihkan lahan dengan cara membakar. Penurunan hotspot secara nasional tidak berarti kewaspadaan dikurangi, sebab kondisi karhutla dapat berubah cepat mengikuti cuaca, kondisi lahan, serta aktivitas di lapangan.

