• 3 October 2026

Rantai Nilai Industri Rumput Indonesia Dipetakan Ahli

uploads/news/2026/10/rantai-nilai-industri-rumput-7112014da1df036.jpg

Jagad Tani - Sumber daya rumput laut di Indonesia yang besar,  tentu berpeluang untuk dikembangkan dan diberi nilai tambah melalui pengolahan serta pemanfaatan produk turunan hingga tahap aplikasi.

Melihat peluang tersebut, Pusat Riset Sistem Industri dan Manufaktur Berkelanjutan (PRSIMB) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memetakan rantai nilai (value chain) industri rumput laut dari hulu hingga hilir.

Baca juga: Berdayakan Perempuan, Muhamadiyah Didorong Kembangkan Hutan Wakaf

Ari Kabul Paminto, Group Leader Valuasi Hasil Perikanan dan Rumput Laut BRIN, mengatakan pemetaan rantai nilai diperlukan untuk mengetahui posisi setiap tahapan dalam industri dan mengidentifikasi ruang peningkatan nilai ekonomi yang masih dapat dikembangkan.

“Kita harus bertransformasi dari resource-based economy yang hanya mengeksploitasi bahan mentah menuju capability-based economy yang mengandalkan penguasaan teknologi dan inovasi bernilai tambah tinggi. Sumber daya alam harus kita posisikan sebagai input awal, bukan produk akhir,” jelas Ari dalam keterangan resmi, dikutip Sabtu (3/10). 

Lewat pemetaan, proses industri dapat ditelusuri dari bahan baku, pengolahan, produk antara, hingga produk turunan dan aplikasinya. Pendekatan ini digunakan untuk melihat bagian rantai nilai yang telah berkembang, dan mengidentifikasi tahapan yang berpeluang menghasilkan nilai tambah.

Safari Azis, Ketua Umum Asosiasi Rumput Laut Indonesia (ARLI), menyampaikan bahwa Indonesia saat ini memiliki 57 industri pengolahan rumput laut dengan total kapasitas terpasang mencapai 197.650 ton bahan baku kering per tahun.

Namun menurut Safari, sekitar 80% produk karagenan yang dihasilkan masih berada dalam bentuk produk setengah jadi (semi-refined/ATC). Data tersebut menjadi salah satu gambaran mengenai ruang pengembangan produk pada tahapan yang lebih hilir.

Adapun untuk produk turunan yang dapat dikembangkan dari rumput laut antara lain karagenan, agar, alginat, pangan fungsional, farmasi, kosmetik, bioplastik, hingga biostimulan.

Sementara itu  Kepala PRSIMB BRIN, Nugroho Adi Sasongko, mengatakan pemetaan diperlukan untuk mengetahui sejauh mana nilai ekonomi rumput laut telah terbentuk pada setiap tahapan pengolahan.

“Kami ingin melihat sebenarnya turunan produk-produk kelautan, khususnya rumput laut, sudah sampai sejauh mana. Apakah masih dalam bentuk biomassa kering atau sudah dalam bentuk produk turunan dan berapa besar nilai tambahnya,” ujarnya.

Selain menelusuri aliran produk dan nilai tambah di setiap tahapan, kajian ini memungkinkan bahan baku dimanfaatkan secara menyeluruh melalui pendekatan biorefinery cascading. Pendekatan ini memungkinkan satu bahan baku dimanfaatkan secara bertahap untuk menghasilkan beberapa jenis produk.

Adapun Wakil Ketua Asosiasi Industri Rumput Laut Indonesia (ASTRULI), Pontas Tambunan, mengatakan bahwa pendekatan tersebut dapat digunakan untuk memanfaatkan rumput laut secara lebih menyeluruh.

“Proses ekstraksi rumput laut tidak boleh lagi menyisakan limbah buang (waste) yang tidak bernilai. Melalui pendekatan cascading, rumput laut diekstraksi secara bertahap sehingga nilai ekonominya dapat dimanfaatkan secara lebih utuh,” tukas Pontas.

Untuk penerapannya, rumput laut bisa dimanfaatkan lewat pendekatan tersebut dengan mencakup berbagai produk seperti biostimulan, nutrisi, agar, dan karagenan. Sedangkan material sisa bisa diarahkan untuk menghasilkan produk energi seperti biogas dan Refuse Derived Fuel (RDF).

Hasil pemetaan rantai nilai dan valuasi tersebut diharapkan memberi gambaran titik strategis dalam industri rumput laut, dan berpeluang memberi nilai tambah, produk, dan investasi. Hasil kajiannya bisa menjadi salah satu bahan penyusunan rekomendasi pengembangan industri berbasis bukti.

Related News