• 2 October 2026

Nelayan Harapkan Lapangan Kerja Saat Paceklik

uploads/news/2026/10/nelayan-harapkan-lapangan-kerja-34803b3fdf32351.jpg

Jagad Tani - Pengembangan Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Pengambengan resmi dimulai setelah peletakan batu pertamanya Selasa (29/9) untuk bertransformasi jadi kawasan industri perikanan modern yang terintegrasi skala global.  

Menurut Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono, aliansi proyek terpadu itu tidak kurang dari Rp1,2 triliun, dan diproyeksi memberi dampak ekonomi signifikan, khususnya bagi masyarakat lokal melalui pembukaan lapangan kerja skala besar.

Baca juga: Sebanyak 149 Nelayan Batang, Mendapatkan BPJS Ketenagakerjaan

Dijelaskan bahwa pengembangan di PPN Pengambengan diproyeksikan menghasilkan multiflier effect penyerapan tenaga kerja hingga 25 ribu orang.

"Berapa besar sebetulnya serapan tenaga kerja jika ini dikembangkan dengan baik? Diprediksi kira-kira sekitar 25 ribu orang. Saya minta nanti sebaiknya memang pelaku yang bekerja di sini ya orang Bali. Harus orang Bali, supaya mereka dapat pekerjaan dengan baik," ujarnya. 

Sebetulnya Trenggono dinilai, penting membangun fasilitas perikanan yang bersih, higienis, dan modern untuk meningkatkan daya saing hasil perikanan Indonesia yang ada di pasar global.

Terlebih PPN Pengambengan setelah dikembangkan, nantinya akan menjadi tempat bersandarnya kapal-kapal besar yang semula berada di Pelabuhan Benoa. Diantaranya kapal-kapal penangkapan ikan tuna.  

"Saya kepingin membangun, sekali kita membangun, betul-betul harus terintegrasi. Pembangunan ini, selain juga menjadi bagian untuk pengembangan ekonomi, harapannya ini adalah tempat yang dikombinasikan antara industri perikanan yang modern," tambahnya.

Rencana pengembangan PPN Pengambengan, dilakukan lewat keberadaan pelabuhan modern beserta fasilitas pendukungnya diharapkan dapat menjadi solusi atas persoalan pengangguran musiman yang membelit nelayan selama bertahun-tahun.

Anan, salah seorang nelayan kapal selerek yang telah melaut selama 11 tahun di Pengambengan, mengungkapkan bahwa masa paceklik ikan sering kali memaksa nelayan menjadi pengangguran hingga kurun waktu yang lama atau harus beralih profesi menjadi kuli serabutan. 

"Harapan saya mudah-mudahan ini menjadi satu solusi yang bagus ya. Karena nantinya pasti lapangan pekerjaan akan dibuka lebih banyak lagi," ujar Anan saat ditemui langsung. 

Ia menambahkan, keberadaan cold storage serta fasilitas perbaikan kapal dapat menjadi mata pencaharian alternatif saat tidak bisa melaut.

"Jadi tidak perlu harus menganggur sekian lama ketika musim paceklik ikan, ada lapangan pekerjaan khususnya untuk penduduk lokal. Harapan saya, nelayan khususnya nelayan lokal itu bisa semakin sejahtera," terangnya. 

Sementara I Ketut Sumajaya, nelayan kapal selerek berpasangan yang telah berpengalaman melaut selama 15 tahun di Pengambengan, mengapresiasi langkah merealisasi proyek pengembangan pelabuhan. 

“Ini adalah momen yang kami tunggu-tunggu sebenarnya dari tahun 2020," ungkap Sumajaya.

Sumajaya menjelaskan bahwa keterbatasan kolam labuh akibat pendangkalan membuat kapal-kapal nelayan kesulitan melakukan bongkar muat ikan secara maksimal. Dengan dimulainya pembangunan ini, aktivitas perikanan dan rantai distribusi hasil tangkapan akan menjadi jauh lebih efisien.

"Sebagai nelayan di sini, kendala-kendala ini banyak sekali di area pelabuhan ini, pelabuhan ini tidak memadai untuk kami melaksanakan kegiatan bongkar ikan. Jadi nelayan ini berharap nantinya dengan adanya pelabuhan yang modern, kami selaku nelayan gampang untuk mengakses dalam artian bongkar muat ikan, untuk mendistribusikan ikan itu ke wilayah-wilayah pabrik baik itu pengepul," jelas Sumajaya.

Related News