• 30 September 2026

Ahli Jelaskan Bahaya Masalembo Bukan Soal Mistis

uploads/news/2026/09/ahli-jelaskan-bahaya-masalembo-8053431dfd13c5c.jpeg

Jagad Tani - Segitiga Bermuda Indonesia yang dikenal berada di kawasan perairan Masalembo kembali menjadi sorotan, setelah tenggelamnya kapal KM Virgo Transport 8, pada (13/9) lalu.

Berdasarkan data terbaru dari Basarnas dan Tim SAR Gabungan, pada Senin (28/9) dari 243 orang penumpang yang dibawa oleh Kapal dengan rute Surabaya-Banjarmasin, baru ditemukan 179 orang, korban yang selamat berjumlah 108 orang, dan 71 orang meninggal.

Baca juga: Pantauan Harga Cabai Rawit-Cabai Keriting di Jakarta

Penyelam dari Basarnas Special Group menelusuri bangkai kapal KM Virgo Transport 8 untuk mencari puluhan korban yang masih hilang dan operasi pencarian korban diperpanjang hingga Sabtu (03/10).

Lokasi Masalembo sebetulnya masuk ke dalam wilayah administrasi Sumenep, Jawa Timur, namun menjadi titik pertemuan antara Laut Jawa, Selat Makassar dan Laut Flores. Bahkan sejumlah tragedi pernah terjadi di sini, dan membuatnya sering dikaitkan dengan misteri.

Menurut Daryono, yang merupakan anggota dari Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), menjelaskan bahwa dalam perspektif sains, kawasan masuk ke dalam sistem laut Indonesia yang memiliki dinamika oseanografi dan meteorologi maritim yang kompleks.

"Kompleksitas tersebut tidak berarti Masalembo memiliki fenomena laut yang misterius atau unik yang secara otomatis menyebabkan kapal tenggelam," jelas Daryono dalam keterangan tertulisnya, dikutip Rabu (30/9).

Risiko pelayaran di kawasan ini, sambungnya, lebih tepat dipahami sebagai interaksi dari berbagai faktor, mulai dari angin, gelombang, arus, pasang surut, kondisi atmosfer, batimetri, karakteristik kapal, muatan, hingga keputusan dan prosedur navigasi.

"Kawasan ini bukan sekadar tempat bertemunya tiga laut, melainkan bagian dari sistem pertukaran massa air yang dinamis. Perbedaan temperatur, salinitas, densitas, kedalaman, dan arah arus dapat membentuk struktur laut yang kompleks, baik secara horizontal maupun vertikal," paparnya.

Selat Makassar jadi salah satu jalur penting Arus Lintas Indonesia (Arlindo) yg membawa massa air dari kawasan Pasifik menuju perairan Indonesia bagian selatan.

Sedangkan, Laut Jawa dan Laut Flores dipengaruhi oleh konfigurasi kepulauan, pasang surut, serta perubahan musiman akibat sistem monsun.

"Masalembo berada dalam wilayah yang dipengaruhi sistem monsun Asia-Australia. Perubahan arah dan kecepatan angin dapat memengaruhi pembentukan serta propagasi gelombang," terangnya. 

Pada kondisi tertentu, perbedaan densitas antarlapisan bisa menghasilkan stratifikasi laut dan shear arus, yaitu perbedaan kecepatan atau arah arus antara satu lapisan dan lapisan lainnya. Proses ini dapat berhubungan dengan turbulensi, pencampuran massa air, maupun fenomena gelombang internal.

"Dalam kondisi tertentu, gelombang yang datang dari arah berbeda dapat bertemu dan membentuk cross-sea, yaitu kondisi ketika terdapat sistem gelombang dari lebih dari satu arah," tuturnya.

Walaupun demikian, fenomena ini tidak boleh langsung dianggap sebagai penyebab kapal kehilangan daya apung atau kendali. Ia menjelaskan bahwa faktor atmosfer juga sangat penting.

"Cross-sea dapat meningkatkan gerakan kapal, terutama rolling (miring ke kiri dan kanan) dan pitching (mengangguk ke depan dan belakang), serta menambah beban dinamis pada struktur kapal. Namun, pembentukan cross-sea tidak semata-mata disebabkan oleh benturan angin dengan arus," tambahnya.

Sementara itu, menurut Peneliti Ahli Utama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Widodo S. Pranowo, yang berbahaya di Masalembo bukan dari tinggi gelombangnya, melainkan irama gelombang atau dalam bahasa ilmiahnya yaitu periode gelombang.

Masalembo memiliki laut dangkal, yang membuat gelombangnya pendek tetapi curam. Gelombang itu datang berulang setiap lima sampai enam detik. Kapal tidak diberi kesempatan untuk tegak, karena gelombang bakal terus menghantam lambungnya.

Ditambahkan pula bahwa arus pasang surut yang kuat akibat pertemuan gelombang dari beberapa arah sekaligus, awan badai yang tumbuh cepat pada malam hari, dan jauh dari pelabuhan, jadi kombinasi yang mematikan di Masalembo.

"Selain faktor alam, kita juga harus memperhatikan perbandingan antara tinggi kapal dengan tinggi gelombang, dan panjang kapal dengan panjang gelombang," terangnya.

Tentunya jika panjang kapal melebihi tinggi gelombang, dan panjang kapalnya juga melebihi dari panjang gelombang, maka secara teori kapal bisa aman untuk membelah gelombang tersebut.

"Ini saya tidak bicara terkait kondisi kapal dan beban muatan yang diangkut. Artinya jika ada kecelakaan kapal di laut, gelombang laut dan cuaca bukan sebagai faktor tunggal penyebab kecelakaan tersebut," sambungnya.

Selain itu, debit aliran massa air, ketika melewati Selat Makassar bisa sebanyak 11,6 juta meter kubik per detik. Jika seperempatnya saja ada yang belok ke Laut Jawa, maka alirannya masih sangat banyak.

"Satu lagi, interaksi arus tersebut dengan pasang surut, menyebabkan kompleksnya oseanografi di Masalembo," ujar pria yang juga dosen dari Program Studi Pascasarjana Magister (S2) Hidro-Oseanografi di Sekolah Tinggi Teknologi Angkatan Laut (STTAL) ini.

Berdasarkan hasil analisisnya, Widodo menyatakan, kecelakaan dapat terjadi pada kondisi gelombang yang tergolong sedang, ditambah kestabilan kapal tidak memadai, menjadi combo yang mebahayakan, sehingga  harus disiapkan pulau peringatan berbasis risiko kapal.

"Yang dibutuhkan adalah peringatan berbasis risiko kapal, bukan sekadar berbasis tinggi gelombang, dan pemeriksaan muatan yang sungguh-sungguh sebelum kapal di lepas berlayar," tuturnya.

Hal ini dikarenakan kapal tidak hanya terbalik akibat tingginya gelombang saja, tapi bisa juga disebabkan oleh hubungan antara gelombang, arah haluannya, kecepatannya, dan kondisi muatan. Bila ada dua kapal yang berlayar di kondisi gelombang yang sama, belum tentu nasibnya sama.

Related News