Arie Basuki: Pewarta Foto Pemberani Indonesia
Jagad Tani - Satu di antara delapan orang yang berada di KM Aruphadatu I yang hilang kontak di perairan Selat Sunda pada 7 September 2026 saat hendak menjalankan tugas jurnalistik di kawasan Gunung Anak Krakatau (GAK), terdapat sosok jurnalis Merdeka.com yang bernama Arie Basuki.
Bersama kelima jurnalis lainnya, pria yang akrab disapa Arbas ini bertolak dari Dermaga Pagedongan, Kecamatan Carita, Kabupaten Pandeglang, Banten, untuk meliput soal aktivitas gunung berapi yang sedang aktif tersebut.
Baca juga: Jejak yang Tak Bertepi: M. Bagus Khoirunnas
Rekam jejak Arbas di dunia fotografi jurnalistik, tak bisa dianggap remeh, sebab selama puluhan tahun terjun di bidang dokumentasi, bisa dibilang ia merupakan sebagai pewarta foto senior di Indonesia, yang terlibat dalam berbagai penugasan yang berisiko.
Kegiatan peliputan yang dilakukannya pun mulai dari bencana, konflik, hingga lingkungan. Bahkan Arbas pernah terjun untuk peliputan ke Libya pada tahun 2011, yang saat itu sedang berada dalam kondisi perang saudara untuk menuntut mundurnya Muammar al-Qaddaffi.
Bukan cuma itu, Arbas bahkan pernah terjun langsung untuk meliput operasi militer Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Aceh tahun 2003, tsunami Aceh 2004, tsunami Pangandaran tahun 2006, gempa Yogyakarta tahun 2006, konflik Poso, hingga kerusuhan di Priok, Jakarta Utara.
Menjadi seorang jurnalis sejak tahun 1998, alumnus Ilmu Antropologi Universitas Udayana ini, telah menjajaki berbagai media, mulai dari Nusa Tenggara Newspaper, Bali Echo, hingga Tempo, dan pada tahun 2012 barulah ia bergabung ke Merdeka.com.
Karya-karya fotografi jurnalistiknya juga tentunya sudah tak perlu diragukan lagi, dan sudah meraih banyak penghargaan. Pada tahun 2024, ia berhasil memenangkan World Press Photo, yakni sebuah ajang fotografi jurnalistik yang cukup bergengsi.
Dalam ajang tersebut, karyanya yang berjudul "Pollution in the Cileungsi River" mendapatkan honorable mention pada World Press Photo 2024 untuk kawasan Asia Tenggara dan Oseania, yang diambil di Curug Parigi, Kota Bekasi, Jawa Barat, dengan merekam seorang warga yang masuk ke Sungai Cileungsi untuk mengambil jaring ikan yang tersangkut.
Selain itu, Arbas juga meraih Anugerah Adiwarta 2007, Mochtar Lubis Award 2008, Nikon Indonesia Photo Journalism 2016, PFI Indonesian Photo Journalist Award 2019, Asian Press Photo Singapore 2022, dan Environment Photographer of the Year 2022 sebagai pemenang kategori Vision of the Future lewat karya berjudul "Vertical Farming".
Setelah dihentikannya operasi pencarian oleh tim SAR sesudah dilakukan penyisiran selama 10 hari sejak kapalnya hilang kontak. Pada Rabu (23/9) salah satu kru kapal yang ditumpangi oleh Pewarta Foto Indonesia (PFI) ini, yakni Surahman, jasadnya berhasil diidentifikasi dan ditemukan di Pulau Enggano, Bengkulu.
Kini, publik hanya bisa berharap dan berdoa agar Arbas dan keenam penumpang lainnya bisa segera ditemukan, dan dedikasi serta karya-karyanya dalam membingkai realitas lewat lensa akan selalu menjadi warisan berharga bagi dunia jurnalistik Indonesia.

