• 19 September 2026

Produk Perikanan Bali Harus Berbasis Kearifan Lokal

uploads/news/2026/09/produk-perikanan-bali-harus-7412159ecbe0d91.jpg

Jagad Tani - Pengembangan produk olahan perikanan siap masak (Ready to Cook) dan siap santap (Ready to Eat) berbasis kearifan lokal, jadi nilai tambah bagi produk perikanan, terutama untuk warga Bali dalam memenuhi kebutuhan konsumsi domestik dan pasar ekspor. 

?Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Soeharto saat memimpin Tim Kunjungan Kerja Spesifik Komisi IV DPR RI ke Balai Pengendalian dan Pengawasan Mutu Hasil Kelautan dan Perikanan (BPPMHKP) Bali di Kabupaten Badung, Provinsi Bali, Jumat (18/9).

Baca juga: Jangkauan Ceruk Pasar Peternakan Indonesia Bisa Diperluas

?Menurut politisi yang akrab disapa Titiek Soeharto ini, perubahan pola konsumsi masyarakat dan pesatnya sektor pariwisata di Bali merupakan peluang strategis yang harus ditangkap oleh para pelaku usaha sektor perikanan. 

Hal tersebut juga perlu didukung oleh sistem penjaminan mutu ketat dari hulu hingga hilir. Selain itu, penguatan hilirisasi produk perikanan dinilai perlu didorong, agar tidak berhenti pada peningkatan produksi semata.

?"Potensi perikanan nasional tidak cukup hanya berhenti pada peningkatan produksi saja, namun harus mampu diolah menjadi produk yang memiliki nilai tambah lebih tinggi, praktis, aman, bermutu, serta sesuai dengan kebutuhan dan selera konsumen," ungkap Titiek. 

Berdasarkan policy brief, penguatan ekosistem mutu perikanan di Bali menghadapi tantangan nyata di lapangan, seperti ancaman duplikasi pengawasan antar instansi, prosedur sertifikasi yang berulang, serta tingginya biaya dan waktu yang harus ditanggung pelaku usaha.

Guna mengatasi kendala itu, Titiek merekomendasikan adanya sinergi antar pihak, sebagai langkah untuk memperluas kesepakatan Mutual Recognition Arrangement (MRA) di pasar internasional sekaligus menjamin keamanan rantai pasok (cold chain), mulai dari bahan baku hingga ke meja konsumen. 

?Dilanjutkan Titiek, Bali punya keunggulan berupa kekayaan kuliner dan identitas budaya yang kuat. Tentunya berbagai hasil olahan laut khas daerah mempunyai potensi besar untuk dikembangkan jadi produk modern tanpa harus mengorbankan cita rasa dan kearifan lokalnya.  

??"Kami mendorong agar sistem penjaminan mutu dan sertifikasi tidak menjadi beban tambahan bagi pelaku usaha, khususnya bagi UMKM. Namun pengawasan tetap harus kuat, proses pelayanan semakin sederhana, cepat, terintegrasi, transparan, dan biayanya terjangkau," tegasnya.

Related News