Sisik Nila Dikembangkan Menjadi Obat Luka Diabetes
Jagad Tani - Jika selama ini limbah sisik ikan nila kerap dibuang. Namun dibalik itu semua, ternyata berpotensi untuk dikembangkan di bidang kesehatan, terutama dalam mendukung penyembuhan luka diabetes (ulkus diabetik).
Inovasi ini dikembangkan tim COLLANILA dari Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK), Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) melalui Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM-RE) 2026, yang mengolah limbah jadi nanohidrogel peptida kolagen.
Baca juga: Hasilkan Cuan Hingga Rp8 Juta/Bulan dari Kamar
Melansir dari laman resmi UMY, tim penelitian ini diketuai oleh Iyyaka Kautshar Pinta Rizka, dan hasil penelitian bersama timnya diberi judul “Nanohidrogel Peptida Kolagen Sisik Ikan Nila (Oreochromis niloticus) sebagai Modulator TGF-β1 pada Ulkus Diabetikus”.
Ulkus diabetik merupakan salah satu komplikasi serius yang dapat dialami penyandang diabetes melitus. Luka ini umumnya sulit sembuh dan bisa berkembang menjadi infeksi maupun kerusakan jaringan yang meningkatkan risiko amputasi bila tidak ditangani dengan tepat.
Sisik ikan nila dipilih Iyakka dan tim karena sumber dayanya tersedia dan melimpah, serta belum dimanfaatkan secara optimal, dan dapat menjadi sumber kolagen tipe I yakni salah satu protein struktural utama pada kulit dan berperan dalam proses perbaikan jaringan
“Peptida kolagen dari sisik ikan nila memiliki potensi untuk mendukung proliferasi fibroblas dan sintesis kolagen tipe I. Karena itu, kami memformulasikannya dalam sistem nanohidrogel untuk diuji sebagai bahan pendukung penutupan luka ulkus diabetik,” ujar Iyyaka.
Fibroblas merupakan sel yang berperan penting dalam membentuk matriks ekstraseluler dan kolagen selama proses perbaikan jaringan. Peran nanohidrogel terhadap TGF-β1, salah satu protein yang terlibat dalam pengaturan proses penyembuhan luka, juga turut dikaji.
Adapun bahan dari limbah sisik ikan nila ini kemudian dicuci, dikeringkan, dan dihaluskan menjadi serbuk, sebelum memasuki proses ekstraksi di laboratorium.
Lalu tahapan berikutnya meliputi deproteinasi menggunakan natrium hidroksida (NaOH) guna memisahkan protein nonkolagen, demineralisasi, maserasi menggunakan asam asetat, sentrifugasi, serta pengendapan menggunakan natrium klorida (NaCl).
Hasil kolagen ini kemudian dikeringkan lewat teknik pengeringan beku atau freeze-drying hingga berbentuk bubuk, dan selanjutnya diproses menjadi peptida kolagen berukuran nano sebelum diformulasikan ke dalam gel berbasis hidroksipropil metilselulosa (HPMC).
Formulasi inilah yang nantinya akan menghasilkan nanohidrogel peptida kolagen sisik ikan nila. Bentuk nanohidrogel dipilih untuk memudahkan penerapan bahan pada permukaan luka dan mengoptimalkan penghantaran senyawa aktif ke jaringan sasaran.
“Bubuk peptida kolagen sisik ikan nila terlebih dahulu dibuat dalam ukuran nano, kemudian dicampurkan ke dalam gel. Setelah formulasi nanohidrogel selesai, bahan tersebut diterapkan pada hewan model untuk menguji potensinya dalam mendukung penyembuhan luka,” ujarnya.
Menurutnya, sebelum dinilai efektivitas dan keamanannya, nanohidrogel perlu diuji lagi lewat beberapa pendekatan, yakni in vitro pada kultur sel, in vivo menggunakan model hewan, dan in silico guna memprediksi interaksi molekuler peptida kolagen dengan target biologis.
Penelitian tersebut dinilai masih berada pada tahap praklinis. Karena itu, nanohidrogel yang dikembangkan belum dapat digunakan secara langsung pada manusia maupun disebut sebagai terapi yang telah terbukti mencegah amputasi.
“Harapannya, penelitian ini dapat terus dikembangkan hingga memasuki rangkaian uji klinis pada manusia. Dengan demikian, nanohidrogel peptida kolagen sisik ikan nila ini berpeluang menjadi salah satu pembaruan dalam terapi untuk mengoptimalkan penyembuhan luka,” tukasnya.

