Begini Cara Efektif Mengatasi Rayap Tanah
Jagad Tani - Mengendalikan rayap bawah tanah, kurang efektif bila dilakukan pada satu titik serangan. Tentu perlu mempertimbangkan strategi, sebab satu koloni dapat membentuk beberapa sarang baru di bawah permukaan tanah yang dapat terhubung atau terpisah dari sarang utama.
Hal itu diungkapkan oleh Bramantyo Wikantyoso, Peneliti Pusat Riset Zoologi Terapan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), soal pentingnya memahami perilaku sosial rayap saat menentukan strategi pengendalian yang efektif. Sebab rayap bawah tanah, dapat memiliki lebih dari satu sarang.
Baca juga: Kandang Ayam Dingin, Gunakan Dua Kayu Ini
Selain sarang utama, terdapat satellite nest yang dapat menjadi tempat keberadaan individu reproduktif sekunder. Pemahaman ini, jelas Bramantyo, akan menentukan efektivitas dan rencana pengendalian dalam jangka menengah-panjang.
"Adanya perilaku burial dan secondary repellent pada rayap bawah tanah. Perilaku-perilaku tersebut dapat menyebabkan terbentuknya penghalang di dalam terowongan rayap tanah menuju ke area pengaplikasian termitisida," ujarnya dilansir dari BRIN, Sabtu (12/9).
Penggunaan termitisida yang membunuh rayap secara cepat berpotensi menyebabkan penumpukan bangkai pada area perimeter perlakuan dan memicu efek penolakan sekunder (secondary repellency).
“Karakteristik tanah bukan satu-satunya faktor yang menentukan pengelolaan populasi rayap. Perilaku rayap juga menjadi faktor penting,” terang Bramantyo.
Oleh karena itu, pemahaman terhadap spesies rayap yang menjadi sasaran pengendalian menjadi bagian penting dalam menentukan pendekatan yang tepat.
“Mengidentifikasi spesies rayap yang terlibat dalam pengelolaan populasi bukan sekadar persoalan taksonomi. Hal ini penting untuk memahami hama yang menjadi sasaran sebelum menentukan perlakuan,” ujarnya.
Selain itu dikatakan bahwa penggunaan termitisida sebagai metode pengendalian, perlu juga memperhatikan karakteristik tanah, guna menjaga keefektifan bahan pengendali dan meminimalkan risiko pencemaran lingkungan oleh bahan kimia melalui proses pelindian (leaching).
Menurutnya, sifat tanah bisa memengaruhi keberadaan dan keragaman rayap, khususnya kelompok rayap pemakan tanah. Perbedaan tekstur dan komposisi tanah juga dapat memengaruhi bagaimana bahan pengendali rayap bekerja di lingkungan.
“Setiap wilayah dapat memiliki permasalahan rayap yang sama, tetapi dengan karakteristik tanah yang berbeda. Karena itu, perlakuan pengendalian rayap juga perlu disesuaikan berdasarkan profil wilayahnya,” sambungnya.
Untuk tanah berpasir, kata Bramantyo, adalah tipe tanah yang memiliki porositas tinggi dan kemampuan menahan air yang rendah, sehingga bahan kimia lebih mudah mengalami pencucian.
Sementara itu, untuk jenis tanah liat, yang memiliki luas permukaan dan muatan negatif yang tinggi, membuatnya mampu mengikat bahan kimia lebih kuat dan mengurangi mobilitasnya.
Sedangkan untuk kandungan bahan organik, juga turut berpengaruh terhadap retensi, mobilitas, dan toksisitas bahan kimia di dalam tanah.
“Afinitas pengikatan termitisida dengan tanah menjadi salah satu hal penting untuk mencegah pencucian dan penguapan, sekaligus memperpanjang keberadaan bahan kimia di dalam tanah,” paparnya.
Sebagian besar termitisida yang terdaftar di Indonesia merupakan bahan kimia yang diaplikasikan pada tanah dan ditujukan untuk mengendalikan rayap bawah tanah, antara lain Coptotermes gestroi dan Coptotermes curvignathus.
Termitisida yang terdaftar, merupakan bahan-bahan yang digunakan pada kawasan perkotaan dan pertanian yang memiliki karakteristik tanah berbeda. Kondisi lingkungan perlu dipertimbangkan, termasuk wilayah rawan banjir. Sebab genangan air bisa memengaruhi keberadaan dan efektivitas termitisida di dalam tanah.
Dalam hasil kajian menunjukkan, bahwa bahan kimia dengan karakteristik tertentu memiliki kemampuan bertahan lebih baik setelah terpapar banjir. Sementara beberapa bahan lainnya lebih berpotensi mengalami pelindian.

