Harga Cabai Naik, Ini Strategi yang Diterapkan
Jagad Tani - Melakukan mobilisasi stok cabai rawit dari daerah yang surplus ke daerah defisit, bisa menjadi salah satu cara untuk menekan harga cabai, dan bisa diterapkan dengan berkolaborasi bersama para Champion Cabai.
Menurut Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas) I Gusti Ketut Astawa, upaya mengatasi fluktuasi harga cabai perlu diterapkan, termasuk menjalin koneksi agar program Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP) bisa dikirim ke daerah yang mengalami fluktuasi harga.
Baca juga: Kandang Ayam Dingin, Gunakan Dua Kayu Ini
"Untuk cabai rawit, berdasarkan informasi dari Kediri, saat ini terdapat dinamika harga dan pasokan yang perlu segera kita respons," ungkap Ketut sebagaimana dikutip dari Siaran Pers sabtu (12/9).
Pelibatan petani Champion Cabai dinilai memegang peranan penting dalam upaya menstabilkan harga cabai rawit. Lewat kolaborasi, pasokan cabai rawit dengan harga terjangkau yang diguyur ke daerah berfluktuasi, dapat menjadi faktor penekan harga.
"Misalkan di daerah di luar Jawa yang harganya relatif masih terjangkau, sehingga kita bisa FDP ke wilayah-wilayah yang harganya tinggi. Kita undang kembali para petani champion kita untuk membantu distribusikan ke wilayah-wilayah yang harganya relatif tinggi," lanjut Ketut.
Dalam laporan Bapanas, FDP cabai rawit yang terlaksana pada triwulan pertama 2026, mencapai 5.590 kilogram (kg). Terdiri dari mobilisasi stok cabai rawit dari Enrekang, Sulawesi Selatan ke Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta sebesar 3.150 kg. Kemudian ke Lombok Tengah serta Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat masing-masing 1.140 kg dan 1.300 kg.
Melalui rapat koordinasi Bapanas bersama petani cabai (26/8) lalu, terungkap beberapa faktor penyebab fluktuasi harga cabai rawit, di antaranya karena kemarau berkepanjangan, Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) seperti trips dan kutu kebul hingga adanya alih tanam ke komoditas lain.
Meski demikian, upaya yang dilakukan di sektor hulu diyakini bisa mengatasi berbagai tantangan. Bahkan Sudi Mardianto, selaku Direktur Sayuran dan Tanaman Obat (STO) Kementan memastikan produksi cabai rawit secara nasional masih aman sampai akhir tahun.
"Untuk cabai rawit secara nasional itu produksinya di bulan September itu sekitar 119 ribu ton. Di Jawa Timur itu Banyuwangi standing crop yang ada sekarang sekitar 1.486 hektare. Kemudian di Sampang itu ada 1.691 hektare. Itu produksinya sudah mulai tinggi sekitar 5 ribuan," ucapnya.
"Kemudian untuk di daerah Jawa masih terpusat di Temanggung, Brebes, dan Magelang. Produksinya walaupun masih relatif rendah karena mungkin baru sebagian besar tanam, tapi nanti itu dapat mengatasi potensi adanya kenaikan menjelang hari Natal dan Tahun Baru," sambung Sudi.
Sudi juga mengatakan petani cabai rawit binaan Kementan siap mendukung program penstabilan harga pemerintah. Program FDP dapat segera dilaksanakan bersama-sama untuk mengguyur daerah yang mengalami harga cabai rawit yang berfluktuasi tinggi.
"Nah seandainya nanti ada program pemerintah untuk dapat melakukan distribusi ke wilayah-wilayah yang membutuhkan, artinya dari produksi yang ada. Mereka sudah bersiap untuk dapat membantu mengendalikan daerah-daerah yang harga cabai rawitnya tinggi. Mereka prinsipnya sudah siap untuk dapat membantu mensuplai daerah-daerah yang harganya cukup tinggi," ucap Sudi.
Adapun dalam pantauan harga cabai rawit oleh Bapanas, per 10 September rerata harga secara nasional telah mencapai Rp 81.052 per kg. Provinsi yang tercatat dengan rerata harga tertinggi adalah Sulawesi Utara dengan Rp 152.872 per kg. Sementara provinsi dengan rerata harga paling rendah ada di Nusa Tenggara Timur dengan Rp 56.604 per kg.

