Gen-Z Bisa Menjadi Penggerak Persoalan Sisa Pangan
Jagad Tani - Generasi Z (Gen-Z) tentu harus mengambil peranan dalam mengkampanyekan, menggerakan komunitas, hingga penelitian dan inovasi tentang kepedulian terhadap persoalan sisa pangan, agar sistem pangan Indonesia semakin berkelanjutan.
Menurut Direktur Kewaspadaan Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas) Nita Yulianis, energi dan kreativitas Gen-Z jadi kekuatan penting dalam memperluas upaya penyelamatan pangan, dan dinilai dapat memperkuat kolaborasi serta mendorong perubahan dari lingkungan terdekat.
Baca juga: Ikan Pembersih di Pasar Sawo Selain Sapu-Sapu
"Generasi muda dapat memulai upaya penyelamatan pangan mulai dari melakukan perubahan perilaku diri sendiri, meningkatkan kesadaran melalui kampanye kekinian, dan berkolaborasi aktif dengan komunitas” ungkap Nita dalam keterangan resmi dikutip Sabtu (5/9).
Bahkan melalui Koalisi Sistem Pangan Lestari (KSPL) bisa terselenggara Gen-Z for Sustainable Food Systems (GSFS) 2026 yang merupakan wadah anak untuk muda menuangkan idenya dalam menjawab persoalan sisa pangan di Indonesia.
Nita melanjutkan, pengurangan sisa pangan membutuhkan keterlibatan berbagai pihak dalam sistem pangan. Mulai dari pelaku usaha, industri, hingga konsumen memiliki ruang untuk berkontribusi sesuai kapasitas masing-masing agar perubahan bisa dibangun secara bersama-sama.
Selain melalui edukasi dan komunikasi, ruang partisipasi generasi muda juga dibangun melalui kegiatan kreatif. Nita melihat, kekuatan Gen-Z tidak hanya terletak pada gagasan, tetapi juga pada aksi nyata yang bisa dilakukan di kehidupan sehari-hari.
Sementara itu, Angelique Dewi, yang merupakan Head of Sustainability di PT Nutrifood Indonesia menilai, pengetahuan generasi muda mengenai persoalan pangan akan semakin bermakna ketika diwujudkan dalam aksi yang memberikan dampak bagi lingkungan sekitar.
“Peran generasi muda jangan berhenti pada pemahaman persoalan pangan saja tetapi harus membawa dampak lingkungan sekitar kalian”, tukas Angelique.
Tentunya ruang Gen-Z untuk meningkatkan kapasitas dan mengembangkan gagasan mengenai transformasi sistem pangan Indonesia yang berkelanjutan, khususnya dalam meminimalkan susut dan sisa pangan, bisa semakin memperkuat Gerakan Selamatkan Pangan dan mendorong perubahan kebiasaan pangan di masyarakat.

