Lapas Terbuka Kelas IIB Kendal Produksi Tepung Pakan
Jagad Tani - Melalui pengolahan hasil pertanian mandiri pada program ketahanan pangan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Terbuka Kelas IIB Kendal, hasil panen jagung bukan cuma dipasarkan, tapi juga diolah jadi tepung untuk kebutuhan pakan ternak di lingkungan Lapas.
Proses pengolahan jagung tersebut dilakukan mulai dari pemipilan, pengeringan, hingga penepungan menggunakan mesin penggiling jagung. Lalu diolah jadi tepung, dan dimanfaatkan sebagai salah satu bahan baku pembuatan pakan fermentasi untuk ayam KUB.
Baca juga: Produksi Kopi Nasional Hadapi Potensi Musim Kering
Menurut Kepala Lapas Terbuka Kendal, Nu’man Fauzi, dalam proses pembuatan pakan fermentasi, tepung jagung dipadukan dengan bahan baku lainnya, seperti dedak padi, azolla, dan ampas tahu.
Pemanfaatan berbagai bahan tersebut dinilai menjadi bagian dari upaya Lapas untuk membangun sistem pertanian dan peternakan yang mandiri, efisien, dan saling terintegrasi, dengan mengoptimalkan potensi yang dimiliki.
“Pengolahan jagung secara mandiri ini merupakan bentuk inovasi yang terus kami kembangkan. Kami tidak hanya berorientasi pada hasil panen, tetapi juga bagaimana hasil tersebut dapat diolah kembali menjadi produk yang memiliki manfaat lebih besar," ujar Nu’man dalam siaran pers, Senin (31/8).
Dilanjutkan bahwa dengan sistem ini, pertanian dan peternakan dapat saling mendukung dalam satu ekosistem yang terintegrasi, dan berkelanjutan.
Sementara itu, Ayom Winahyu selaku Penanggung Jawab Kegiatan, menjelaskan, fasilitas penepungan jagung secara mandiri membantu memenuhi kebutuhan pakan ternak di Lapas Terbuka Kendal.
"Jagung hasil panen dapat langsung kami olah sendiri menjadi tepung dan digunakan sebagai bahan pakan fermentasi untuk ayam KUB. Ini tentu membuat proses produksi pakan menjadi lebih mandiri dan efisien," jelasnya.
Melalui inovasi tersebut, Lapas Terbuka Kendal selain meningkatkan nilai tambah hasil panen, pengolahan jagung secara mandiri juga jadi langkah mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku dari luar serta memperkuat kemandirian program ketahanan pangan.
“Dengan adanya proses penepungan jagung secara mandiri, kami sekarang tidak perlu lagi membeli tepung jagung dari luar,” pungkas Ayom Winahyu.

