• 24 August 2026

Waspadai Zoonosis Pascabencana dengan Pendekatan One Health

uploads/news/2026/08/waspadai-zoonosis-pascabencana-dengan-64493891575d77f.jpeg

Jagad Tani - Perubahan lingkungan, gangguan sanitasi, terbentuknya habitat vektor (organisme pembawa penyakit), serta meningkatnya interaksi manusia, hewan, dan lingkungan menjadi faktor yang perlu diantisipasi sejak dini, terutama pascabencana, melalui penerapan pendekatan One Health.

Menurut Suwito, Ketua Umum Perkumpulan Entomologi Kesehatan Indonesia (PEKI), kondisi bencana dan pascabencana dapat memicu peningkatan populasi lalat, nyamuk, dan tikus, terutama di wilayah pengungsian, dan berpotensi meningkatkan risiko berbagai penyakit.

Baca juga: Taman Nasional Way Kambas Kebakaran, Gajah Aman

Ia pun mencontohkan bahwa pengendalian vektor secara preventif di kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN) yang menurutnya berkontribusi terhadap pengendalian malaria di kawasan inti pusat pemerintahan.

“Strategi mitigasi terpadu One Health untuk menghadapi bencana dan zoonosis (penyakit menular dari hewan ke manusia) ini merupakan bagian penting yang perlu kita persiapkan karena potensi untuk bencana maupun wabah di Indonesia juga relatif besar,” ungkap Suwito dilansir dari BRIN, Senin (24/8).

Sementara itu, Wahyu Pudji Nugraheni, Kepala Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menilai ancaman penyakit tular vektor dan zoonosis tak bisa dilepaskan dari perubahan iklim, perubahan lingkungan, mobilitas penduduk, serta kejadian bencana.

“Kesehatan manusia tidak dapat dipisahkan dari kesehatan hewan dan lingkungan. Sehingga pencegahan dan pengendalian penyakit membutuhkan surveillance, riset, kesiapsiagaan, dan kolaborasi lintas sektor,” jelas Wahyu.

Penyediaan basis pengetahuan dan riset dinilai berguna untuk mendukung kesiapsiagaan kesehatan masyarakat. Sebab hasil penelitian harusnya tidak berhenti pada publikasi, tetapi menjadi dasar penguatan surveilans, mitigasi, dan respons terhadap ancaman penyakit.

Bahkan Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi BRIN, Ristiyanto, melalui pemaparannya yang berjudul “Peran Studi Dinamika Penularan PTVZ sebagai Kewaspadaan Dini Wabah Penyakit Infeksi Pasca Bencana Alam” turut memberikan penjabaran soal ini.

Menurut Ristiyanto, studi dinamika penularan dinilai penting untuk memahami perubahan risiko penyakit setelah bencana, karena gangguan sanitasi, perubahan lingkungan, munculnya habitat vektor, dan meningkatnya interaksi manusia, hewan, serta lingkungan bisa menciptakan kondisi yang mendukung penyebaran penyakit.

"Dengan mengandalkan data dan riset, potensi risiko dapat diidentifikasi lebih awal sehingga langkah mitigasi dapat dilakukan secara lebih tepat, bukan sekadar menunggu hingga kasus penyakit meningkat," terangnya.

Penerapan One Health ini membutuhkan integrasi antara kesehatan manusia, kesehatan hewan, dan kesehatan lingkungan. Sehingga riset memiliki posisi penting dalam membangun kesiapsiagaan menghadapi ancaman penyakit pascabencana.

Tentunya hasil riset dan inovasi diharapkan bisa berkontribusi pada penguatan surveilans terpadu, kesiapsiagaan bencana, serta pencegahan dan pengendalian penyakit tular vektor dan zoonosis di Indonesia.

Related News